Thursday, November 27, 2014

Menulis hujan

Jadi kondisinya saat ini gue lagi tiduran sambil  bertelanjang dada di kamar kosan gue yg ga seberapa besar tapi nyaman luar biasa. Di sudut kamar masih nempel bendera FC Nantes, klub sepakbola yang gue suka tapi ga gue fanatikin. oke itu intermezzo aja. Kondisi di luar lagi turun hujan dengan suaranya yg bener bener khas. Yg walaupun udara ga panas, ini kipas di kamar gue tetep aja ga gue matiin. Sebenernya ini aga dingin sih mengingat suhu yang turun karena hujan ditambah kipas angin, plus gue yg ga pake baju. Oke ini salah satu kondisi mager gue yg bener bener males gerak yg lebih milih kedinginan dibanding harus gerak buat matiin kipas.

sumber : google.com
Ah andai aja ini kipas ada remote control-nya, mungkin kipas ini udh gue matiin daritadi itupun kalo remotenya kejangkau. Kalo engga ya tetep aja kipasnya bakal muter muter.. oiya yg muter muter baling balingnya bukan kipasnya. Kalo kipasnya sih diem aja muterin baling baling. Kalo bolang baling itu sih nama salah satu makanan yang enak dimakan pagi pagi ditemenin kopi. Tapi lebih enak cakwe dibanding bolang baling sebenernya. Oiya kopi itu sebenernya temen alternatif, gue sebenernya lebih suka ditemenin keluarga atau pasangan (wanna be) pas makan bolang baling atau cakwe. Tapi berhubung gue merantau, dan belum punya pasangan alhamdulillah jadilah si kopi yang paling pas nemenin gorengan. Oiya kopinya bisa juga disubtitusi sama teh atau susu jahe. Tergantung keperluan dan kesukaan. Kalo gasuka susu jahe jga bisa susunya aja atau jahenya aja. Yg penting udah jadi minuman. Jangan pulak kau makan itu jahe sama baling baling nya. Udah jahenya pedes, kipas anginnya juga bakal gabisa dipake soalnya baling balingnya lo makan..

Oke tadi sebenernya cuma basa basi juga sih. Gue sendiri lagi bingung mau nulis apa. Tadi pagi gue sebenernya mau minta tanda tangan dekan gue buat pengesahan thesis gue. Tapi sayang surat pengantarnya ga ada nama doinya, aga aneh memang ketika lo mau minta tanda tangan tapi lo ga nyantumin namanya. Tapi yaudahlah namanya juga hidup, kaya cabe, udah tau pedes tapi tetep juga dijalanin namanya juga suka... oke, itu sebenernya bukan soal hidup tapi soal cinta yg katanya bisa bikin buta, padahal menurut gue justru cabe lah yang bisa bikin lo gelap mata atau minimal berkunang kunang. Tapi tetep aja orang lebih milih rasa jatuh cinta ketimbang cabe. Gue gatau alasan mereka, mungkin mereka lelah..

Ah ini ujannya perlahan mereda tinggal rintik rintik sisa aja yang masih jatuh untuk bersuara menghasilkan nada sendu merayu membuai kelabu mega. Memanja telinga..

Gue teringat seseorang yang berkata berdosa bila tak menulis ketika hujan turun.. kata katanya lebih oke sih tapi intinya ya gitu. Makanya gue tiba tiba pengen nulis. yah walaupun gajelas tapi gapapa. Gue mungkin butuh mejem bentar siapa tau ada yang tiba tiba ngetok pintu kamar buat anter makanan. Gue pengen susu jahe sama gorengan...

ini foto benderanya..

--

Wednesday, November 19, 2014

Rakit temanku..

Karena teman datang dan pergi. Yang bertahan itulah yang sejati.

Persahabatan bukan diuji dengan intensitas tinggi namun seberapa jauh kita merasa rindu dan membicarakan sesuatu kembali. Berputar, kebanyakan mungkin di hal yang itu itu saja. Tapi yasudahlah, yang terbaiklah yang akan bertahan dan saling mempertahankan.

Makin kesini aku makin merasa kehilangan banyak teman.. makin sibuk dengan kegiatan masing masing untuk kemudian tenggelam menghilang.. sekalinya muncul hanya sebentar, dan ketika mereka berada di permukaan aku pasti akan menyempatkan mengayuh rakitku untuk sekedar berucap salam dan bengcengkrama sebelum mereka kembali menghilang..

Biasanya akulah yang mendayung untuk mendekat. Kadang aku mengikuti arus sembari melihat ke dalam air siapa tau ada yang menyadari rakitku dan kemudian menyembul keluar untuk mengucapkan salam. Namun aku lelah selalu mendayung. Sesekali aku ingin diam dan memperbaiki rakitku, siapa tau ada yg berkenan membantu. Sekalipun tidak, rakitku adalah tanggung jawabku, tidak baik bila aku mengharap bantuan orang lain memperbaikinya. Sesekali wajarlah namun bila tercandu, apa jadinya??

Sesekali mendayung aku tetap fokus pada rakitku, sembari menunggu aku menyiapkan kopi panas serta beberapa ransum, siapa tahu ada yang tertarik untuk berbicara panjang lebar sembari menikmati kopi panas diatas rakitku. Sampai bertemu, aku menunggu.. :)

Wednesday, November 5, 2014

ID - EN

"i'm coming home to you, every night.."

dingin pre spring kota itu kembali terasa malam ini, di kota yang selalu panas ini.. perjalanan yang tak teralu lama memang, namun berbekas..

ah kamu, bukan hanya kamu juga kota itu, hanya saja lagu ini selalu mampu membuatku merasa musim semi yang ntah kapan lagi aku rasakan..

pekat, tak selalu hampa, aku merasakan lelahan lilin terbakar api dari sumbu. hangat..

disertai angin menusuk, aku belajar sedikit kata baru,, kata tak berguna namun mengundang senyum.. di dataran pasir bertemu air salin..

aku tak ingin ini aku tulis kembali,
aku tak ingin..

karena mungkin kamu bukan tempat aku pulang,
namun selalu ada yang terukir dari apa yang terlewati, rasa, cerita,
atau mungkin kita..

..

hai kamu, aku telah bosan berkata aku bosan menuliskan sesuatu atas dasarmu,
padahal itu dusta..

bacalah, dan bosan..

--


Saturday, November 1, 2014

merah, kau kenakan hari ini.
padanan merah, hitam, merah,, terlihat pas untukmu.
dan kita berbincang di sore ini,
sembari menahan batuk aku mencoba mengerti arah pikiranmu..
ya, aku awalnya hanya terbaring di kasur mengistirahatkan diri sebelum kau jenguk..

biasanya kita berbincang lepas seperti layaknya seorang teman, pergi ketika sibuk, datang ketika ada yang harus kita saling bagi atau perlu untuk yang lain ketahui..
namun tidak di sore ini,
kita mengobrol serius, hal yang sangat jarang kita lakukan selama ini..

aku masih menerka arah bicaramu..

hingga,,

'maaf, aku termakan dengan apa yang aku katakan dahulu..', katamu..

aku tertegun, aku takut kehilangan sosok sahabatku ini.
sesak, aku hanya tersenyum, tersadar batas yang kau berikan padaku dulu justru kau langgar sendiri..
dan aku masih diam disini tak ingin melewati batas yang dulu tersepakati tak sengaja itu..

'aku tak akan melompati pagar menuju halamanmu ketika sudah kau peringatkan aku..'
'maaf..'

--
ada hati terpatahkan hari ini..

Friday, October 24, 2014

Tiga musim berlalu..

Jika kamu mencari gambar yg baik dalam tulisan ini, kamu tak mungkin akan menemukannya, karena aku bukanlah seorang penggambar yang baik. Sekalipun ada itu pasti aku ambil dari coretan tangan lain atau sekedar pengabadian mataku melalui teknologi yang mereka sebut kamera.

Aku bukan pelukis yang ahli, karena aku hanya mengerti warna dan paduannya namun jarang aku bertemu cat minyak dan bercengkrama dengan mereka. Aku lebih senang melihat orang melukis sementara aku memerhatikan kuas di tangannya menari, atau sekedar mengagumi dan menikmati hasil lukis pada kanvas yang seringkali aku tak mengerti. Ya, aku tak mengerti namun aku menikmati..

Ingin aku mahir menggambar, melukis, agar aku dapat menuangkan apa yang aku rasa ke ruang lain selain huruf dan angka. Aku ingin mengabadikan apa yang aku lihat dengan padu spektrum penghasil putih.

'When will i see you again?' Berulang terputar lirik lagu itu di ruang dengarku..

Ada hati yang menunggu disini.. seperti untai nada pembangkit memori, kala suhu rendah musim dingin berganti semi. Dinginnya masih terasa nyata melekat di epidermis ketika aku dalam perjalanan pulang dari tempatku bekerja, yang biasa aku isi dengan mendengarkan lagu dan membayangkanmu.

Aku rindu aromamu, betapa nyamanmu, temperaturmu, namun sayang karena kita hanya dipertemukan hanya untuk tiga musim berlalu..

--
Aku rindu melihatmu bersemi dan menggugurkan daun..

Friday, October 3, 2014

Berbagi mimpi

-Mimpi-

Bagiku mimpi merupakan privasi. Sesuatu yang ingin kau capai di dunia ini, bisa kau sebut cita-cita mungkin, atau sekedar khayal tinggi.
Dan aku tipe yang berbagi mimpi..

Ah membagi mimpi. Kata kerja yang berarti menghapus batas privasi pada yang aku percayai, yang aku rasa dekat di hati, dan aku yakini merasakan pula kedekatan kami.

Namun (mungkin) sebatas aku. Bukan kami.

Ya, aku membagi searah. Hanya searah. Yang berbarti tak bertimbal balik. Dari sisiku dan tidak sebaliknya.

Dari seseorang aku belajar satu hal agar jangan terlalu mudah membagi mimpi. 'Jaga ia agar tersampaikan pada orang yang tepat, orang yang kau percaya, orang yang kau anggap dekat bahkan seperti keluarga..'

Aku terlambat menyadari pentingnya prinsip ini. Karena aku adalah seorang pemimpi. Karena aku terlalu mudah percaya.

Ketika semua sibuk berencana dengan kenyataan aku justru sibuk melayang dalam serbuk sari bunga tidur yang sebentar lagi hilang. Ketika semua terjelaskan realita aku masih berenang di danau artifisial hasil pemikiranku sendiri.

Percuma aku bermimpi, membagi, ketika mimpiku tak dipedulikan, satu perlahan pergi, satu yang lain tak diam di sisi. Sibuk sendiri. Aku menunggu, namun diam tak diperdulikan. Aku selalu mencari hingga aku takut yang sering aku cari bosan dengan aku yang itu itu saja.

Biarlah aku diam, tak mengganggu, siapa tahu suatu saat mereka sadar akan aku, lalu mulai menekan tuts kecil mencariku. Dan bila memang kemudian hilang pergi, maka benar kedekatan itu hanya dari sisiku, bukan kami. Dan aku akan tetap diam, membuka lebar tanganku serta dada dan bahu, siapa tahu suatu saat mereka akan kembali. Siapa tahu?

Aku tiba-tiba takut berbagi mimpi. Karena sang nyata benar sangat kejam ketika mimpi selalu membuai meninabobokan..

Aku terbuai sungguh, karena aku seorang pemimpi..

Pemimpi yang sendiri. Dan seharusnya aku menjaga mimpiku sendiri..

--
Cek kembali, itu memang saling atau sekedar mimpi...?

Thursday, October 2, 2014

Lagu kesukaanku, juga kamu (untuk dia)

Why are you my remedy?
Why are you my clarity?

Cause we both know how this ends..

--
Still fight..

Wednesday, October 1, 2014

Invisible

Hidup selalu penuh dengan kejutan, bukan?

Beberapa hari yang lalu, aku baru saja kembali menginjakkan kakiku di tanah air ini. Negara yang selalu aku rindukan sekalipun sering aku bandingkan dalam hati segala lebih kurangnya. Maafkan aku, tapi itulah hakikat aku sebagai manusia yang cenderung membandingkan sekalipun aku tak menyadarinya.. Namun belum genap satu minggu aku disini. Berbungkus bungkus bingkisan aku terima dan aku buka satu persatu. Isinya selalu membuatku termangu. Baiklah, aku ceritakan isi bingkisan itu.

Hal pertama yang aku rasakan ketika keluar dari bandar udara Soekarno-Hatta hanya satu. Sesak! Aku merasakan udara yang memenuhi rongga paru-paruku relatif lebih terpolusi dan tak bersih. Ditambah lagi para kuda besi yang tak bergerak di jalanan. Aku merasa pikiran ini tertekan, padahal belum lama aku meninggalkan negeriku ini. Ah mungkin aku yang selalu nyaman dengan alam pedesaan kurang cocok hidup di tengah kota dengan keramaian. Yak, udara ternyata menjadi kejutan pertamaku..

Beberapa waktu berselang, aku merasa ada yang hilang. Ada yang tak wajar. Aku merasa ada berita yang menunggu namun tak kunjung tersampaikan. Rasa cemas dan waswas menyelinap namun tak terjelaskan karena apa. Aku hanya bergelayut menunggu berita.
Hingga aku duduk di ruang tahtaku di istana. Aku mendapat berita bahwa sang ratu, pemegang kendali pemerintahan juga hidupku telah terserang. Hal yang tak terduga karena pertahanannya selama ini begitu kokoh dan nyata, namun justru ambruk oleh hal kecil. Teremehkan tapi dia memiliki taring maya yang kebuasannya menduduki peringkat kedua. Hal mengejutkan aku dapatkan juga dari ratuku..

Terakhir,, ini mengenai perjalanan. Aku berusaha merencanakan arah kemana aku akan melangkah. Sekalipun terkesan awut-awutan, tapi percayalah, aku adalah seorang perencana terbaik yang pernah kamu kenal.
Untuk orang lain saja aku mampu merencanakan dengan sangat baik, apalagi untuk hal yang berkaitan dengan hidupku. Aku begitu baik menggambar petaku, denah kemana aku akan menuju.
Namun sebaik-baiknya perencana adalah Dia yang menciptaku. Dia  menggeser sedikit arah hidupku dengan mudahnya. Padahal baru beberapa hari lalu aku dengan pongah berkata aku tak akan mau ini itu. Dan begitu cepatnya Beliau menamparku dengan kata-kataku.. Kejutan ketiga namun bukan terakhir aku temukan dari masa depanku. Sedikit lagi aku harus memutuskan kemana arahku akan menuju..

Tak terlihat, namun ada. Mengawasimu dari balik rimbun daun, riak air, atau tipis udara. Ia membaca dan memberikan. Begitupun aku. Aku tak terasa juga tak teraba. Namun aku ada.

Karena hidup ini penuh dengan kotak kado berisi kejutan. Ambil satu persatu, terkejut, dan nikmatilah..

--
Di peraduanku..

Monday, September 29, 2014

Story of a murderer..

Aku bertemu dengannya malam ini. Di kala seorang ibu akan berangkat tidur dan aku diminta berbincang sedikit dengannya. 'Urusan bisnis' begitulah mereka berkata padaku. Aku menurut..

Aku beringsut pelan dari peraduan dengan sedikit lemas dan malas. Ya, hari ini aku lelah menunggu suatu hasil. Hasil yang cukup membuat berat beberapa hariku ke belakang. Aku berjalan pelan, mencarinya, dan kemudian akupun duduk bersila. Pertama kalinya kuperhatikan dia..

Dia berbadan besar, tingginya tak jauh beda denganku, namun berbadan gempal disertai otot kasar dan raut wajah yang tertempa keadaan, keras, berat, awas..

Pertama kami bertemu pandang, aku melihat di matanya ada api menyala di sana, panas yang dihasilkan kuduga mampu melelehkan baja dengan sekali sentuh, serta aura semangat membara tersampaikan padaku.. aku diam, memperhatikan, mendengarkan kemana arah dia akan berkata dan berpikir..

Hmmm, otakku terlalu penuh dengan semua spekulasi ketika pembicaraan kami mulai bergulir, satu, dua, tiga, dan seterusnya. Dia banyak bercerita, menumpahkan pikirannya. Kami berputar di tempat yang sama dan aku hanya meladeninya dengan senyum dan tawa serta celetuk kecil khas seorang aku yang tak banyak berbasa basi..

Ketika arah pembicaraan mulai serius, berganti aku memberikan pertanyaan. Aku banyak bertanya, ya aku banyak bertanya. Aku ingin menggali lebih dalam sorot mata serta nyala semangat itu. Sejauh mana ia menginginkanku. Aku sebutkan saja keraguanku, serta rasa penasaranku. Aku ingin dengar sejauh mana dia bisa menjelaskan dan logikaku akan terpuaskan..

Hingga kami sampai kepada sebuah percakapan. Pengakuan akan dirinya, masa lalunya... Aku terdiam. Mendengarkan.. Sunyi.. Aku tak kuasa bergerak hingga napasku tertahan, aku berjengit.. Hitam.. Kelam.. Aku terbayang banyak hal..

Ah, dunia ini luas. Aku hanya terlalu sombong mengatakan dunia ini sempit, hanya selebar daun jati.. padahal tidak, aku hanya menempurungkan diriku. Terlalu banyak hal yg aku belum tahu.. Terlalu asyik aku berbincang dengan diriku dan melihat dunia melalui jendela indahku..

Aku terbayang koper, tangan, baju berbercak merah, saluran air, dan hal mengerikan lainnya. Aku naif dengan memikirkan bahwa rasakulah yang terpenting di dunia. Sedangkan orang lain merasa pahit ketika aku merasa akulah yang paling pantas dibahagiakan..

Ya.. Dunia ini luas dan aku mempunyai rasa yang sempit.. Sangat sempit.. Terima kasih untuk pelajaran yang baru aku dapat hari ini..

--
Banyak cara untuk 'mematikan'..

Sunday, September 28, 2014

Perlahan jawaban atas pertanyaan mulai terlihat. Mulut dan sikap terkuak pelan. Mana yang jujur mana yang munafik. Aku memilih jujur atas lidah dan perbuatku. Lebih baik aku menanggung malu dibandingkan aku bermain sandiwara membangun citra demi para penontonku, atau parahnya lagi lawan mainku..

Sungguh benar dibalik semua perbuatan akan ada motif yang mendorongnya. Entah jeratan ekonomi, gengsi, atau sekedar menjaga agar terlihat 'wah' serta suci. Sejauh manakah kesucian buatmu??

Sebaiknya bangkai tersimpan, akan terpapar juga sangitnya. Bau yang membuktikan secara gamblang apa yang telah dikerjakan, atau sekedar diucapkan. Dan aku mengerti sekarang apa yg tersimpan, kau sembunyikan rapat rapat itu.. 

Aku tau sekarang..

--

Harga sebuah terjun bebas

Dalam hidup banyak hal kita temui mengenai harga, dan pastinya tidak melulu soal materi. Banyak hal seperti penghargaan, dihargai, menghargai, dan lain sebagainya.. harga.. ya sesuatu yang seringkali orang lupa, tidak peduli, cuek, yang menimbulkan sikap tidak menghargai..

--

...

Perdebatan kecil kamipun berlangsung. Aku yang dengan gigih mempertahankan opiniku dan satu lelaki sahabatku mempertanyakan dimana pikiranku. Aku yg keukeuh mengatakan aku belajar dari jatuh, dia yang menyatakan kebodohanku dan meminta aku untuk egois serta berhenti menyakiti diri..

Yaa, aku memilih terjun bebas, tak peduli akan ada apa setelah ini. Mengenai batas putih biru coklat abu di mata dan deras angin menderu di telinga.. aku bahkan tak menggunakan parasut untuk menyelamatkan diri agar tak mati. Aku membiarkan bumi yang keras menungguku. Aku menjatuhkan diri untuk membentur tanah yang akan menghentikanku dengan keras, tulang yang patah atau remuk, sakit yang aku terima, lalu mati atau lumpuh..

Dan aku belajar dari situ, semakin sakit aku jatuh, (itu berarti) semakin luar biasa usaha yang telah aku lakukan atas apa yg menjatuhkanku, yang membuatku semakin menghargai apa yang sudah aku lalui..

--

Bahagia dan duka sudah satu paket bukan? Seperti biji kopi, brewer, dan ampas. Ada pahit yang memabukkan disana, membuat adiksi yang membuat pecintanya kembali meminumnya. Sekalipun pahit, paling pas dinikmati saat panas, bukan dingin, atau sekedar kopi tanpa rasa..

Ya, seperti aroma yang secangkir kopi timbulkan. Aromamupun masih melekat  bagai kau sedang merengkuhku. Aroma aneh namun menenangkan. Aromanya saja sudah mampu membuatku pusing setengah melayang. Apalagi jika aku mencicipimu panas panas secara perlahan. Aku pasti akan langsung mencandumu!

--

Aku saat ini sedang terjun bebas, tanpa harap bayaran sebuah dataran hijau pemuas mata yang aku temukan setelah melewati garis awan, atau seseorang yang akan menangkapku untuk menahan aku agar tak menghantam tanah coklat atau merah..

Aku masih melihat garis tipis mega itu, mencoba menerawang ada apa dibaliknya.. adakah pemandangan itu, atau mungkin kamu??

--
Aku yang sedang terjun bebas

Monday, September 22, 2014

aku bergetar, tremor.. ketika menekan tuts itu,,

sesak,.

seperti pemantik api, tanpa besi dan briket pantikan tak akan terhasil..
percikpun tanpa gas tak akan membuat nyala..

dan semunya, tanpa jari manusia, korek api takkan mampu memberi api..

--

Sunday, September 21, 2014

sendal jepit, jaket biru, dan baju semalam..

Sejuk, atau mungkin dingin lebih tepatnya.. kebiasaan yang bukan kebiasaanku aku keluarkan kembali..
Kususuri perlahan aspal yang sangat aku kenal ini, tiga ratus enam puluh hari genap aku mengenalnya, dia yang menjadi saksi bisu perjalananku, dan keluh kesah selama aku disini.
Perlahan kamu akan lenyap menjadi udara, dan akan mengalir perlahan menjadi angin yang menyejukkan bagi siapa yang kamu inginkan.

Mengarus deras aku bertanya padanya, kuatkah alasanmu?
Karena perlahan yang pasti, kita menuju pergi, pergi ke antah berantah berkalang tanah..

Aspal ini dingin, aku merasakan mati sepi, sama seperti mereka yang tak pernah berterima kasih padanya, padahal ia memudahkan kita..

Terima kasih, telah mendengarkan cerita ini, mungkin ini terakhir kali aku berjalan dan bercengkrama sepagi ini...

--

Friday, September 19, 2014

Kadang ada beberapa hal yang lebih baik ditahan tanpa diungkapkan, seperti kesal.

Ini administrasi, bukan soal mental. Mentalny terbelakang. Batu.


--
Kota ini amis..

Sunday, September 7, 2014

cerita perahu kayu (lapuk)

Dia ada untuk perlahan menjadi lapuk, kemudian tenggelam...
Ya, dia bernama perahu kayu..

Bila dibandingkan dengan perahu kayu, aku akan lebih memilih menjadi perahu kertas,,
ia lebih mudah dibuat, tak perlu keterampilan khusus, walaupun hanya sebentar berlayar dan terlalu cepat tenggelam, namun akan ada lagi yang menciptakan, menempa senyum sekilas dari pembuatku..

dia diam melihatku..
Sedangkan aku.. aku sesosok perahu lapuk dari kayu.. aku dibuat perlahan, dengan ketelitian, untuk terus menerus menyapa membuih menyatukan biru dengan warna coklatku. yang kemudian perlahan pula aku akan melapuk dan berkarat pada sisi sisi besi penyatu.. tak lama dari itu aku akan ditinggalkan, tersangkut di karang, dan akan tenggelam sendirian... menyakitkan bukan??

Selama hidupku, aku tak akan lelah membelah ombak, membantu para nelayan memiliki mata pencaharian.. namun adakah yang memikirkan nasibku? ketika diawal mereka bangga memilikiku, dan seiring berputar waktu aku akan terus berlayar, membuat rusuk penyanggaku melemah, kulitku tak sekuat dahulu, hingga akhirnya aku memiliki lubang halus di sana sini... ya, mula mula mereka akan menambal, ketika sudah bosan memperbaiki,, aku kembali ditinggalkan.. dibiarkan mengapung bersama ombak, angin, dan hujan, mereka yang akan selalu setia menemani menempuh kesendirian..

Dan lazuardi? ia hanyalah saksi, yang selalu bisu dan akan melihat di kejauhan,, dari awal kelahiran yang diakhiri kematian, dia terus akan melihat.. bukan untuk menyapa, ya, hanya melihat saja.. memperhatikan.. karena hanya itulah yang dia bisa lakukan.. diam, tak beralibi..

Aku, yang melapuk mati perlahan.. perahu kayu menuju ajalku..

--

abai

abai?
satu perlahan menoleh, berhenti

ketika tali temali janji tak akan pernah tertepati,


gigil dingin dini hari
aku sadar, kita akan tetap berlari,
tanpaku kamu terus berlari,
tanpamu aku terus berlari,

berluap tanya, menyublim mimpi,

seperti putih kertas coklat melempam terabai..

sudah sudah lagi..
celotehmu tak lagi berdengung di kepala ini..

--
tulisan itu ntah untuk siapa, aku menulis bukan untuknya, mungkin kamu, atau mereka.. bisa saja..

Monday, September 1, 2014

perpus yang adem adem basah..

yeah, posisi gue di kampus ini sebenernya. dengan kondisi yang adem adem basah gitu.. sebenernya ga adem basah juga sih, sejuk malah sebenernya ini perpus kampus gue. dan gue lagi duduk di spot favorit gue, gue di lantai tiga, dimana gue bisa bukan jendela dan ngedenger suara angin berhembus, fyuusshhh~~

jadi gue disini niatan sucinya mau nyiapin presentasi gitu sebenernya, tapi ya tetep ajalah, namanya manusia ada aja kurangnya, yang tadinya semangat membara tiba2 hilang tertiup angin karena ada aja halangannya.. dari laptop yang gamau nyambung sama internet, terus hape gue tiba2 dipinjem orang, ada yang mau dijemput, ketambahan gue jomblo (oke case yang ini sebenernya bukan masalah sih, gue cuma pengen sharing aja), dan masih banyak lagi..

ini lagi ngeblog gue ceritanya..

Sunday, August 31, 2014

tips jalan jalan hemat!

Ini sih sebenernya judulnya dibuang sayang .. ceritanya gue abis siaran soal tips nge-backpack yg murah gitu.. selain siaran, gue sharing di twitter jga soal gimana caranya backpack yg hemat berdasar pengalaman sama browsing browsing. dan gue jadi pengen share juga di blog gue soal beberapa tips yg siapa tau bisa membantu yg pengen backpack murah dan ga ribet! :D buat yg mau ngasih tambahan bisa banget loh! :D ini semuanya cuma copas dari apa yg gue twitt yak. selamat membaca :D

yuhuu,, SS @ciptaweje on the air.. semangat pagi dr eropa dan semangat beraktivitas buat semuanya! merapat ke radioppidunia.org yuks!:D

ah, bahas soal gimana tips backpack yg murah yuks. yg suka jalan jalan segera deh nggabung ke radio! ada ss @ciptaweje disana :D

#1 less is more! gausah bawa barang kebanyakan, yg selain ngerepotin justru bikin kamu kena charge bagasi sob! 

#2 leave valuables at home! gaperlu lah bawa2 kalung emas atau cincin gede gede kalo mau backpack ala mahasiswa.. 
karena kalo bawa barang berharga justru bikin kamu susah nantinya. dan bisa bisa ngebahayain diri kamu.. 
kuncinya sih bawa barang secukupnya aja, karena selain ga berat, keamanana selama perjalanan itu prioritas!

#3 let someone know. ketika kamu jalan2, infoin ke orang2 terdekat kamu kalo kamu bakal kemana dan brpa lama
jgn sampe kamu dicariin karena orang2 gatau kamu kemana, dan itu bikin khawatir. khawatir itu gaenak lho sob. :| 

kembali, nanti..

aku mungkin akan merindukanmu kembali, nanti..
ketika aku berada di batas sadar dan lelap,,

ya, aku tak akan selamanya hidup di dalam mimpi ataupun selamanya nyata..
mungkin aku hanya sekilas genggam di buku jarimu atau seulas senyum yang kau sukai dulu.
dimana bahagia selalu menjadi putih penenangmu dan penat selalu sepekat hitam..

kita mungkin sedang berlari dari kenyataan, seperti aku yang menghindari percakapan mengenai beda dan kamu yang menghindari kejelasan kita..
ah ya, seperti perahu kayu kecil tak berlayar, ia terombang ambing oleh angin penyebab deras gelombang..
langit mungkin saja nampak biru, namun kencangnya aliran udara siapa yang tahu..

samudra mungkin saja luas tak berombak, namun bisa jadi di suatu pantai ia berubah menjadi air pelahap darat..
seperti sedih terselimut senyum dan 'tak apa'.
atau bahak keras penyongsong muram durja..

terlalu banyak kata.. aku hanya sedikit merindu, izinkan aku..
mengenai kamu yang hadir dalam waktu, dan aku yang mencoba sinis bertopeng pilu..
aku akan terbiasa, perlahan..

aku mungkin akan merindukanmu kembali, nanti..
ketika aku sadar kamu sudah bersama mimpimu, dan berlari..
dan mulai bertanya pada diriku sendiri, 'nyatakah ini, atau mimpi?'.

mimpikah ini?

--
terlalu banyak mungkin..

Saturday, August 30, 2014

hai kamu,, yang sepertinya tak perlu aku sebutkan namanya siapapun kamu. karena akupun menganggap kamu tak akan pernah membaca tulisan sampahku kali ini. sekalipun iya, apa peduliku, 'siapa kamu?', itulah kata yg akan terlontarkan dari rongga pembentuk bunyi mu.. aku baru sada menyudahi obrolan kita, ntah, aku malas berbicara denganmu, aku lebih memilih berbicara dengan yang lain saja sepertinya,, siapapun kecuali kamu.. dengan muka malaikatmu, aku jengah.

--

dan aku berhenti menulis untuk beberapa saat, menghela nafas, kembali melihat file berekstensi .jpg itu untuk sekedar menampar diriku menyadarkan diri mengenai apa yg sebenernya terjadi dan akan kembali terjadi..

--

itu beberapa waktu lalu, ketika aku merasa benci dan,, ah sudahlah.. apa gunanya memikirkanmu, kita akan segera kau akhiri bukan.. :) kita yg aku tak tahu kapan ada kita itu. mungkin ini belum berada di tengah

--

ah kembali lagi aku merasakan itu.. padahal baru saja hilang.. padahal baru saja aku tenang.. aku sudah tahu dari awal permainanmu, aku sudah tahu, ketika awal kita bertemu.. aku nikmati, karena aku tahu, kita sama sama dingin dan butuh dihangatkan.. dan kita melihat ada perapian serta meja berhidangkan makanan hangat untuk mengisi rongga di perut, karena kita kelaparan..

--

karena  useless itu berarti sia sia.

--

_teman dekatmu