Saturday, March 30, 2019
Chapter IV - Kembali ke Kotaku
Sunday, February 24, 2019
Jakarta
Jakarta hanya akan jadi Jakarta, hiruk pikuknya begitu terasa menyebalkan tapi juga kurindukan. Kota yang jarang kuceritakan namun aku begitu ingin kembali padanya. Sekalipun selalu kusebutkan aku jengah bersama penuh polusinyanya, namun sesekali aku ingin kembali pulang, mengulang tanpa rasa bosan.
Jakarta akan terus jadi Jakarta, akan terus terdiam hari tanpa tertidur sedetikpun melihat sesaknya. Jakarta juga yang jadi saksi rindu dimana kita tak pernah bertemu sekalipun berdekatan. Mungkin tak sekarang, tapi di lain kesempatan. Mungkin nanti ketika kita bisa dengan leluasa bercanda tawa cerita masa muda yang penuh kebodohan. Mungkin juga, di kota lainnya.
Ya, bila waktu itu kita tak harus kembali melalui Jakarta, kita bisa saja masih bersama.
--
Tuesday, February 12, 2019
Kita memutuskan untuk saling berkenalan lagi. Anggap ini adalah pertemuan pertama dimana kita hapus semua apa yang terjadi lalu. Selamat datang kembali. :)
Ps. Membiarkan kupu-kupu beterbangan di perutku, aku main api..
Thursday, February 7, 2019
Bicaraku di sudut langit
Mungkin kamu masih tenggelam dalam duniamu, terlihat asik mencari ntah apa yang kutak mengerti. Aku disini hanya mematung sembari memandangi gambar bergerak dimana ada aku kamu, membayangkan sembari mengagumi lekuk juga indah dirimu.
Aku tahu kamu sedang lelah hadapi dunia
Namun seringkali dunia tidak berjalan sesuai dengan rencana memang. Bahkan, ada sesuatu yang buatku harus terus menahan dan bersabar, bukan jadi aku yang dulu.
Sementara kamu rindukan masa begadang hingga pagi karena pekerjaan, aku merindukan rasanya bisa pulang dalam dekapan, diperhatikan dan diberi waktu. Kita memang lucu.
Kita berbeda, karena aku kamu tumbuh dalam ekosistem dan suasana yang berbeda pula.
Kita betul-betul sadar kita tak saling kenal, karena ketidaksengajaan yang disengaja sajalah yang buatku denganmu kini.
Tapi menyenangkan bukan?
Aku bukanlah aku yang biasa diam menunggu, tapi entahlah, kali ini aku hanya ingin tahu dimana batas kesabaranku terhadapmu. Batas yang sudah kubulatkan akan selalu kutambah kapasitasnya. Mengapa? Sudah jelas agar kamu merasa nyaman dengan aku.
Rindu ini membuncah sekalipun mungkin tak sampai padamu. Dada ini sesak karena penuh akan asa rasa yang mungkin tak terasa olehmu.
Di sudut langit malam ini, kutitip rindu untuk kau ambil esok pagi.
Selamat beristirahat dengan sisa kecup yang tak kau sadari kuberi, saat engkau pergi terlelap tadi.
Selamat malam menjelang pagi, Matahari.
--
J
Tuesday, February 5, 2019
Teruntuk kamu yang pergi terlebih dahulu.
Sunday, February 3, 2019
2 Februari 2019
Aku menulis ini harusnya tanggal 1 yang baru terpikirkan tanggal 2 namun baru kutulis di penghujung tanggal 3 bulan dua tahun dua ribu sembilan belas.
Februari selalu membawa bahagia. Terima kasih masih sudi bertemu lagi tahun ini.
Mendua, mendewasa..
Bersama (?)
Biar Tuhan yang memberi jalan. Karena manusia terlalu pendek akal yg dipunya.
Terima kasih. :)
Friday, January 25, 2019
Februari
Thursday, January 17, 2019
Wednesday, January 9, 2019
Monday, December 31, 2018
Gelar
Lalu akan kau apakan gelarmu yang panjang itu? Akan kau banggakan? Sementara baktimu pada negeri hanyalah pada mereka orang kelas satu. Pada mereka yang dungu? Atau pada yang tak tahu tapi ingin maju?
Ah, Gelar. Gelarku.
Aku malu. Berkacak pinggang, mengangkat dagu. Merasa aku yang paling tahu, padahal ilmu sejumputpun aku masih ragu.
Cari lagi ilmu, tambah pengalamanmu.
Karena gelar tak lebih dari sekedar bubuhan tanda tangan pada cetakan sertifikat yang diberi setelahnya lalu.
Lalu bagaimana kau pertanggungjawabkan gelarmu?
Monday, November 26, 2018
Nesis (lagi) ?
| Sedikit aja, kalo kebanyakan kasihtaunya jadi ga valid! Wk. Img src: dokumentasi pribadi |
Elah, gitu doang..
IYA!! GITU DOANG!!
Jadi memang sih tiap balik kantor ya urusannya sama penelitian lagi. Serunya disana penelitiannya itu kita dibayar gitu tjuy. Lebih seru lagi karena disana buat sharing sama propesornya juga harus bener2 sambil ngerekam terus didengerin ulang di rumah. Wahaha. Kenapa mesti didengerin ulang di rumah? Karena gue kadang miss buat ngerti apa yang propesor gue maksud. anw, propesor awak panggilannya kristin, cewee tjuy, dan taulah dimana2 paling sulit dimengerti ya makhluk bernama wanita yekan.
Wanitanya aja sulit dimengerti, ini ditambah urusan bakteri dan penyakit! Udahlah kelar!
Tapi berkat usaha, doa, kerja keras, dan keberuntungan plus kekecean eug, akhirnya tuh tesis kelar juga! Hahaha. Gue kangen nesis sambil setengah sadar di sepertiga malam menuju pagi. Nesis sambil skype ngangkat gelas beda negara, atau sekedar jalan ke rumah berkilo meter karena ketinggalan bus di tengah malam yang sunyi?
Hahah.
Udah ah, ini posisi stress karena banyak variabel yang harus dikerjain. Ditambah kesokidealisan gue yang pengennya perfect semuanya. Gapapad deh. Anggep anggep aja nesis ulang.
Hari ini deadline, dan masih ada dua poin lagi yang harus dibahas. Semangat ya tjuy!
Buat yang lagi nesis, semangat ya! Percayalah, tesis akan kelar apapun yang terjadi. entah kelar karena lu selesai, atau kelar karena lu diselesaikan oleh tesis. Wahahaha.
--
"Dikit lagi, Cip."
Sunday, November 25, 2018
November 2018
Wednesday, November 14, 2018
dua meter persegi
Tempat aku damai dan lepas penat. Bukan pada sembarang tempat.
Hariku kini banyak habis termakan.
Aku rindu padamu.
dan padamu..
Rintik di luar terus berkejaran, sementara musik berputar, delapan dimensi.
Ingat terakhir kita menikmati hujan?
Kau genggam rapat, segera keluarkan payung agar kita tak basah.
'Tak usah.', Sergahku seraya tersenyum.
Biar, biarlah dingin dan hujan ini berhenti abadi di memori.
Biar ia ada disana tanpa terganggu, biar saja.
Toh, terbukti, aku bisa menikmatimu dan hujan kala itu, kapanpun kumau.
--
Di sudut Uni, tempat kita pernah merasa saling.
Saturday, September 29, 2018
Berjuang memperjuangkan
Pada hidup, tiap pribadi akan memperjuangkan sejarahnya masing-masing.
Akan jadi yang dikenang atau sekedar angin lalu.
Ada yang berjuang dengan uang, ada yang berjuang dengan ilmu, juga lainnya. Ada yang berjuang untuk uang, ada yang berjuang untuk ilmu, juga lainnya.
Bagiku, apapun yang kamu perjuangkan, itu hebat! Sekalipun nanti kamu akan bertemu dengan tembok tinggi dan batu tajam yang akan membentur atau membuatmu berdarah-darah.
Tapi jangan berhenti memperjuangkan perjuangannya. Karena, dari sana kamu akan tahu, suatu bahkan berjuang akan lebih berharga dibanding mencari keberhargaan..
--
Saturday, September 22, 2018
Wednesday, September 19, 2018
List hari
Akhir-akhir ini banyak kejadian yang bikin gue berpikir lebih jauh. Karena selalu ada hikmah dari setiap kejadian kan? Ada beberapa kejadian yang menuntut gue untuk nurunin standar yang gue punya. Tapi gapapa, di satu tempat standar gue turun karena memang spesifikasinya beda, tapi di tempat lainnya acuan gue tetep sama.
Selain standar, dalam hidup kita harus memilih proses mana yang akan kita tekuni untuk menjadi suatu sosok yang kita mau.
Ah, udah jam 7, di list gue harus udah kerjain yang lain lagi.
Bye
--
Ps. Ngelist kerjaan harian lama banget ga gue lakuin.