Friday, June 10, 2016

Berlayar

Ntah sudah berapa kata kurakit satu persatu untuk kulepas berlayar di laut maya.
Masing-masing anakku terbawa arus dan menemui ribu pasang mata dengan sejuta polah. Ada senyum, cibiran, bahkan paradigma anyar.

Tapi itu bukan peduliku. Toh, menulisku semata pemuasan nafsu. Atas sesak yang banyak kulihat dengar, sebut saja kecewa dan sedih seorang ibu yang tak kunjung mampu beli susu untuk bayinya. Atau raut tak tega seorang ayah yang rasa tak bisa wujudkan keinginan anaknya.

Anggaplah tulisan ini satu sisi lainku, dimana aku bisa bebas bermain kata tanpa perlu menjaga rasa siapa-siapa. Toh ini ruang bebas. Siapapun boleh mengungkapkan, bukan?

Pun demikian, sering aku ingin menulis dengan berpolah. Sayang rasa sering tak sejalan, kata meluncur pada kesempatan aku lelah dan sudah kehabisan amunisi energi. Jadilah aku menulis dengan rasa sisa.

Matilah rasa karena lelah diperas bahagia.
Selamat berlayar, jangan mudah lelah, karena letihmu akan segera terbayar.

--

Monday, June 6, 2016

Teka-teki kita

Teka-tekiku, teka-tekimu.
Bertemu kita tak sengaja dalam sebuah lorong kehidupan, labirin yang tak pernah kita tahu dimana ujung dimana pangkal.
Kamu adalah pemain watak yang luar biasa, bisa membagi waktumu dengan baik untuk dua orang dalam satu rangkai putaran waktu, untunglah satu jauh dan percaya.

Teka-tekimu, teka-tekiku.
Meski hidup ini penuh tanda tanya, aku terlahir dengan logika sementara engkau penuh rasa.
Secara logika, kita akan sulit bersama. Secara rasa, kita tak terpisahkan. Menyebalkan bukan?
Kamu tahu, logikaku mulai bosan berurusan denganmu. Tapi apa peduliku, rasanya masih bahagia saja, meski mungkin terbagi ntah dengan siapa.

Meski demikian, firasat tak pernah dusta. Ia jujur karena tulus. Semakin lama semakin kuat dan terbukti benar adanya.
Rinduku akan hangat persahabatan ternyata lebih jujur dibanding kita. Tersinggungkah kamu?

Wahai seorang gagah berjubah putih berkacamata.
Aku bukanlah seorang prajurit yang siap mati kapanpun kamu butuh, aku adalah seorang raja bagi diriku, yang punya keinginan memakmurkan apa yang aku punya, baik sekarang maupun nantinya.
Aku tak bisa kau minta atau perintah sekehendaknya, apalagi kau bandingkan dengan bidak lainnya yang bisa kau arahkan seenaknya.

Memuja? Mungkin iya.
Tapi tak sepantasnya berbuat semaunya.
Tak ingin mengirim kabar karena mungkin aku bukan dia yang sangat setia. Kami berbeda.
Pikirku lelah, fisik juga. Selamat beristirahat sejenak, malam.

--
Besok aku pikirkan lagi, tapi tidak sekarang.

Friday, June 3, 2016

Romantisme penangkap ikan

Pada akhirnya semua perahu akan melempar sauh untuk berlabuh, seperti halnya manusia dalam perjalanan hidupnya.
Mungkin sesekali jangkar akan diturunkan untuk beristirahat sebentar sebelum memulai perjalanan yang lebih jauh kala layar kembali terkembang. Ah waktu, tiupanmu bak angin menghembus detik tahun begitu cepatnya. Membawaku hampir tersesat dalam samudra kehidupan.
 
Aku serak, karena di sekitarku hanyalah air salin. Tak memuaskan dahaga, justru menyiksa bila ditenggak banyak-banyak.
-

Sunday, May 22, 2016

Rasa ini sesak. Karena aku tahu, kau pantas aku tunggu. Diammu, marahmu, emosi senegatif apapun pasti luruh hanya karena seulas senyum di bibir mungilmu.

Jangan murung. Aku tak ingin merusak harimu. Senyumlah, karena ataupun bukan karenaku. Kamu tahu, senyummu punya energi bahagia untukku.

Rindu, kamu yang paling tahu bagaimana dia menjejal ruang hatiku. Sebagian besar kusimpan sendiri dia dalam tidurku.

Aku tunggu. Karena pulangmu selalu menjadi bagian favoritku.

--
07.13

Habis

Aku berhutang pada tensimeter itu.
Pada kasihmu bagi seorang ibu.
Untuk senyum menyemangatiku.
Yang tak tahu bagaimana aku membalasmu.

Aku malu pada waktu yang tak menentu.
Pada detik yang berlalu.
Emosi yang memuncak selalu.
Dan pada cermin bayang wajahku.

Ratusan kilometer.
Aku kehabisan kata.
--

Diam

Kamu diam?
Tapi aku tahu kamu tidak..
Mungkin kamu hanya ingin mendiamkan.
Diam seraya mencari waktu sendiri dan berbincang dengan diri.

Atau mungkin kamu memang diam?
Mendiamkanku dan cengkrama dengan yang datang.
Kata mereka, intensitas waktu berkurang untuk seseorang akan berbanding terbalik jumlahnya dengan satu sosok yang lebih nyaman.
Mungkin bagimu aku bukan lagi yang paling mahal, jelas aku barang murahan.
Memang.

Diam?
Ini bukan kaliku pertama bertemu dendam.
Paling sebentar lagi diam, kamu lalu mulai cari yang namanya alasan.
Lalu membuka pintu, lantas keluar.
Berdiam, tanpa pamitan.

Aku menunggu dalam diam.
Menerka dan bersabar.
Aku tak terkejut bila kamu hilang, selamanya.
Sudah kodratnya kau yang baik segalanya, tak denganku yang bahkan tak tahu lebihnya apa.
Aku pasti ikhlaskan.

Aku biasa didiamkan.
Ditinggalkan.
Pasti kulepas, tak kutahan.
Dengan diam.
--

Saturday, May 21, 2016

Bayang hitammu mirip dengan kelam laluku, sisi gelapku. Pada akhirnya terang dan gelap berjodoh untuk tak pernah bertemu.

Jangan bodoh dengan yang kau sebut mimpi.

Luruh aku

Aku benci kamu, dengan segala kelebihanmu..
Kamu cerdas, rajin, dan tak kalah penting, kamu mengambil hatiku.
Sayang, aku membencimu kala aku harus lewati detak jam hanya menunggu. Memerhatikan layar kosong, dengan hati penuh. Aku hampir mati.

Aku benci kamu, dengan segala kebaikanmu.
Kikikmu seraya menutup ulas senyum, membuatku kelu. Lama tak kulihat kamu, mungkin kamu sibuk dan berbahagia dalam penat (katamu).
Tapi tak apa, bahagiamu memang terpenting. Terbanglah sesukamu, bila ada sekelebat aku, siapa tahu kamu ingin kembali, aku disini. Selalu di sudut yang sama antara dua garis itu.
Bila ternyata kepakmu terlalu jauh dan buat kamu lupa, jangan hirau aku, karena kebebasan tak bisa dibayar mata uang manapun.

Aku benci kamu, dan jarak.
Antara pulau kita terbagi, Selat Sunda dan baling-baling pesawat. Mungkin ini lancang, tapi aku mau ada bandara dan pelabuhan di sekat jantungmu, jadi aku bisa kesana kapanpun aku mau. Tidur bersama degup yang membuatmu hidup. Aku ingin ada disitu.

Biarkan aku erat memelukmu, rindu.

--

Wednesday, May 18, 2016

Untuk pergi

'Aku terbiasa dengan perpisahan.'
Kata yg terakhir aku terima hari ini, darimu. Ketika kamu kembali bersikukuh untuk pergi, lagi.

Mengapa pergi?


Padahal dirimu persiapanku untuk nanti, sandaran kuat yang kurasa mampu menopang ketika masalah buatku goyah.
Tapi ternyata, bersandarnya akulah yang membuatmu lelah. Keegoisan diriku yang membuatmu berhenti.


Mematung, pertahanan terakhirku luluh, akhirnya terucap persetujuan dirimu pergi.


Sabar, tahan sedikit lagi. Pasti aku akan terbiasa untuk tak lagi menghirup nafasmu, atau sekedar merindukan pelukan selamat pagi.


Kamu sudah terlanjur masuk ke dalam hidupku.
Dan kini kamu meminta kubukakan pintu, untuk pergi..


Terima kasih untuk tidak pergi selama ini..

--
ntah tulisan ini selesai kapan..

Tuesday, May 17, 2016

Commerce, 44000

Hai, sibuk. Terlalu dekatkah aku melihatmu? Karena ternyata lensaku kehilangan fokus dari tak berjarak ini.
Putaran pikiran sekejap menggila karena ide yang berserakan. Penuh, namun acak karenamu.

Mimpiku semalam, kembali padamu. Bertemu dengan sahabat lama dan diberi peluk. Hangat yang terasa nyata dan tak sedingin suhumu.

Izinkan aku suatu saat kembali untuk menghirup udara kebebasan itu. Sekalipun aku harus terkungkung disiplin ilmu, tapi aku bahagia karena aku dipaksa belajar untuk mewarna rasa.

Minus beku menusuk tulang, terik musim panas membakar kulit. Betapa berharga sepotong rendang dan nasi goreng. Berbagi aku di tiap buka mata, sekalipun kesal kala itu tapi saat ini aku sungguh ingin mendekapmu kini. Tak kusadar ternyata kamu menjadi tulisan tak terpupus waktu.

Dua tahun sudah berlalu..
Aku tak sanggup menahan lagi..
Maaf, aku pergi tanpa banyak bercerita soalmu.
Tunggu aku, aku akan kembali dan menyudahi cerita ini..

Thursday, May 12, 2016

Pada akhirnya aku hanya cemas usaha ini runtuh, sisakan kecewa.
Karena langit yang sama tak membiarkan dua doa berbeda.

Saturday, April 2, 2016

Dari seseorang yang patah hati.


Kamu boleh anggap aku sok tahu, atau mungkin tertawa melihatku jatuh kali ini. Tapi percayalah, perasaan ini bukan hal yang kamu mau rasakan kala kamu rasa bahagia.
Biarkan aku meracau sembari kau sangkal sedemikian rupa, toh pada akhirnya aku akan tuli terhadap perkataanmu..

Ntahlah, rasa ini begitu membingungkan, aku tak bisa terima kenyataan yang pelan menancap dalam rasa.
Sesak ya? Mungkin bajumu kesempitan, sudah saatnya ganti baju yang lebih nyaman dan bagus. Sabar, sebentar lagi pasti kau temukan baju baru yang membuat bahagia lagi.

Mungkin kali ini hatimu perlu kau letakkan sebentar, bukan karena kamu takut terbang tinggi. Tapi, tak lelahkan kamu terus-menerus menjahit dan menambal ulang tiap milimeter sobekan di hatimu? Yang setelah baik dan bisa dibumbungkan lagi, maka akan ada yang membidik untuk sekedar mencari puas.
Kasihan..

Puaskan dirimu dahulu, barulah cari cara membahagiakan orang lain.

Mata anak panahnya masih menancap, kubiarkan nanti membusuk, kucabut nanti mati.
Biarlah aku membesarkan paru-paruku sejenak, karena untuk bernapas saja sulit.

--

Friday, February 26, 2016

Pamit

Anggap saja ini rangkai kata dari seorang amatir untukmu terakhir kali, di kisah sebentar kita, dulu.

Kita kuibaratkan apa yang kulihat saat ini. Di meja kerjaku, ada segelas kacang hijau dan segelas kopi ke-empatku. Kacang hijau yang manis dan menyehatkan seperti kau dan hidup yang kau jalani, menyehatkan walau mungkin kadang membuatmu bosan. Sedang kopi hitam tanpa gula yang selalu terasa pahit adalah penggambaranku. Tak perlu kujelaskan mengapa, kau pasti tahu. Kejujuran bagi kopi adalah segala mengenai asam dan pahit, karenanya banyak peminum yang mencampurnya dengan krim atau gula. Pun ada manis dari rasa kopi itu adalah hasil palsu ketertutupannya. Ya, pemanislah yang menutupi rasa asli kopi. Benar-benar aku, bukan?

Saturday, February 20, 2016

'Kita', katamu.

Setetes demi setetes kau isi aku dengan harapan tinggi.
Sebuah asa yang tak pernah aku percayai selama ini.
Dan dengan lugu kuberikan kunci.
Ya, kunci ruang duniaku, taman bermainku pribadi, dimana aku selalu bernyanyi, menangis, memaki sendiri tanpa seorangpun aku bagi.
Namun ternyata bukan mengetuk halus, malah seenaknya saja kau menerobos masuk, meraihku, menarikku ke dalam duniamu, dan menyatukan hati. Apa maumu? Kurang ajar!
Duniaku kini hilang, aku tak lagi sekuat dulu, karena kemanapun aku memandang, berlari, bersandar, selalu ada sosokmu, tawarkan teduh serta langit biru.. aku yang terbiasa sendiri dan memecut sendiri punggungku agar lebih tegak hanya bisa diam dalam belai elus halusmu. Aku luluh lantak!
Beraninya kamu!

Padahal tak pernah aku ingin memberikan barang berhargaku kepada siapapun. Terutama hati.
'Ah, mereka suatu saatpun akan pergi.', pikirku.

Wednesday, February 17, 2016

Bila nanti kamu..

Bila nanti..

Bila nanti kamu sedang mengejar mimpi..
Ketahuilah ada doa dan harapan dari mereka yang menyayangimu. Keinginan yang selalu bertumbuh dalam kemuliaan, untuk menyembuhkan jiwa yang sakit.

Bila nanti kamu sedang mengejar mimpi..
Mungkin tak semudah berlari di jalur halus, karena kamu akan bertemu dengan penat, lelah, dan payah. Jadikan semua sebagai penyemangat, karena banyak letih yang telah terlewati. Kali inipun sama, sulit memang, tapi akan berhasil sempurna pasti.


Bila nanti kamu sedang mengejar mimpi..
Ada kalanya Kamu akan merasa segalanya berat dan akan datang rasa ingin menyerah mati. Bila terjadi, coba sejenak berhenti dan menolehlah ke belakang. Tanyakan pada dirimu, sudah seberapa jauh perjalananmu hingga kini, sudah berapa banyak waktu kamu habiskan untuk sampai di sini? Oleh sebab itu, percayalah, garis itupun sama, tak akan menghalangi.

Sunday, February 14, 2016

Rencana bimbang

Aku ingin jatuh cinta lagi.
Ketika kita bertemu untuk dipertemukan, tersenyum untuk saling memberi ketenangan.

Kalau kau sibuk mencari, kapan kau akan berhenti dan menikmati? Tak penatkah kau berlari?
Beristirahat sejenak, 'kan kurengkuh dengan bahu yang juga letih ini, siapa tahu bisa saling menguatkan.

Jangan berencana untuk pergi, apalagi bercanda dengan kepergian itu, karena itu satu hal yang akan kau sesali nanti..


Tapi bila bertahan, sudahkah kau hitung dengan eksak hingga deret angka terakhir, berapa probabilitas kita bisa bersama? 'Jangan membuang energi.', katanya.

Wangi tubuh serta noda pemoles bibirmu di bajuku sampai sekarang masih aku simpan, mungkin tak akan kucuci hingga nanti ada waktu untuk bertemu. Sama seperti noda yang kau beri pada hati, biar saja hingga kotor, apa peduliku? Toh kunikmati.

Pada saat nanti aku mampu memusatmu, mungkin disitu aku bisa mengejar semua mimpi. Tak menimbang dengan bimbang. Kasihan.

--
Boleh aku kembali menuju 6 tahun lalu?

Friday, February 12, 2016

Berpantang

'Aku ingin pergi sejenak, bolehkah?'

Mengenai kepergian..
Kau pikir itu kata2 yang bisa dijadikan permainan? Atau sekedar lelucon untuk ditertawakan demi menahan nafsu? Ntahlah, karena tiba-tiba aku terhenyak akan kata-kata itu..
Aku sudah cukup bermain-main..

Pergi, pergilah, jangankan sejenak, selamanyapun tak mengapa. Mungkin kesendirian memang kata yang paling dekat dengan hidup, aku lahir sendiri, matipun akan sendiri. Jadi kenapa takut sepi? Bukankah sepi adalah kawan paling setia kala semua pergi?

Itulah sebab aku takut percaya lalu berani bermimpi denganmu. Sekuat itukah kamu menahanku? Sepercaya apa kamu bisa menopang? Bahkan dua kaki ini seringkali goyah menahan pundak juga isi pikiran untuk dibagi.

Pergilah, aku akan terus disini, ketika semua berlalu-lalang dalam lalu lintas perjalanan hidupku.

Lagipula, memalsu senyum adalah keahlianku. Aku akan kembali memejam dan bermimpi. Karena mimpi adalah sebaik-baik tempat untuk sementara bersembunyi.

Tunggu saja, nanti aku akan kembali untuk bangkit, dengan atau tanpamu..

--
'Aku tak bahagia hari ini..'

Wednesday, February 3, 2016

Dia, Si gila!

Aku punya kawan satu yang selalu berhasil membuatku tergelitik menulis dan mengadaptasi, gaya bicara yang selalu enak didengar, juga sikap yang menarik menurutku. Sebut saja dia gila, karena memang apapun yg dikeluarkan dari otaknya kurasa selalu brilian, dengan perspektif yang berbeda, juga caranya menyampaikan yang persuasif.

Jarang aku bisa kagum dengan seseorang. Tapi ntah, sahabatku satu ini memang luar biasa, aku yang katanya bisa hipnotis orang dengan kata-kata saja, selalu berdecak kala dia bicara. Yang pada akhirnya  kujadikan dia saingan berat untuk aku kejar dan kalahkan. Dia tertawa ketika kusampaikan suatu saat akan kulewati dirinya, dan kurang ajarnya hari ini diapun melakukan yang sama! Terbahak waktu aku bilang aku berhutang melewatinya suatu saat, sial! Hey, tunggu saja kau kusalip!


Dia bersahaja, tawa juga cara pandang yang baik selalu dia bagi pada kami. Walau seringkali luput dari perhatian, namun buat kami makin awas pada banyak hal. Berjuta hal dia tularkan padaku, kuanggap itu virus baik untukku. Bagaimana tidak, memperhatikannya saja sudah buatku menggelegak dan ingin lari lagi, apalagi sampai diskusi mengenai perencanaan masa depan.

Rapuh.

Kubersimpuh sekali lagi, karena pagi ini terlalu penuh untuk kulalui. Kutahan bening penyebab kabur pandangan, hati ini sedang lunak-lunaknya mungkin. Aku kehabisan kata, rumit.


Bertengadah aku bercerita.

Tuhan, bila memang subtitusi bahagia Kau perbolehkan, maka gantilah setiap titik sedihnya dengan kebahagiaan yang aku miliki. Tukarkan saja tiap detik lelah juga sakitnya dengan kesehatan dan kekuatan yang aku punya. Biar aku yang menanggung perih dan deritanya, aku siap!

Tuhan, bila memang hari ini Engkau memberikan padaku satu jatah doa untuk Kau kabulkan, maka mohon Kau berikan padanya kemurahan senantiasa, kebahagiaan tak berbatas. Isi harinya dengan spektrum warna tak terhingga, jaga ulas senyumnya selamanya. Beri dan penuhi segala harapan terbaik untuknya, jangan pernah buat ia merasa kecewa.

Tuesday, February 2, 2016

Ini rahasia..

Baru saja kubaca tulisan teman yang isinya, 'persahabatan yang terbatas rasa..'
Pada hakikatnya, rasa berlebih pada manusia adalah anugrah sekaligus bahaya.
Dan sebelum kau banyak bicara, coba sebentar mendekat. Kudekap. Lalu bandingkan hangat mana, aku atau dia? Tentu aku, bukan?

Mari, ikut aku isi waktu. Mungkin kita bisa berjalan di taman atau menikmati beberapa wahana. Jangan tanya aku dengan siapa, karena akupun tak akan peduli kau dengan siapa saat ini. Yang penting, kita.

Sebut saja ini mimpi di siang hari, ketika letih bekerja kita butuh istirahat sejenak dan pejam mata, mencari bunga tidur. Asal tak terjebak dan tak bisa keluar saja. Menghindari nyata.
Ketika cahaya padam, hari berganti, malam panjang, orang asing yang menghampiri. Kita nyenyak bersama.
Aliran deras, canda, dan rasa. Kamu pergi, tak berkabar. Pun nanti kembali ketika saat tiba. Kita saling berhadapan, menunggu kantuk tiba, hingga hilang untuk kedua kalinya, berdua.
Dan malaikat akan pergi, menyatu dalam putih.


Oiya, aku tak tanggung bila rasa makin dalam, ya. Itu urusanmu, juga urusanku, tapi bukan kita. Hati-hati main api bila tak yakin mampu atur distribusi gas kendali nyalanya. Masing-masing, tapi saling jaga. Lucu.

Sstt, ini rahasia kita. bukan dia atau dia.

--
Untuk hati yang lain, aku tak bisa.