Monday, May 10, 2021

Untuk bangkit sekali lagi

 Ya, akhirnya ketidaksemangatan akan menggerogoti para lemah dengan berbagai alasan untuk bangkit sekali lagi.

Tidak mudah memang untuk bangkit berkali-kali kala keterpurukan tak kunjung berhenti. 

Tapi apalah artinya sakit bila tidak ada harapan sembuh: Menuju mati.


Aku bukan pejuang dengan kawanan. 

Lebih baik berteman sepi dan berkawan lara namun selalu punya alasan untuk bangkit sekali lagi. 


Bukan berarti aku harus tak bersahabat dengan yang mengelilingi.

Hanya aku tak mau berasa tinggi sementara mega menuju mendung atau cerah tak pernah terprediksi.


Terbaik adalah menyiapkan rencana terbaik untuk masa yang sulit. 

Sekalipun telah berdedikasi, desing peluru menuju jantung tak henti-henti.


Aku hanya punya diri dan mimpi.


--

Monday, April 12, 2021

 Buka-buka steam lagi, terus liat-liat storenya.


Jadi pengen beli game lagi..


Lalu kepikiran, "Kapan mainnya tar, Cip?"


Terus nutup windownya.


Gajadi beli..

--

Tuesday, December 29, 2020

Aku pernah bermimpi: Menjadi seorang Profesor. Salah satu mimpi yang begitu kudamba kala masih menjadi seorang idealis bernama mahasiswa.

Menjadi seorang sabar mungkin memang bukanlah gayaku. Terutama bila harus terus bersinggungan dengan ekslusivitas dan hal yang begitu administratif. Keinginanku untuk mengajar kuat memang, tapi aku mundur bila terus didera rutinitas tanpa didukung oleh lingkungan yang baik. Iya, aku pecundang memang. Tapi keberpecundanganku bawa positif dengan apa yang kumiliki hari ini. Itulah hidup, ya?

Pernah kuberpikir bahwa kami adalah kumpulan orang pintar dengan kegiatan kosong. Kegiatan berujung pada gosip-gosip obrolan rumah bawa ke kantor. Ya aku tahu akan banyak yang mengecam dengan opini tersebut. Karena berangkat ke kampus untuk sekedar menggugur kewajiban dan menunggu pulang bagi sebagian kami bukanlah hal yang aneh lagi. Tapi di beberapa institusi, hal tersebut adalah hal lumrah dan merupakan rahasia umum.

Tidak, tak semua dari kami demikian, ada yang betul-betul beri sumbangsih tanpa mengharap apapun kecuali murid menjadi lebih baik. Menyedekah ilmu tanpa berpikir pamrih. Mereka kuanggap orang hebat sekalipun banyak hal buruk memecut orang-orang baik ini. Beberapa adalah role model untuk kuambil kebaikan dan landasan perjalanan hidup. Dan memang, orang baik akan selalu mendapat ujian yang lebih berat. Seperti kebanyakan mereka. Ada kala hatiku hancur, ketika kulihat kolega dekat menangis karena hal administratif atau yang cerita sesepele, 'orang baik tak ikut gerbong hanya akan dibuang'.

Begitulah kami, banyak hal tak terceritakan karena citra memang hal penting yang harus dijaga.

Mendapat gelar profesor mungkin bukan jalanku. Namun aku telah belajar banyak dari mereka, para profesor ilmu dengan atau tanpa gelar yang tersemat di nama meraka. Mereka yang tak berpamrih dan turut mengukir sosokku hari ini. 

Selamat pada seorang guru dan pengayomku di sebuah institusi yang besok akan dikukuhkan gelar Guru Besar di depan namanya.

Ah, nyatanya sekalipun terus merundung, aku rindu suasana teduh saintifik itu.

--

Di sebuah kios ikan yang baru terbangun kemarin

Wednesday, December 9, 2020

Besok ah! Harus bisa ganti nomor! Wk

Seharusnya

Harusnya semudah itu membuang yang sudah lalu. 

Semudah meletakkan pembungkus hadiah yang tak lagi berguna ke kotak sampah.
Semudah membuang baju dan celana yang sudah robek dan bolong sana sini.
Semudah mengganti ponsel tua usang dengan yang lebih baik.
Ya, semudah itu.

Nyatanya tidak bagiku, seorang melankoli. 
Lebih baik menyimpan kembali pembungkus kado siapa tahu tergunakan untuk nanti.
Tetap mengguna baju yang bahkan terlihat bagai dress yang hanya kupakai kala tidur.
Dan masih saja menyimpan segala elektronik yang tak lagi menyala.

Ya, seberat itu.. 
--

Thursday, November 5, 2020

Apatis

Beberapa media sosial saya tutup beberapa minggu lalu dari laman pintar saya. Bukan deaktivasi, hanya sekedar menghilangkan dari ponsel saja.


Hasilnya? Menyenangkan. Saya tidak harus buka instagram atau twitter untuk mengisi waktu kosong. Saya jadi lebih banyak gunakan waktu luang saya bersama Mbak Kenyo dan/atau mengisi dengan menghubungi beberapa kontak lama. Bila butuh hiburan? 9gag selalu jadi pilihan saya sejak satu dekade lalu. Hehe. Untuk menulis? Selalu ada ciptaweje dan cwjati yang siap ditumpahkan rasa selain mulut dan telinga.


Ternyata mengurangi hubungan dengan dunia luar bisa buat lebih fokus dengan apa yang sedang dikejar. Serta mensyukuri apa yang menjadi 'present' di hidup ini. 


Bukan tidak mungkin saya akan menyambangi kembali dua aplikasi yang dulu banyak menyita waktu saya sekedar untuk mengikuti perkembangan hidup mereka yang saya ikuti. Itu biarlah nanti. Sekarang biarlah saya tenggelam dengan nikmatnya hadiah hari ini serta karunia persaudaraan dan persahabatan pada circle yang jauh lebih kecil.


Terima kasih.

--

Thursday, September 24, 2020

 Saya penyuka senja. Begitu mengagumkan bisa melihat langit yang saya selalu kenal berwarna biru atau hitam beri warna jingga begitu memesona. 

Seperti langit, kita sering kali beri warna umum untuk orang tahu. Namun selalu ada warna kelabu bahkan kelam yang tidak selalu orang suka. Beberapa mungkin akan bisa nikmatimu dengan warna hitam itu, tapi beberapa yang lain memilih untuk tidak hiraukanmu. 

Namun senja selalu beri warna haru, ketika akan berpisah dengan warna menyenangkan. Seperti beri tanda bahwa ia akan pergi, sementara.

Yang tidak pernah kita tahu, kapan kita bisa bertemu lagi dengan senja seindah itu. 

Karenanya, tiap tiap senja selalu spesial bagi saya, karena tidak selalu saya bisa nikmati dengan penuh kekaguman dan tenggelam dalam pikiran.

Thursday, September 10, 2020

 TAMPILAN BARU! SUKA! WK!

LAMA BANGET GA BUKA BLOG DAN TERNYATA SUDAH BERUBAH!!

MOODNYA LANGSUNG ENA WKWKKWW

Monday, July 27, 2020

Mengena asaku dulu.

Beberapa baris kata kutemukan tak sengaja berserak di salah satu laci usang masa kecilku.

Segala rahasia banyak kugembok disana. Mulai dari pengalaman lucu, puisi pertamaku kala SD dan kubacakan di depan kelas untuk tugas mata pelajaran bahasa indonesia yang kini sudah tak terbaca, beberapa kenang-kenangan dari beberapa teman, hingga kado ulang tahun yang baru kusadari ternyata aku punya pengagum ketika aku SMA! Haha.

Begitu menyenangkan bisa mengalirkan banyak kata dan menumpah segala isi kepala tanpa khawatir akan ada yang mencibir atau menyungging sinis sebab statusku yang tak jelas kini. Aku begitu bebas mengutarakan apa yang kumau dengan begitu egoisnya. Aku tak pernah takut mengena apa yang akan menimpa setelahnya. Bahkan, kurasa aku tak punya hati hingga tahun lalu. Egois dan bertemperamen tinggi kuyakin adalah dua sifat pas yang begitu lekat dengan sosokku.

Ada satu mimpi yang begitu jarang tercerita selama ini.

Bahwa aku ingin jadi seorang penulis. :)

Sebuah asa yang begitu menyenangkan bagiku. Dimana aku bisa menggores pena sesuka hati, menumpahkan segala buah pikir dan rasa untuk dialirkan sesuai dunia yang kubuat sendiri. Begitu banyak yang ingin kusampaikan namun begitu kusut dan butuh untuk diurai.

Aku merasa mampu untuk menggambarkan banyak dan memberi deskripsi dengan begitu detail mengenai banyak hal.

Bahkan beberapa pembaca abu-abuku kerap menanyakan dimana diriku kini. Coretan di kertas buram yang sering kulempar begitu saja menuju tong begitu sayang kuakui.

Begitu besar keinginan untuk lakukan dan merealisasi. Terlambatkah?

Sekalipun tidak, ada satu namun yang mengganjal tiap kali aku coba goreskan tinta pada tiap kanvas pikirku. Aku tak lagi sepercaya diri dulu..

--

Sunday, July 26, 2020

8kg!

Akhir bulan lalu gue coba kembali mengurangi berat tubuh agar terlihat lebih proporsional dan ketika jadi sorotan ga selalu perut gue yang disorot. Wk.

Sebulan berlalu..

Dan akhirnya turun 8kg! wkwk. Ini sedikit banget sih! Dulu biasanya pas diet-dietan gini, 15 kilo sebulan itu biasa banget. Kalau sekarang terlalu banyak excuse juga kasih kesempatan badan buat ga cape kali ya(?) hahah.

Biarlah, yang penting daku senang dengan posisi badan yang tidak terlalu gembung ini. 20kgs to go, Cipt.

--
I love myself kalo kata orang-orang mah.
J

Thursday, July 2, 2020

Tau rasanya udah nulis panjang2 ternyata ga ke save?
iya, barusan ngerasain itu..

Sunday, June 21, 2020

Masih teratur dan bisa kubuka kapanpun bersama pengabadi suasana.

Sebuah foto yang dikirim oleh seorang sahabat kala suka duka. sahabat yang menyebalkan dan selalu siap mendengar cerita. Kini kami sudah mendewasa ternyata, bersama segala kesibukan dunia, kesibukan mengisi hari dan kebutuhan. Tapi cerita kebodohan yang telah terbuat selalu asik dijadikan bahan tawa kala jumpa.

Dia mengirimkanku ini.



Di tengah kantuk aku merasa pilu.
Masih dengan aku.
Dan semua semangat di masa mudaku.

Kacamata hijau yang selalu kubangga karena menyisa cerita di suatu pesta.
Baju v-neck yang kalau kupakai disini pasti buat dicerca.
Celana yang kubeli bersama seorang pebasket Nantes yang kebetulan satu kota.
Sepatu yang hilang di masjid kala aku kerja.
Topi yang tertinggal di bus bandara.
Tas yang menjamur karena tak terawat.
Serta cardigan abu-abu di suatu tempat di Jakarta.

Aku yakin salah satu kebahagiaanku kala itu adalah karena beratku tak menyentuh 80 kilogram kurasa.

Indah dan masih tersimpan rapi. Bersama segala memori yang menguak tak tertahan. Sekecil ingin lagi melihat indahnya biru langit di Eropa.

Menua itu menyebalkan kata mereka di sekelilingku.
Tapi tidak bagiku.
Karena memori selalu hidup bersamaku.

--
Jati

Saturday, June 6, 2020

Memuja Gelar

Barusan suatu grup alumni lulusan luar negeri ramai. Ramai yang tiba-tiba. Menyoal seorang rekan yang menikah tanpa memasukkan gelar akademik yang diterima dari sebuah universitas ternama di sebrang benua.

- ada yang setuju
- ada yang tidak setuju
- ada yang tidak peduli

Terlepas setuju tak setuju, bagi saya pencantuman gelar akademik bukan sebuah masalah. Pride? Bisa jadi. Aktualisasi? Boleh saja. Saat ini, bagi saya tidak penting. Tidak tahu besok ya. Ehehe.

Terserah, tiap pihak boleh berpendapat. Yang tidak berpendapat juga tidak masalah. Saya kala ini di golongan yang ketiga soalnya. Mau diberi atau tidak ya tidak masalah. Itu informasi kok. Mau diterima bagus, engga ya gapapa. Ga dicantumkan? Ya bukan sebuah masalah juga.

Karena semakin menua, saya semakin sadar. Bermasyarakat bahkan bernegara seringkali tidak memerlukan gelar untuk memilii suatu kualitas. Ada yang sudah bergelar doktoral di usia muda, tapi ketika terjun ke lapang masih harus belajar. Ada yang tidak memiliki gelar di bidang tertentu tapi nyatanya ahli di bidangnya. Gelar itu untuk menunjukkan ahli di bidang tertentu, capaian tertentu. Tapi menyoal kualitas? Tergantung batu asahan yang dipakai sepanjang perjalanan nafas ditarik-hembus.

Saya? Saya mencantumkan gelar. Hehe.

Hidup itu pembelajaran.

--
Preference. Gausah diributin. 
Tapi kalau prefer ribut? Ya silahkeun...

Friday, June 5, 2020

Ring 1

- Oh udah berubah haluan?

Pantes aja sulit banget dicari. -

-

Eh iya, seorang pejabat dua hari yang lalu nelpon gue. Nanyain kabar dan gimana kesibukan sekarang.

Iya, gue juga aga heran dengan telpon yang masuk di jam 22.23 itu. Tapi ya namanya pejabat, kerja mulu sik. Jadi ya diantara Mbak Aisyah bobo (yang selalu) unyu, gue buru-buru ke luar kamar buat angkat.

'Assalamualaykum, Pak.' Gue memulai pembicaraan.

'Waalaykumsalam, Pak Jati. Wah sudah lama sekali saya tidak menelpon, kira-kira mengganggu kah?' Pertanyaan dari ujung sana yang jelas ga akan gue balas dengan jawaban 'Iya, Pak.'.

'Oh tidak pak, kebetulan ini baru selesai pekerjaan, lagi nonton TV.', Jawabku.

Pembicaraan berlanjut dengan bertanya kabar dan kesibukan. Singkat cerita beliau menanyakan mengena bisnis yang gue jalankan dan kondisi lapangan di Lampung. Ternyata beberapa pejabat melirik Lampung untuk lahan bisnis yang oke. Tapi (saat ini) mereka belum punya PIC.

Kok mereka tidak turun sendiri? Yah, orang lingkar dalam yang sibuk meng-Indonesia seperti mereka bukan tipe merintis dan memastikan usaha berkembang. Lebih mudah bagi mereka untuk memercayakan pada yang dipercaya. Dan kali ini, gue dikasih penawaran yang sulit gue tolak.

Singkat cerita, dalam waktu dekat kalau tidak berkesibukan, gue akan diundang ke Jakarta. Otomatis gue ragu bisa berangkat apa engga karena memang Covid19 ini bikin ga leluasa bergerak. Guepun bertanya, 'Lah kalo gapunya SIKM apa saya bisa ke Jakarta, Pak?' Tanya gue polos.

'Lho, kalau pejabat negara kan boleh, Pak? Hehe.' Balas enteng suara di seberang sana.

Seketika gue nyengir.

--

Monday, June 1, 2020

Halo, Yes.

Halo, Yes.
Apakabar kembali?

Surat ini kubuat karena baru saja kudengar sajak dari seorang teman untukmu.
Yang aku pun tak tahu, kamu akan mendengar atau tidak.

Aku tak kenal sosokmu, tapi aku tahu rasanya jatuh dan goyah untuk berdiri.
Kontak pertemamu dengannya yang begitu buat berbunga.

--

Sunday, May 31, 2020

Segera Juni

Juni, segeralah bertemu.

Aku tak sabar lagi, menunggu kejutan apalagi yang akan kudapat selanjutnya.
Karena biasanya, setelah aku berencana, akan ada hal-hal seru yang kudapat tak lama..

--
Mei, aku padamu.

Friday, May 29, 2020

At the risk of sounding too old, i do miss the feeling of being sixteen. The world was yours, the real world hadn't hit you yet, hanging out with you friends was everything.

--
Chelsea Cutler - Sixteen

Thursday, May 28, 2020

Posisi atas selalu menggiurkan, dan buat halu.

Sering buat tidak siap ketika di bawah, terlalu yakin semua akan berlalu dengan aman saja.
Sementara jatuh selalu mengintai.

Besok aku ingin ke luar, cari ramai, cari sesuatu untuk dilaku.
Tak hanya berbaring malas dengan jendela tertutup.

Dari dunia.

--