Sunday, January 31, 2016

Raindrops

Mungkin, ini akan terasa berat, hingga kamu tak mampu menahannya.
Ya, kamu tahu pasti akan itu.
Setengah berbisik, berujar pelan padaku, 'Rasa seringkali menyakiti..'

Dingin disertai mendung di balik pembatasku dengan rintik air.
Basanya seperti biasa, menyeruak mengacaukan pertahanan logika, membumbunglah rasa.
Aku tertegun.
Kemudian, aku bertanya pada Tuhanku mengenai keyakinan. Bila aku harus yakin pada Tuhanku, bagaimana caraku meyakini rencanaNya kali ini? Saat Dia pertemukanku pada sesuatu yang beda?


Friday, January 29, 2016

Bertembok

Masih saja protes dengan label rasa kita yang bertembok? Berhentilah berpura-pura dan mengatakan semuanya baik-baik saja, dimana ada kata baik kala ada batas antara kita? bagaimana pula cara memadukan dua hal yang tak mungkin tercampur, bagai minyak dan air?


Sudahlah, hentikan kata-kata, 'hai, aku baik, kamu gimana?' milikmu itu. karena mana ada yang baik dari pemaksaan sesuatu?
pikiran ini melayang, memperkirakan apa yang akan terjadi nanti, bagaimana bila ini, apa jadinya bila itu dan lain sebagainya. Berkecamuk. Ha

-

Dan, aku trenyuh saat kamu katakan, 'demi kebaikan, aku akan lakukan.'. Luluh lantak aku merasa bersalah dengan pikiranku, betapa aku memandang segalanya berdasarkan perspektifku. terlalu sering aku menguji, sedangkan pertanyaannya adalah, 'sejauh mana kau suka diuji?'
Aku merasa egoisku keterlaluan, bagaimana mungkin aku bisa keras pada sesuatu yang sangat lembut sepertimu? 

Kamu godaan yang luar biasa! Ntah berapa lama lagi aku mampu bertahan. Pergilah saja, karena aku terlalu takut untuk jatuh lagi, tak berani percaya lagi pada mimpi, karena nyatanya tanah yang keras itu tak pernah membuai.

Aku takut kamu kecewa, lalu pergi. Jangan, ya..

--

Thursday, January 28, 2016

Kepadamu penyejuk hati di pagi hari, aku ingin bangun berkali-kali dan menyadari ada kamu di pagiku. Kumandang adzan yang kudengar setiap hari, kusematkan harap pada tiap lantunan doa yang kita haturkan bersama.

Biarlah rindu ini kutahan dulu, mungkin kita akan bertemu beberapa waktu lagi, mungkin. akan kuperbaiki nantinya.
--

Tuesday, January 26, 2016

Bulan bintang, Palang.

Dan aku selalu iri melihat mereka yang bertemu di saat yang tepat, saling mengisi dan memberi. Saling membanggakan.
Pernah sekali aku lewati itu.. rasa membuncah seperti gelas yang tak pernah penuh sekalipun terus-menerus diisi. Puji dan pembelaan satu sama lain, serta keberhargaan kepemilikan di masing-masing pribadi. Hingga saat dia begitu berani. Keberanian kejujuran diri, meminta untuk berganti, padahal sudah jelas itu adalah harga mati.

...

Lama aku lupa rasa itu, coba tunduk pada garis penuntun, bahwa beda akan menjadi penghalang utama dari sebuah kebiasaan, dari sebuah toleran.
Hingga sekali lagi, aku dipertemukan dengan makhlukMu.


Pun aku tak menerka, genggaman itu mampu berdampak seburuk ini.. Aku retak, perlahan kau kikisi pertahananku hingga batas akhir dalam tempurung rasa yang harusnya hanya satu. Kau buat gamang. padahal aku ingin 'tuk tak lagi jatuh dan/atau tenggelam dalam spektrum rasa pada warna yang berbeda. Dosakah?

Monday, January 25, 2016

Puzzle

Aku menyebutnya puzzle. Membuatmu harus berpikir untuk menyelesaikannya. Memaksamu lebih keras berusaha untuk melengkapinya.

Pun yang aku lakukan saat ini serupa. Mengendap-endap, cemas, berkeringat dingin. Aku seperti maling!

-Rindu dengan segelas 'kopi ngeri' buatan sahabat, dimana ketika selesai membuatnya dia akan berkata, 'Nih Cip, cobain, enak ga?', lalu tersenyum lebar seraya curiga kala 'ku perlahan menyeruputnya.
Rindu momentum, bukan masa lalu. Mungkin suatu saat kita akan bertemu. Ketika tiba waktu itu, aku tagih kembali keahlianmu membuat kopi!-



Teka-teki. Labirin ini menuntunku entah kemana, kususuri perlahan. Aku tahu, pada akhirnya aku pasti akan keluar juga. Entah keluar untuk menang, atau kalah.
Terima kasih untuk senyum yang kau beri pagi ini, tepat ketika aku membuka mata.

--

Sunday, January 24, 2016

Bahak

Dan hujanpun turun.
Menyapa khalayak ramai beradu rindu, mempertajam insting serta kecamuk rasa.

Rintikmu yang disertai bahak langit, seolah meleceh manusia yang masih saja terkungkung dalam gejolak asa.

Kasihan, padahal dia hanya tidak tahu kemana harus berjalan atau kepada siapa harus bersandar.
Mencurah..

Batas titik kering pada basah yang kamu titipkan pada sekecap rindu masa lapang, bahagia yang terlewat.

'Kamu kenapa?', sekalipun ingin pertanyaan itu, dia tak tahu harus menjawab apa. Dia terkurung, antara malu dan tak tahu..

Seraya mengintip kasa. Kulihatnya, lalu lirih aku bersuara, 'logam amalgam, jawab aku..'
Semua diam, bisu, memalingkan muka. Sementara muka ini masih terlihat kebingungan.

Impulsif, atau pikiran berloncatan. Tak beraturan. Schizophrenia, mungkin.

--
'Jangan-jangan kamu kaya pasienku..'

Saturday, January 23, 2016

Jika aku tak merindumu.

Bila aku tak lagi merindumu, maukah kau maafkanku?

Tak apa bukan, bila saat ini tak ada lagi rindu? Tak ada rasa ingin bertemu.
Sedikit aku berbagi, yang tak langsung kepadamu. Mungkin kita
bicarakan nanti ketika kau tanya
aku, "Apakah
Kamu merindukanku?".

Baik, kumulai dengan jujurku, kuharap tak menyinggung atau menyakiti siapapun. Bahwa ada yang sedikit menggangguku.

Bukan aku ingin bersikap tak semestinya bahkan antagonis. Namun ini aku,
Tercermin dari perasaan berdosa yang
Aku coba jujuri..

Aku tak ingin berpanjang lagi.
Tapi benar
memang. Saat ini aku merindumu.
Mungkin karena ada sesuatu, mungkin
karenamu..

--
nya, mungkin.

Thursday, January 21, 2016

Tukang Parkir

Ini post yang harusnya gue publish kemarin, bukan hari ini. Tapi yaudahlah gapapa, walaupun mungkin rasanya kurang greget, minimal bisa tumpah biar plong..

Hmm.. jadi beberapa waktu belakangan ini, gue sering dikunjungin temen-temen, atau sebaliknya, gue yang mengunjungi mereka. Dan biasanya terjadi sedikit kebaperan yang seharusnya ga terjadi. Well, bukan gue namanya kalo ga baperan dan/atau kebanyakan mikir. Eh, gue nulis post kali ini ditemenin lagunya adera yang melewatkanmu, suaranya sebelas dua belas sama gue, mirip mirip gitu. Lagunya sengaja gue puter biar bisa lebih menghayati proses penulisan post. Yah yaudahlah ini gue udah makin baper, ntar ga selesai ceritanya..

Oke, tadi sampe mana? *scroll*
oh iya kunjungan.. ntah kenapa gue selalu rasa sedih dipenghujung kunjung-kungjungan ini, yang kadang sampe lebe. Contohnya aja kmrn, jadi ada beberapa temen yg mampir kesini buat liburan. Gue sebagai temen yg baik pastilah nyempetin buat ketemu mereka dong.. maka, terjadilah pertemuan yang singkat namun memberikan ilmu baru mengenai laut dan pantai dan isinya dan semuanya deh. Singkat cerita, ketemunya mmg cuma sehari dan ga lama. Tapi apa yg gue dapet bikin gue seneng. In the end of story, merekapun pulang ke asal, di hari kepulangan, gue jg sempetin nganter ke stasiun, kebetulan stasiunnya deket bgt drai rumah gue, gasampe 7menit.

Di stasiun, Mereka kembali dengan riang ketawa cerita soal pengalaman dan ga ketinggalan foto-foto, sementara gue mengantar dengan senyum hambar.. ntah kenapa kalo abis disambangin terus yg nyambangin pulang, rasanya ada yang hilang aja.. mereka pulang dengan bahagia, guenya sedih sendiri. Aneh..

Hal ini bikin gue mikir, apa yang terjadi dengan seorang gue, kenapa gue lemah? kenapa gue sedih? Kenapa gue selalu laper dan pengen banyak makan?? Eh sorry, itu beda cerita..

Lalu, gue inget sama tukang parkir dan tiba-tiba ngerasa gue harusnya sama kaya para tukang parkir itu. Yang selalu disinggahi sebentar mobil atau kendaraan lainnya yang bagus bagus, tapi selalu ikhlas waktu mobil mobil itu pergi. Kendaraan banyak tapi ga pernah masalah ditinggal pergi.. gue harusnya kaya gitu.. harusnya biasa aja ketika ada yang datang dan pergi, ikhlasin aja..

Well, Itu aja sih yang mau gue share kali ini. Sering kita ngerasa sedih ketika ada yang pergi, mungkin karena kita gatau bisa atau engga ngerasain kebahagiaan gtu lagi, kesempatan selanjutnya untuk bertemu, dan lain sebagainya. padahal kenapa mesti sedih? Toh semuanya udah ada yang ngatur kan?

Lagian, kalo memang ga memiliki, kenapa harus sedih ketika sesuatu itu pergi? Kaya tukang parkir..

Udah ah, gue mau lanjut ngegame sama chatting dulu. Makasih udah baca. Xoxo *biar anget*
--
Gapunya, jadi gaboleh sedih

Tuesday, December 22, 2015

Ini ceroboh..

Ntah gue harus seneng atau sedih.. ternyata link yg selama ini paling gue tutup rapet ternyata justru gue buka secara masal.. sebut saja itu kecerobohan gue, tapi yaudahlah, udah terlanjur namanya juga..

Sosial media satu ini termasuk yg paling ga gue share ke siapapun, yg kalopun memang kebuka secara ga sengaja atau secara kebetulan ditemuin sama orang yg lagi iseng yaudahlah gapapa. Tapi kalo gue yg ngasih dengan cara bodoh kaya gini ya udah, gapapa. Namanya juga ga hati-hati. Tapi yaudahlah. Memang seberapa banyak sih yang peduli sama tulisan-tulisan buah pikir dangkal yang seringkali disertai emosi ini? Ya paling itu-itu aja yang paling ga dibaca juga sama yang diarepin.. :|

Manusia sukanya gitu sih. Pura-pura.. pura-pura gapapa, pura-pura kuat, pura-pura perhatian, pura-pura sayang bahkan *eh..
Dan ya memang banyak yg jago sih soal pretend satu ini. Tapi gapapa. Hakikatnya memang gitu.. suka ngeluh sama ngadu sama yang ada di depan. Kaya gue, kadang ngeluh sama tembok, kadang kipas angin, sama ikan di kampus, sama kendaraan gue, yah seketemunya lah.. yang penting ada yang dengerin..
*Tiba-tiba lagu Adera - Lebih Indah keputer di telinga. Terus gue mesti gimana dong ini? Mesti pura-pura juga?? :|*

Oke, jadi hari ini Hari Perempuan Nasional, pagi-pagi bangun langsung deh ucapin ke beberapa orang, mama gue nomor satu, dua sodari kebanggaan (Mba Tyas juga De Aluh), Dy, beberapa sahabat, dan juga mama-mama(sebut saja tante-tante) yang lain.

Dikelilingi orang hebat yang bisa ngasih arti memang bahagia rasanya. Tapi kalo lo rasa belum bisa kasih arti? Gimana hayo rasanya? Ya kejer lagi, lalu jatuh, introspeksi, bangkit, terus kejer lagi! Gitu terus sampe kesampean deh pokonya..

Minggu ini sibuk, dan beberapa masalah kesehatan mulai ketauan, masalah mental juga jiwa bakal jadi isu hangat beberapa waktu ke depan sepertinya. Tapi ya gapapa deh. Intinya ya tetep harus bahagia, tetep harus senyum, karena ga semua orang bakal mau denger juga ngerti apalagi rasain yang lo rasain kan??

Persetan! Bangkit lagi yuk! Buat ngehajar semua cibiran yang didapet pake kesuksesan yang lo raih..

Udah ah, cape. Selamat hari perempuan untuk seluruh perempuan luar biasa yang ada dalam hidup gue. Merdeka!!!

-
Kalo bukan nanya temen gue, mungkin gue ga bakal sadar. That's what friends are for 'kan? :D

Sunday, December 20, 2015

menulis?

ya.. menulis..

Menulis? untuk apa kamu menulis? 
aku menulis untuk menuang rasa, sekedar mencaci atau berkeluh kesah.. yah dibanding aku bercerita kepada tembok kamar atau manusia berhati batu, lebih baik aku bercerita dengan menulis (atau mengetik).. tidak mengganggu bukan? karena hakikatnya para Homo sapiens ini lebih suka didengar dibanding mendengar. ingin kutampar rasanya. tapi yasudah aku diamkan saja, tak perdulikan..

Kenapa tak ceritakan saja kepadaNya?
Kan, mulai sok tahunya.. Sudah aku katakan, aku menulis dan menuang rasa, bukan kepada manusia, tapi selembar kertas maya, yang mungkin memang dibaca orang banyak, tapi disitu aku bercerita tak hanya kepadamu, tapi juga Dia.. silakan kamu salahkan caraku, toh semua orang memiliki caranya masing masing dalam melakukan sesuatu, bukan?

penaku menulis..

Ada lagi

Nyatanya, ada lagi yang tersakiti. Sekuat apapun usahanya, di akhir ada kecewa..

Pernah kosong, ia tambali satu persatu, dijahit dengan benang seadanya, tanpa perekat dia meyakini semua akan baik kembali..

Nyatanya, satu lagi hati terkoyak. Mungkin ia jengah dengan kondisi, banyak ditumpuk, tak terkurangi berkala, terus diisi, hingga BLAM! Meledak!

Lalu habis. Terlalu parah kerusakannya. Tak mampu beresonansi. Padahal ia ahli dalam bidang tak perduli, malah kamu beri alasan dia untuk mengeras kembali. Kau keringkan, kau peras sekuat-kuatnya dengan cara paling kasar yang kau tau.

Kudekati, kulihat serpihannya. Seketika aku terbahak. Tertawa aku membelakangimu dengan nada A minor. Ironi.

Enggan ia kini untuk percaya. Sudah mati..
--
Overtune..

Friday, December 18, 2015

apa kabar hati?

Hehe, gue lagi acak acakan ini sepertinya, baik penampilan, muka, juga rasa. Mungkin karena gue lagi bingung, bingung buat apa gue ada disini, buat apa gue menahan rasa, buat apa gue terus pura pura? Jahat ga sih ketika ego lo terlalu besar untuk bisa liat orang orang bisa senyum karena lo, dan seketika lo ngerasa kalah ketika lo sadar ternyata lo bukan alasan mereka bahagia? atau justru lo yang berlebihan?

-mungkin efek ga ada yang dengerin kali ya, atau mungkin karena gue nahan terus sendiri?-

Takut mungkin, ketika terlampias dengan cara yang salah. harapan yang ga kepenuhan, atau cara menangkap yang ga sesuai ekspektasi?
Tidak perduli merupakan salah satu alternatif buat gue, yang ujungnya jadi benci, terus pergi.

Tapi memang semudah itu gue menahan rasa, tertimbun yang lama lama meledak. bosan alasannya. Untuk apa terbuka? lunak hati? kalo ujungnya hanya dicibir dan diludahi?

--
Maka ketika hati terasa jauh sekalipun fisik dekat, apalah arti dari sebuah usaha?

Wednesday, December 16, 2015

tomorrowland yang belum kesampean

Gue baru aja nyengir nyengir sendiri, bukan, kali ini bukan karena wanita dan sebangsanya. Tapi karena hentakan musik, haha. well okay gue bukan termasuk orang yang banget banget banget ngerti musik, tapi gue yakin musik bisa banget ngebawa mood lo untuk bahagia bahkan ketika lo lagi sebel dan stuck. heheh.

ada cerita bodoh dibalik foto ini, tahun lalu. :))
Contohnya aja sekarang, diantara kegiatan ngurusin mahasiswa, juga administrasi kampus, plus ngurusin barang-barang laboratorium yang bakal dateng besok pagi, ga ketinggalan persiapan ujian yang segera berlangsung, gue iseng deh ngeyoutube, niatnya memang distraksi sedikit biar ga bosen bosen banget sama yang gue lakuin hari ini. Hmm, gue nonton  Tommorowland 2015 Official Aftermovie. dan yes! videonya berhasil banget membawa suasana hati gue, dari kesel kemudian jadi seneng dan iri, haha. okay, ada beberapa scene yang bikin gue pengen banget ngerasain lagi vibe dari hal hal semacam itu, kesana bareng temen (atau mungkin pasangan yang sama sama gila (dalam arti positif)) kemudian nikmatin suasana sambil ketawa sepuasnya, dan bisa cerita sepuasnya!! (honestly ada bagian dimana ada cowo meluk cewe kemudian mereka keliatan seneng banget, yang akhirnya gue baper... F!!)

Tuesday, December 15, 2015

Lupakan sajalah...

Lakukan atau lupakan, semudah itu kata-kata masuk ke iris melalui lensa yang jatuh terbalik maya pada retina, disalurkan melalui saraf visi menuju otak untuk menginterpretasi warna lingkungan.

Sabar sebentar, ini kulminasi saja, hanya sementara, toh sebentar lagi lewat. Akan terlalui juga, sama seperti masalah yang pernah mampir dalam hidup, sebentar ada kemudian pergi. Ah jodoh, kamu sulit sekali dicari, sini mendekat, agar aku sedikit lebih tenang dalam menjalani hari, lebih bisa bebas berekspresi, bukan dalam tekanan yang memaksaku untuk melakukan semua yang mereka mau, yang mereka harapkan, terkekang seperti bertali moncong atau bahkan berkacamata kuda. aku terengah-engah sementara kritikan masuk luar biasa. aku harus menjadi apa?

source: google.fr

Thursday, November 19, 2015

Si tu crois

Gue pagi ini lagi asik dengerin tembang bossanova yang bikin kuping adem, lagu gambang semarang jadi salah satu lagu yang bikin gue ngerasa lagi ada di stasiun semarang, ketika tiba tiba keputer lagu yang liriknya kaya gini.


Suis ton étoile (follow your star)
Va jusqu'où ton rêve t'emporte (go wherever your dream brings)
Un jour tu le toucheras (one day you'll get it)
Si tu crois, si tu crois, si tu crois (if you believe)

En toi (in you)

Penggalan lirik lagu i believe in you nya Celine Dion et Il Divo yang ga sengaja gue temuin pagi ini waktu kangen semarang dan isinya. Pikiran gue langsung tertuju sama semua orang yang datang dan pergi selama gue hidup. ya memang ga semuanya, tapi beberapa memberi kesan yang luar biasa serta pengaruh signifikan buat gue.. Ada seorang sahabat yang harus pergi karena kembali ke tempat asalnya, ada yang pergi dan hilang kabar, ada yang gabisa dihubungin dan lain sebagainya, semuanya rata rata sama, memiliki keinginan untuk jadi yang lebih baik, dan gue selalu bangga melihat perkembangan mereka.

Thursday, November 5, 2015

Kamu menulis tapi tak rupawan, tulisan mengenai pangeran dan putri yang saling menemukan mentari dan rembulan. Tulisan cerminan diri bagaimana proses melawan ketakutan serta keinginan untuk sembuh, yang seringkali orang sepelekan dan tidak perduli, kami ingin sesuatu perbaikan namun kamu belum tentu bisa, tapi terus kau coba,
aku malu, karena aku sering menulis untukku..

Mari suatu saat kita bertemu dan berbicara kembali, mengenai bintang dan putri yang kau khayalkan dulu, aku masih ingin berbincang dan mendengar prosesmu, bagaimana kamu mengejar mimpi dan semangatmu yang menggebu untuk tidak sakit lagi. Proses pernikahan yang terlewatkan dan tak terhadiri. tapi aku bersyukur karena sampai saat ini kita masih bersahabat baik dan bercerita..

Karena sahabat memang tak akan terganti..

--
Pilek

Monday, November 2, 2015

Aku senang tapi tak bahagia

Semalam aku bercengkrama dengan beberapa teman membicarakan hal yang akhir akhir ini terkesan hal penting bagi kami; latar belakang.
tutupi saja semuanya, seolah kamu merasa hal ini merupakan hal esensi dari hidup, padahal kamu hanya bisa menghakimi apa yang terjadi tanpa mencoba berpikir lebih luas, kamu tidak!

Khalayak ramai sedang aku disini menyumpal telinga dan memaksanya minum dengan suara tenang. Aku ingin menari, dilihat, sementara musikku didengar. Sesederhana itu saja.
Sedangkan nyatanya, semua sibuk dengan dunia, akupun begitu, menulis dan bercanda dengan papan kunci.

--
and i know, the scariest part is letting go

Friday, October 30, 2015

Kepadamu, Perempuan bukit bintang

Hai perempuan bukit bintang, ini mungkin terakhir kalinya aku menulis tentangmu, yang mungkin bukan terakhir kalinya aku terbawa perasaan akanmu.
Kamu ingat kupu-kupu yang pernah aku ceritakan dia dengan sesukanya terbang kesana kemari di dalam perutku ketika bersamamu? Dia kini menuju mati, tak mampu lagi mengepak karena energinya telah habis. Hasil metamorfosa si ulat yang bertapa dan menjadi sosok baru dengan sepasang sayap kini tak lagi indah karena termakan oleh waktu. Dia kini sekarat karena tak lagi ada kuntum bunga untuk dihisap sari.

Dua tahun lalu aku mengatakan satu hal yang masih ingin kutepati hingga hari ini. Tapi entah, garis waktu menamparku dengan nyata yang bertolak belakang dengan asa. Rencana besarku untuk mengangkat sauh dan mengajakmu berlayar lebih jauh tertohok ketika melihatmu telah berada di perahu lain dengan layar terkembang, siap mengarung berhadap badai apapun itu, dengan lukisan senyum ada di wajahmu.

Wednesday, October 28, 2015

pikiran randomku karena aku rindu Eropa dan tidak banyak pengabadian catatan ketika itu

Aku selalu tertarik untuk menulis, bahkan belum pernah aku bosan menulis. Seperti magis yang temporer, dalam suatu kondisi aku merasa keinginan menulis membuncah. Menulis yang 'ntah untuk menuangkan pemikiran gila, untuk bercerita tentang angan dan harapan, atau sekedar melepaskan rasa melankolis. Sayang, Aku sering merasa terjepit oleh aktivitas dan kegiatan yang berentet dan (terasa) menyita waktu. Ah, itu hanya rasaku, karena justru yang banyak terjadi adalah aku melakukan sesuatu tidak sampai tuntas, tas! Aku sering dan banyak menulis, contohnya. Namun alih alih aku menyelesaikan tulisanku, ada saja pekerjaan datang dan harus aku selesaikan, atau bahkan kehilangan intuisi karena sekelebat hal tak penting lainnya.

Mungkin hal terakhir yang sering menyebabkan tulisanku tidak terterbitkan adalah kemalasanku untuk sekedar menekan kata 'publish', cih!

Aku baru saja menemukan post di laman facebook mengenai beberapa teman yang telah menelurkan buku, dan oke, mereka berhasil membuat aku iri! ahha, itu adalah keinginanku semenjak lama aku ingin mempunyai bukuku sendiri. ah bodoh, padahal seharusnya aku bukan hanya sekedar iri, seharusnya aku bisa sedikit lebih tekun dalam menulis atau setidaknya menambahkan kadar keseriusan dalan hal ini. Aku menyukai menulis dan bercerita, namun untuk bercerita melalui tulisan memang membutuhkan waktu dan konsentrasi yang tinggi (ini kembali hanya excuse atas kemalasanku).

Konsep bercerita melalui tulisan dan membaginya kepada dunia melalui hal bernama digital tak semata mata untuk menuangkan perasaan. Khusus aku, aku hanya ingin mencatat hal yang kulalui dan ingin untuk kubagi, siapa tahu ada yang tertarik. haha!

Sunday, October 11, 2015

Menungguku

Sebut saja dia lantunan indah merdu manjakan organ dengarmu, menstimulasi otak kananmu berimajinasi dan memperkaya fantasi, seringkali memberi rasa tenang, kadang membuatmu haru biru.
Aku tak punya ide apa warna kesukaanmu, tapi aku tahu ketika ada kupukupu di rongga bawah paruparu ketika aku berbagi denganmu, rasa nyaman yang misterius menyeruak memberi energi besar ketika aku bekerja, atau sebaliknya membuatku bingung akan melakukan apa.
Aku baca kembali, menimbang secara teliti, sadar aku mengadu denganmu adalah hal yang luar biasa bila aku bersyukur, hanya seringkali tak ternikmati proses yang kurang dari sejam tiap kali aku bercengkrama denganmu.

Sebut saja itu rindu, dimana aku ingin bercerita denganmu, merasakan tenang tak terhingga diantara materi dunia ini. Aku sedang menyicil kekal nanti.
--
Sebut saja itu diam diam.