Monday, July 31, 2017
Friday, June 30, 2017
Monday, June 26, 2017
Friday, June 23, 2017
Salah
Salah, gue tau ada yang salah sama hidup gue akhir-akhir ini. Gue sadar karena makin banyak yang ingetin gue, makin banyak yang protes. Gue tau ada yang gue sembunyiin beberapa tahun terakhir. Tapi apa?
Masih aja, gue yakin ada yang ga bener. Cuma dua, kalo ga otak berarti rasa gue yang salah.
Nantilah, gue harus mulai nulis yang aga bener lagi. Yang ga melulu itu aja. Yang ga boong. Lagian, jujur ga mesti telanjang, kan?
Solat dulu, nanti abis jumatan lanjut lagi. Tidurnya.
--
Menjauh
Detik, menit, jam, berlomba, berlari.
Berlalulah satu revolusi bulan terhadap bumi.
Berotasi pada sumbunya, menampakkan wajah yang sama pada mereka yang menengadah langit malam.
Kadang cerah, tak jarang muram.
Genaplah 30 hari berganti, berjalan pelan, bergerak dengan payah.
Kita masih saja berpolarisasi, membentuk sumbu utara selatan.
Pusat visual yang menjadi pengharapan linear antara aku dan kamu.
Lagupun mendayu.
Lagu tentang hujan bulan yang lalu.
Kamu bercerita mengenai gelisah, mencari sandar.
Menangis.
Perlahan, Sang Fajar merangkak mulai meraja.
Menyinar awan merah di timur penjuru.
Tak bebas ia, sama sepertiku, masihlah terpenjara.
Sedang beristirahat, dari lelah berburu.
Terkunci..
Menyeribu bahasa kembali kita membisu.
Melepas penat pada dinding ratap, bukan lagi bahumu.
Bersaksilah hati pada ia yang dijatuhinya, pada alis yang tak sempurna.
Menggantungkah cerita ini bagimu?
Karena akan selalu ada yang tersembunyi, tidak untuk disentuh.
Sekali lagi, kita saling jauh.
Menjauh.
--
Anganku, 23 Juni 2017, 05.32
The Rain - Jangan Pergi
Thursday, June 22, 2017
'Hmm, iya juga sih, eh, kalo penilaian lo, gue itu gimana memang?'
'Halah, kalo lo sih udah keliatan, Cip. Mau gimana juga lo nutupin, arahnya kebaca. Seidealis apapun lo, namanya lingkungan itu pasti sedikit banyak pengaruh. Tapi kan ga semua orang bisa baca, kan? Kecuali memang yang deket sama lo dan lo buka gimana sebenernya?'
'Oh, semacam lo lah ya, keliatannya gimana padahal gimana? Tanpa orang banyak tahu? Hehe.'
'Ya gitulah..'
'Iya, gue juga merasa bersalah sama beberapa orang karena gue terlalu fokus sama beberapa hal aja, berujung dengan satu hal yang ternyata ga ada apa-apanya buat gue.'
*perjalanan pun berlanjut dengan muter-muter kota ditemenin lagu-lagu galau..*
--
Kamar, 22 Juni 2017, 20.54
'Kalo sekedar nahan laper sama aus mah gampang, yang susah itu nahan yang lain. Hehe'
Wednesday, June 21, 2017
Gue cape, emosi, kesel, kangen, bete, jatuh cinta, penuh, ribet, pusing, sakit, kecewa, dan lainnya. Gue gatau bahkan harus mulai darimana buat cerita. Yang gue tau otak ini rasanya penuh, badan ini lelah, mata ini perih kebanyakan melek, punggung gue makin sakit keseringan bawa beban, ditambah isi kepala yang bahasa lebay gue adalah mau meledak.
Heuh, pada akhirnya memang berbagi itu udah rasa yang paling melegakan. Dimana lo bisa cerita mengenai hari lo, lo tau ada yang nunggu disana, lo tau bakal ada yang setia buat lo sekalipun lo gapunya apa-apa, sekalipun lo bukan siapa-siapa.
Gue ngerasa, udah bukan saatnya lagi buat cerita masalah sepele sama orangtua, tapi juga rasanya kok ya kalo disimpen sendiri itu lumayan berat. Tapi yaudahlah, ujungnya juga masih ada sajadah buat dihamparin. Toh barusan abis tarawih juga semuanya jadi lebih baik. Tapi yang ga lebih baik itu kangen gue sama dia-yang-belum-gue-temuin.
Heuh, gue pengen nelpon, tapi gatau nelpon siapa. Gue mau curhat sama manusia, tapi yang biasa gue curhatin udah nikah, mau main sama temen-temen gue pada sibuk. Yaudahlah gue nulis aja, tempat paling enak buat numpahin apa yang gue rasa tanpa gue harus ragu nerima apa engganya.
Gue masih kangen sama tahun lalu.
Yaudah deh, gue lanjut kerja lagi aja. Udah mau lebaran..
--
Jatimas 1, 21 Juni 2017, 20.15
Tuesday, June 20, 2017
Lu iteman, Cip..
"BROOO, TANNING??"
"CIP, LUPA DIANGKAT YAA PAS DIJEMUR!!??"
Adalah bahasa yang seringkali gue dapet akhir-akhir ini. Ntahlah, kenapa temen-temen gue bahagia banget dengan kondisi kulit gue yang menghitam. :( Kenapa engga coba muji gue yang udah turun 13 kg misalnya? Atau sekedar memuji massa otot gue yang bertambah walaupun ga banyak. Kenapa ga nyelametin gue atas pencapaian gue selama ini yang sabar dan kuat menghadapi cobaan dunia? Kenapa mesti ngomongin gue dengan kondisi kulit gue yang makin eksotis ini. Padahal kalo mau dibandingin sama temen gue, Baskoro ((masih) bukan nama sebenarnya), bahkan jauh lebih item dia dibanding gue. Ya walau gue akuin sih, sejak dia balik ke Bekasi, sekarang hidupnya agak keurus dan memutih (walaupun sedikit), juga makin lama makin mirip sama Hamish Daud, ah, kok jadi bagus-bagusin dia sih!
Sebenernya ini semua berawal dari video yang gue unggah ke instagram kemarin...
Sejak itulah, banyak banget komen dari temen-temen gue bermunculan..
Anw, mungkin karena gue dulu, putih (ya ga putih putih banget, kuning langsat lah, bukan kuning *tiiit*), ganteng, tampan, pinter, dan gapunya pacar. Makanya jadi-sedikit-lebih menyenangkanlah buat diliat.
Kalo sekarang, dengan kulit yang item, gendut, ditambah gapunya pacar adalah nilai plus di mata keji dunia ini untuk menghina aku yang polos dan belum tau kejamnya cinta ini.. Semua orang dul, semua orang bilang bilang kalo gue item. Dari temen, temennya temen, mantan pacar, pacar (yang belum jadi pacar), pacarnya mantan pacar, sohib gue, ade gue, BAHKAN NYOKAP GUE! NYOKAP GUE DUL!!, satu satunya orang di dunia yang DULU ngomong kalo gue ganteng, dan pasti bakal punya banyak pacar! minggu lalu bilang, 'Mas, kok item sih?'. Gue cuma diem, lalu senyum. Senyum getir. Untung puasa, kalo ga puasa mungkin gue udah minum. Gue udah pasrah sama dunia ini. Pasrah....
Sekarang ini, yang masih baik sama gue dan ga bilang kalo gue item adalah mahasiswa gue. Satu-satunya kelompok di dunia yang (mungkin) sayang sama gue. Iya, mahasiswa-mahasiswa gue yang gue sayang. Mereka yang baik, lucu, dan suka makanan gratisan itulah sisa kelompok manusia yang kenal dan ga ngecengin atas warna kulit gue saat ini.
Sebenernya gue juga gatau mereka beneran sayang dan ga sampe hati buat nyakitin hati dosennya yang lucu nan imut ini, atau sekedar gaenak buat jujur.. Mungkin mereka tahu betapa beban dosen yang hatinya lembut ini sudah berat dan ga tega buat jujur lalu bilang, "PAAKK, KOKK ITEEM SIIHH?" (dalam kasus ini, gue jamin yang ngomong bakal langsung ketemu sama gue lagi tahun depan, dapet E, dalam tiap kuliah bakal gue cecar pertanyaan, dalam tiap diskusi bakal gue jadiin ketua, dalam tiap praktikum bakal gue jadiin koordinator praktikum, bakal gue bikin berat hidupnya! makanya mereka mungkin ga sampe hati buat jujur). Ah, yaudahlah, yang penting ga semua orang bikin gue item. Makasih ya, mahasiswa gue yang kos dan kampusnya terpisahkan oleh selat sunda, makanya gapernah dateng tepat waktu. Bapak kasih tambahan nilai deh buat UAS kali ini. :)
Mungkin dan hanya mungkin, ini adalah kesalahan air di Bandar Lampung yang kurang cocok sama kulit mulus eyke. Teori gue adalah kandungan mineral dan senyawa kimia dalam air yang kontak dengan kulit gue menyebabkan pigmen pigmen cerah di kulit gue jadi kusam, merusak kulit gue yang kuning langsat bercahaya ini menjadi lebih gelap, yang bikin mereka yang lewat suka ngasih receh sama gue.
Teori kedua gue adalah, menyengatnya cahaya matahari di Provinsi Lampung, menyebabkan matinya sel kulit di kulit berharga gue, yang menyebabkan mereka sedikit bermutasi karena adanya proses adaptasi antara tubuh dan lingkungan. Mungkin proses adaptasi itu yang menyebabkan kulit gue jadi gelap dan lebih kuat sistem imunnya..
Tapi yaudahlah, itu teori, gue juga terlalu sibuk menguji teori dan semua hipotesisnya, gapapalah item, yang penting ga item atinya. Sekalipun item, gue yakin istri gue nanti mau nerima gue yang begini, nanti kalo udah punya istri gue mau facial bareng ah, pasti unyu gitu.. Etapi jadi cowo harus strong dan ga menye-menye ya? Yaudahlah gapapa item, gue strong kok, gue kuat, gue bahagia!
Udah ya, gue gapapa kok item, asal banyak yang sayang. Mau ngampus dulu ya, ambil lembar jawaban UAS mahasiswa dulu. Berhubung ini udah mau lebaran, yang mau ngirimin gue THR dengan senang hati gue terima lho!
Lagian, item itu seksi! Ya ga sih? :3
--
Jatimas 1, 20 Juni 2017, 09.12
Sebenernya, terakhir gue putih ya pas di Prancis sih. hmmm.
Jatuh cinta seindah itu
Tak mungkin lagi aku mematung seolah tak berarti senyum dinginmu,
Sekalipun rongga dadamu telah kosong tanpa isi,
Dengan pintu terkunci, menjadi ruang yang tak lagi nyaman terisi.
Aku lebih memilih untuk disekap disitu.
Di dalam hatimu.
Menjadi laki-laki yang mengeraskan hati adalah kebiasaanku,
Tapi tidak dengan membiasakan diri bertemu dengan indahmu,
Berharap pada tiap pagi aku bertemu dengan bola mata itu,
Bergulir tiap waktu dengan harap cemas kau mencari aku.
![]() | |||
| Aku siap terbang lagi, menujumu. img src: dokumen pribadi |
Aku lebih suka dengan lebam biru di pipi tertinju,
Dibanding harus berada pada posisi ini tanpa dekapmu,
Mencari jalan keluar dari sunyi tanpa ada genggam yang kuatkan dari pilu.
Berbenturan dengan kamu diantara waktu, ternyata jadi hal yang indah,
Bagi aku yang lebih sering terbahak palsu demi hilangnya gundah.
Bagai daun yang jatuh,
Aku luruh,
Pada romantisme belai janji yang kau jajarkan satu persatu,
Pada presensi mimpi bumbung rindu,
Pada tiap detak jarum jam dimana kita tak beradu.
Karenanya, sudilah sebentar rasakanku.
Memang, jatuh cinta seindah itu.
--
Kamar, 20 Juni 2017, 05.57
Selamat datang. :)
Monday, June 19, 2017
Sepertinya gue selama ini terlalu labil sama apa yang gue tulis. Kebanyakan topik, dan ga jarang jadi kebanyakan label. Ditambah beberapa masukan sahabat buat bikin blog gue jadi lebih baik.
Nantinya blog gue bakal gue bikin beberapa label aja, yang secara umum kebagi jadi tulisan serius, puitis, sama bego. Gatau deh jadinya gimana nanti.
Ini sebenernya gue pengen banget nulis beberapa pengalaman yang belum diceritain, tapi nanti aja deh balik dari main. Gue ada janji buat ketemuan dulu sama yang unyu-unyu. :3
Yaudahlah ya, gue siap-siap dulu. Mau ambil parcell di kampus, mayan siapa tau dalem parcell ada THR. Hehehe.
--
19 Juni 2017, 10.54
Otaknya mampet. hm
Mungkinkah aku menuju lain hati bila nyatanya hariku terpaut pada senyummu?
Bila memang rindu tak lagi mampu luluhkan kerasnya ego kita, mungkin benci adalah cara terakhir agar bisa melupa.
.
Tampikku pada sumbang suara, kau masih disana menanti.
Bodoh? Memang kapan aku mampu berlogika semenjak kau datang beri suasana hangat hari?
Bahkan kopi hitam favoritku kutinggalkan kala kutemukanmu, Adiksi.
.
Apalah arti penjelasan, bila pintu duniamu sudah kau kunci, mati.
Kuracuni, sengaja, agar kau tak risau dengan terkuburnya mimpi.
Mimpi yang pernah kita bangun bersama dengan suka.
Hingga sadar mimpi itu terlalu tinggi nan mahal untuk digapai dengan tangga sederhana.
.
Hingga bertemu suatu hari, dengan mimpi yang sudah berganti.
Karena, sejukmulah muara hati.
.
![]() |
| kita pernah lihat laut ini berdua img src: dokumen pribadi |
--
Laut, 13 Juni 2017, --.--
Reposted from my instagram
Bulan Juni, tertanggal 19, hari ini.
Berlalulah satu purnama penuh dan setengah bulan mati.
Kamu tahu, masih saja kurasa tak genap relung hati.
Teronggok, tergeletak tak berdaya di sudut mati.
Sunday, June 18, 2017
Rumah lukaku.
Tanpa berkata sepatah katapun, ia mengantarkan kamu.
Kamu adalah jawaban atas pertanyaan lalu.
Ketika hati merasa sunyi.
Di waktu sepi merajai hari.
Kala tanya akan kosongnya hati mencari isi.
Kamu hadir, mengisi sela jemari.
Datang membawa sebuah nama yang menjadi lantun lagu dalam setiap hatur doa.
Membawa resah dan rindu menyatu dalam degup dada.
Mengakar kuat pada tiap pembuluh vena.
Menuju jantung untuk kembali dipompa, namamu.
Dan hatiku luluh.
Padamu pembawa penuh rasa.
Resah pada malam panjang penuh senyum asa.
Sekejap mewarna, dari kelamnya awan kelabu.
Penenun pelangi.
Pelukis mimpi.
Pencipta damai hari.
Menggenggam erat hati, menyawakan segala yang mati.
Hingga namamu bukanlah sebuah pilihan.
Namamu adalah sebuah sandaran.
Tempat kembali paling aman.
Bahu untuk menangis karena gundah paling nyaman.
Kamu lalu menjadi sebuah nama favorit dalam sebuah perjalanan.
Seiring kita melangkah untuk satu tujuan.
Pikirku.
Ketika kamu tiba-tiba kembali, tersenyum bahagia.
Sembari menorehkan luka.
Menusukkan belati perlahan, dan semakin dalam.
Aku memilu melihatnya.
Bila alasanku bahagia adalah pembawa derita.
Bila tempatku pulang adalah tempat yang tak menerima.
Bila penenangku adalah penggundah berbisa.
Aku hanya bisa memasrah menerima derita yang kau cipta.
Aku hanyalah secarik kertas lusuh yang kau gores dengan pena.
Dengan gores yang terlalu dalam.
Kujahit kusatukan kembali, kuberikan, lalu kau robek dengan seksama, perlahan dan begitu rapi.
Dan aku hanyalah aku yang tetap melangkah maju, menuju dirimu yang menghunus pedang, tepat di ulu hati.
Memotong nadi yang telah penuh dengan namamu.
Menghambur mimpi yang kupondasi sendiri, untuk bersamamu.
Masih pada nama itu aku menuju.
Sesekali aku coba berhenti, memetakan arah, mencari jalan yang lebih baik.
Namun bait pertama denganmu begitu terdengar merdu.
Mengajakku kembali pulang padamu.
Dan masih pada nama itu aku menuju.
Memberikan maaf.
Melupa benci dan khilaf.
Menujumu.
Masih selalu kamu arah tertuju.
Pemberi bahagia dalam luka.
Dan janganlah lagi kamu.
Pencipta luka dalam bahagia.
Selalu.
Anganku, 18 Juni 2017, 23.18
Kucipta kamu, rumah lukaku.
Pulang
Karena pada akhirnya menikah bukanlah sebuah perlombaan, siapa yang sampai di garis finish duluan adalah yang menang, adalah yang lebih hebat.
Pada akhirnya menikah adalah menemukan satu pelabuhan paling tepat, belum tentu paling indah dan menjanjikan, tapi di sanalah tempat menambatkan dan menurunkan layar.
Menikah adalah akhir pencarian, dari ribu tawaran merapat, berakhir dengan satu tempat.
Ingatlah, Sobat.
Ketika sauh sudah kau lempar, jangan berpikir untuk mengangkat jangkar, lalu berlayar.
Sebab kau sudah pulang..
Iya, pulang.
--
Kasur malas, 17 Juni 2017, 05.30
:)
Saturday, June 17, 2017
Friday, June 16, 2017
Halo, Sayang.
Ntah ini hari keberapa sejak terakhir aku mengirimkan surat untukmu.
Lama sela jemari ini kosong tanpa genggammu.
Apa kesibukanmu saat ini?
Sedang mendesain gedungkah? Mengurusi project deadline bulan ini? Atau bahkan sedang mengurusi pasienmu dengan penuh sabar?
Ah, masih menjadi rahasia hingga kini.
Biarlah nanti kita bertemu melalui caraNya yang paling indah.
Kamu tahu, semalam aku memimpikanmu. Hehe.
Iya, aku memimpikanmu.
Padahal aku bukanlah seorang unrealistic dreamer.
Tapi sebelum aku memejam mata, semalam aku meminta kepadaNya untuk dipertemukan denganmu.
Dan wajahmu samar kulihat, tak begitu jelas.
Namun, pun begitu aku bahagia.
Cukuplah kujaga hati yang sudah bertambal ini, hingga nanti kita bertemu, hingga halal.
Oiya, kesibukanku sedikit berkurang bulan puasa ini.
Selain karena para mahasiswa yang sudah mulai liburan, kebanyakan waktuku kuhabiskan untuk memperbaiki sistem usahaku.
Aku sedikit mengurangi kegiatan di lapangan karena makin lama tulang punggungku terasa semakin tak lurus dan mudah nyeri.
Bahkan dulu ketika awal merintis usaha ini, hampir tiap pagi aku tak mampu berjalan karena nyeri, hanya kutahan saja, toh akan sembuh sendiri nanti.
Oiya, bila nanti kamu adalah seorang dokter, aku mau kamu yang mengobati, ya.
Pun bila bukan, yasudah kita cari obatnya. Hehehe.
Pagi ini seperti biasa aku jogging untuk menjaga bentuk tubuh, tenang aku masih berpuasa kok. Semalam aku makan ayam goreng hingga 8 potong soalnya. Haha.
Ah, sudah makin siang, aku kembali bekerja dulu ya, Cantik.
Sampai nanti kita bertemu.
Selamat menjalani hari, Duniaku.
--
Jatimas 2, 16 Juni 2017, 08.30
10 malam terakhir, semoga doa yang kita haturkan ramadhan ini dikabulkan, ya. :)
Jangan ngurusin yang ga ngurusin.. ngabis-abisin waktu itu namanya. Urusin yang jelas aja, yang sayang, atau masa depan contohnya.
Dinyinyirin mah udah biasa. Hidup kalo lurus-lurus aja juga kayanya gamungkin. Kalo semuanya suka malah aneh, toh hidup itu hakikatnya seimbang. Kaya atas-bawah, siang-malam, pria-wanita, semuanya deh. Jadi ngomongin jodoh, ya pasti imbang juga kaya kamu. Kalo kamu baik ya dia bakal baik juga. Kalo kamu pura-pura baik, mau dapet yang pura-pura baik juga? Hm.
Yaudahlah, ini udah imsak. Selamat puasa ya, Cantik. Aku tunggu kamu dateng, nanti tak main ke rumah langsung tak lamar aja wes. Semalem makasih udah nemuin walaupun bentar. Akunya masih kangen, tapi kamu ga balik-balik.
Oiya, kalo telat gausah ngadu ke aku lagi ya. Aku udah ga ngurusin yang kaya gitu.
--
Kasur malas, 16 Juni 2017, 04.35
Nulis pas ngantuk itu semacam orang mabok terus ngomong. Hehe
Thursday, June 15, 2017
Klakustik dan ngantuk
Gue udah ngantuk. Tapi rasanya bakal ada yang kurang kalo misalnya gue ga nulis ini. Lagian kalo besok pasti udh beda feel nulisnya.
Gue barusan youtube-an dengerin banyak musik. Macem-macem banget deh yang gue dengerin dari lagu lama sampe lagu baru, rock sampe pop bahkan accoustic.
Sampe waktu gue dengerin klakustik. Band yang udah lawas banget, dengan vocalistnya katon bagaskara. Ga mungkin gue bahas disini karena mata gue mulai perih. Intinya lagu yang gue suka dari mereka ya tak bisa ke lain hati sama yogyakarta. Menurut gue mantep banget aja mereka buatnya.. lagu romantis ditambah kata-kata yang puitis abis tapi ga menye menye. Apalagi aransemen musik khas jamannya yang udah beda banget sama musik sekarang.
Khusus lagu Yogyakarta, ntah kenapa gue ngarasa ini lagu punya magis tersendiri. Dengan segala kelebihannya lagu ini pasti mampu bikin siapapun yang pernah ke jogja otomatis ngerasa balik lagi ke kota nan syahdu itu.
Tiap kali denger lagu ini gue langsung ngrasa balik ke kota ini deh. Jogja buat gue kaya tempat yang bener bener gue rindu karena banyak cerita dan kenangan disana. Sahabat, teman, mantan, sampe pelarian dari kuliah yang menjemukan.
Lagu yogyakarta selalu bisa nyiptain kangen yang baru mengenai kota itu.
Gue sebenernya masih pengen nulis tapi beneran ga kuat. Haha.. yaudahlah sesekali tulisannya nggantung gapapa ya, yang penting ga ngedua. Hahha.
Oke gue tidur dulu. Karena ga aga yg ucapin, gue ucapin duluan ya. Good night, Peeps. I love you. Semoga suatu saat kita bisa ketemu di Jogja, atau Semarang. :)
--
Kasur malas, 15 Juni 2017, 22.30.
Jogja itu, rindu.

