Bebas, lepas, namun tak termiliki.
Seperti air yang memiliki satu sama lain, bersatu karena Hidrogen dan Oksigen. Ketika dipanaskan akan menguap, melepaskan satu sama lain.
--
Berkejaran dua makhluk bersama, kicau dengan riang mereka bernyanyi. Terbang ke sana ke mari tanpa peduli apa itu administrasi.
Tak perlulah penghuni lain alam ini tahu, betapa merdu tarian rindu. Disertai angin melalu tanpa peduli mereka buat sarang indah pada salah satu dahan randu.
Wahai dua jiwa pemilik sayap yang tak pernah merasa terkekang waktu, Bolehkah kami iri padamu? Sedikit saja..
--
Sesederhana malas mengerjakan,
Bukan karena penuhnya pekerjaan, bukan karena banyak yang dipikirkan.
Hanya sebab banyak alasan, mencari celah terlihat punya kelebihan.
Padahal hanyalah aku yang penuh kekurangan.
Diri yang semakin larut pada rumitnya jalanan.
Padahal selalu lurus dan diberikan pilihan kiri atau kanan, dan sesekali menemukan persimpangan.
Sesederhana malas mengerjakan..
Nyatanya menulis di sini berbeda rasanya dengan menulis di catatan pribadi. Yang kulakukan beberapa tahun belakang ini. Ada sebuah kepuasan dari melampiaskan rumitlogi, ilmu yang berhubungan dengan kerumitan hidup ini (Jati, 2022).
Biarlah berkaca pada masa lalu merupakan sebuah kebiasaan yang harus mulai kusadari. Karena kita yang tahu, apakah kita selalu memperbaiki diri dan jadi lebih baik dari kemarin, atau sekedar terengah engah mengejar ketertinggalan dari ritme manusia lain yang selalu diperbandingkan. Hingga buat jengah, lalu tidak bahagia.
Cukuplah kegiatan-kegiatan kecil mulai mengisi sibuk hari, buat senang hati. Pencapaian yang tidak perlu hebat dan tinggi, tapi mampu lambungkan ria rasa yang seringkali terlupakan demi pemenuhan ingin manusia. Kita lupa, bahwa bahagia itu selalu sederhana, dan tak lama.
Berbahagialah, karena bila hari terisi dengan duka, tak sepeserpun waktu bisa terbeli dengan segala usahamu itu..
Karena hari terus berjalan, sementara hati sering terlupakan..
--
Derap jantung berirama lebih cepat, ntah kenapa tidak pernah berubah. Lantunan lagu-lagu di telinga begitu lekat.
Di antara tugas diberi, keinginan untuk memenuhi harap, serta lelah di ujung hari. Nyatanya begitu mudah rapuh hati ini.
Ketika pulang bukan lagi sebuah penantian, tak lagi jadi pelepas letih, dan pengganti peluh sepanjang hari, lalu akan kemana lagi?
Mungkin tidak harus selalu terceritakan apa yang dirasa. Cukuplah selalu memberi dan memberi, bercerita pada diri, tentang hari, tentang hati.. Karena dewasa ini, bukan lagi mengenai kesenangan tapi mengenai pemenuhan harapan orang lain, yang terlalu tinggi. Kurasa bahkan menembus langit dan tak terlihat lagi. Karena kesempurnaan adalah sebuah keharusan, cela adalah sebuan hina yang tak boleh terjadi.
Aku lelah sekali..
--
Dari ketinggian sebuah menara, aku memandang jauh. Tak pernah seharipun mengeluh. Karena aku tahu aku sekuat itu. Sekalipun dahi ini sering bertemu keras pembatas tempat berteduh. Tapi ada hangat tiap kurasakan musim dingin di bawah nol derajat itu.
Kini di negara tropis yang mendapat rezeki hangat matahari sepanjang tahun aku begitu rasa kedinginan. Begitu pilu hingga tulang kurasa. Ntah kenapa.
--
Aku beranikan diri untuk menulis lagi di sini, buku catatan kusam yang tak kusambangi karena harus menjaga hati. Padahal dia salah satu tempat yang bisa menampung penat, tanpa harus bercerita, tanpa orang harus mengerti apa yang sedang terjadi. Satu-satunya yang mau menerima kusutnya otak ini, agar aku meracau dan tak harus masuk ke hati.
Karena, aku lelah sekali..
--
Senang atau bersikap tidak suka adalah sebuah pilihan.
Dan aku dipilihkan jalan ini, agar membersamai dan memberikan pelajaran, bagi mereka dan khusus bagiku.
Bila boleh memilih, aku ingin pergi, bersama dengan apa yang aku ingin, bukan selalu diberi masukan tanpa mempertimbangkan apa yang aku ingin, apa yang aku pikir.
Mungkin sudah overdosis tidak lagi saatnya diberi tapi diajak bicara, diajak untuk bertukar pikir, karena sudah ada sedikit terisi.
Tapi sudahlah, sebentar lagi akan pergi.
Yang penting, aku tidak depresi.
Menjadi penyemangat di tiap pagi,
Selain secangkir kopi hangat yang beri semangat,
Senyummu adalah yang sering kurindu,
Memeluk erat seraya beri semangat.
Berbahagia, bersama, bercanda.
Menunggu layar bioskop terbuka dengan canda terselingi, hal yang sulit kita lakukan di kala pandemi
Pun berjauhan merupakan hal yang tak mudah untuk dilalui
Berjarak dan terhalangi
Merindukanmu bagai tanah kering kerontang menanti jatuh hujan yang tak pasti
Sesekali mendung menghitam namun rintik tangis langit tak kunjung buat basah bumi
Mungkin inilah cara Tuhan menguji,
Dengan perpisahan yang tak kuingini, sekalipun harus menahan segala rapuh dan lelah dengan duduk di sudut pilu.
Namun aku selalu tahu, rapalan doa menggetar Arsy selalu akan kulafalkan.
Hingga betul nafas ini berhenti
Maut menjadi awal yang abadi.
--
Selamat menjalani hari, berjalan mimpi..
Pada salah satu tulisan, gue melihat bahwa mimpi akan sangat dekat bila segalanya mendukung. Support system sebagai penopang untuk mewujud mimpi ada.
Progress adalah segalanya. Karena tanpa adanya progress, mimpi sekecil apapun tidak akan tercapai. Sebaliknya, dengan progress yang segaris saja, suatu saat mimpi sertinggi langit akan bisa sampai.
Aku adalah seseorang yang begitu menghargai proses. Sebuah pencapaian hanya layak diperoleh bagi mereka yang berusaha.
Tapi semakin dewasa, seiring berkurangnya jatahku hidup di dunia, aku semakin menyadari bahwa sebuah pencapaian membutuhkan penopang, semakin banyak topangan dan dukungan, akan semakin mudah dan cepat untuk mencapainya. Memperbesar dan mempercepat pembelajaran dari waktu ke waktu.
Karenanya, kesempatan adalah salah satu hal yang begitu berharga.
Bermimpi besar merupakan sebuah privilege karena tidak semua orang mau dan berani bermimpi. Ada yang takut, ada yang tidak berani, bahkan tidak tahu cara bermimpi. Seringkali mimpi tidak terjadi karena kondisi lingkungan atau sekitar yang tidak mendukung. Contoh, seorang pemulung akan takut bermimpi menjadi seorang CEO karena dia sadar, untuk makan sehari-hari saja dia harus bekerja keras. Sementara bagi mereka yang memiliki kesempatan besar, dukungan yang luar biasa dari teman dan keluarga, justru menajadi malas dan memilih mematikan mimpi dengan berbagai alasan. Padahal nyatanya karena dia malas.
Berani bermimpi berarti berani mengeluarkan energi lebih untuk membangun dan menuju besar. Bila memang support tersedia, gunakan sebaik-baiknya. Bila belum ada? Buatlah sistemmu sendiri, jangan pernah mau kalah dengan keadaan.
Dan kemalasan.
--
--
Sudah lama tidak kembali ke diary ini. hehe. Dulu begitu seringnya nulis karena merasa bisa merapikan otak dan merefleksi apa yang telah rumit dan dirasa berat.
Dengan menulis gue ngerasa semuanya bisa tertuang dengan baik. Tapi ternyata dalam prosesnya ada beberapa hal yang membuat gue kurang nyaman bercerita atau menuang isi otak di dunia maya. Hal yang tadinya bisa gue jadikan self-healing diri gue serta kekusutan pikiran, ternyata malah beberapa kali jadi masalah.
Yes, dan sekarang gue bahkan berat untuk menulis. Haha. Menertawakan diri sendiri masih jadi cara paling efektif gue melepas beban dan tidak perduli dengan sekitar.
Gue dulu pernah dapet komplimen dari seorang sahabat kalau tulisan gue penuh dengan energi positif. Sekalipun nulisnya galau atau bahkan cerita dengan beratm, selalu ada sisi positif yang gue angkat dari tiap tulisan, yah seengganya buat gue. Hehe.
Betul aja, dulu gampang betul cerita dan ambil cerita positif. Sekarang? Mungkin gue ga ngerasa hidup gue semenarik dulu. Ditambah ritme kehidupan yang jauh berubah dibanding kala muda dulu. Gue dulu muda, meledak-ledak, dan mudah marah! Haha. Sekarang masih mudah marah sih, tapi lebih bisa kontrol diri sih.
Kontrol diri, atau ga peduli? Kayanya gue butuh buat refleksi lebih banyak lagi deh hehehe.
Otaknya bahkan lebih kusut dari sebelumnya. haha
Ya, akhirnya ketidaksemangatan akan menggerogoti para lemah dengan berbagai alasan untuk bangkit sekali lagi.
Tidak mudah memang untuk bangkit berkali-kali kala keterpurukan tak kunjung berhenti.
Tapi apalah artinya sakit bila tidak ada harapan sembuh: Menuju mati.
Aku bukan pejuang dengan kawanan.
Lebih baik berteman sepi dan berkawan lara namun selalu punya alasan untuk bangkit sekali lagi.
Bukan berarti aku harus tak bersahabat dengan yang mengelilingi.
Hanya aku tak mau berasa tinggi sementara mega menuju mendung atau cerah tak pernah terprediksi.
Terbaik adalah menyiapkan rencana terbaik untuk masa yang sulit.
Sekalipun telah berdedikasi, desing peluru menuju jantung tak henti-henti.
Aku hanya punya diri dan mimpi.
--
Aku pernah bermimpi: Menjadi seorang Profesor. Salah satu mimpi yang begitu kudamba kala masih menjadi seorang idealis bernama mahasiswa.
Menjadi seorang sabar mungkin memang bukanlah gayaku. Terutama bila harus terus bersinggungan dengan ekslusivitas dan hal yang begitu administratif. Keinginanku untuk mengajar kuat memang, tapi aku mundur bila terus didera rutinitas tanpa didukung oleh lingkungan yang baik. Iya, aku pecundang memang. Tapi keberpecundanganku bawa positif dengan apa yang kumiliki hari ini. Itulah hidup, ya?
Pernah kuberpikir bahwa kami adalah kumpulan orang pintar dengan kegiatan kosong. Kegiatan berujung pada gosip-gosip obrolan rumah bawa ke kantor. Ya aku tahu akan banyak yang mengecam dengan opini tersebut. Karena berangkat ke kampus untuk sekedar menggugur kewajiban dan menunggu pulang bagi sebagian kami bukanlah hal yang aneh lagi. Tapi di beberapa institusi, hal tersebut adalah hal lumrah dan merupakan rahasia umum.
Tidak, tak semua dari kami demikian, ada yang betul-betul beri sumbangsih tanpa mengharap apapun kecuali murid menjadi lebih baik. Menyedekah ilmu tanpa berpikir pamrih. Mereka kuanggap orang hebat sekalipun banyak hal buruk memecut orang-orang baik ini. Beberapa adalah role model untuk kuambil kebaikan dan landasan perjalanan hidup. Dan memang, orang baik akan selalu mendapat ujian yang lebih berat. Seperti kebanyakan mereka. Ada kala hatiku hancur, ketika kulihat kolega dekat menangis karena hal administratif atau yang cerita sesepele, 'orang baik tak ikut gerbong hanya akan dibuang'.
Begitulah kami, banyak hal tak terceritakan karena citra memang hal penting yang harus dijaga.
Mendapat gelar profesor mungkin bukan jalanku. Namun aku telah belajar banyak dari mereka, para profesor ilmu dengan atau tanpa gelar yang tersemat di nama meraka. Mereka yang tak berpamrih dan turut mengukir sosokku hari ini.
Selamat pada seorang guru dan pengayomku di sebuah institusi yang besok akan dikukuhkan gelar Guru Besar di depan namanya.
Ah, nyatanya sekalipun terus merundung, aku rindu suasana teduh saintifik itu.
--
Di sebuah kios ikan yang baru terbangun kemarin
Beberapa media sosial saya tutup beberapa minggu lalu dari laman pintar saya. Bukan deaktivasi, hanya sekedar menghilangkan dari ponsel saja.
Hasilnya? Menyenangkan. Saya tidak harus buka instagram atau twitter untuk mengisi waktu kosong. Saya jadi lebih banyak gunakan waktu luang saya bersama Mbak Kenyo dan/atau mengisi dengan menghubungi beberapa kontak lama. Bila butuh hiburan? 9gag selalu jadi pilihan saya sejak satu dekade lalu. Hehe. Untuk menulis? Selalu ada ciptaweje dan cwjati yang siap ditumpahkan rasa selain mulut dan telinga.
Ternyata mengurangi hubungan dengan dunia luar bisa buat lebih fokus dengan apa yang sedang dikejar. Serta mensyukuri apa yang menjadi 'present' di hidup ini.
Bukan tidak mungkin saya akan menyambangi kembali dua aplikasi yang dulu banyak menyita waktu saya sekedar untuk mengikuti perkembangan hidup mereka yang saya ikuti. Itu biarlah nanti. Sekarang biarlah saya tenggelam dengan nikmatnya hadiah hari ini serta karunia persaudaraan dan persahabatan pada circle yang jauh lebih kecil.
Terima kasih.
--
Saya penyuka senja. Begitu mengagumkan bisa melihat langit yang saya selalu kenal berwarna biru atau hitam beri warna jingga begitu memesona.
Seperti langit, kita sering kali beri warna umum untuk orang tahu. Namun selalu ada warna kelabu bahkan kelam yang tidak selalu orang suka. Beberapa mungkin akan bisa nikmatimu dengan warna hitam itu, tapi beberapa yang lain memilih untuk tidak hiraukanmu.
Namun senja selalu beri warna haru, ketika akan berpisah dengan warna menyenangkan. Seperti beri tanda bahwa ia akan pergi, sementara.
Yang tidak pernah kita tahu, kapan kita bisa bertemu lagi dengan senja seindah itu.
Karenanya, tiap tiap senja selalu spesial bagi saya, karena tidak selalu saya bisa nikmati dengan penuh kekaguman dan tenggelam dalam pikiran.
![]() |
| Bocoran! Ini logo kami! Hehe Img source: Dokumen Pribadi |