Saturday, April 2, 2016

Dari seseorang yang patah hati.


Kamu boleh anggap aku sok tahu, atau mungkin tertawa melihatku jatuh kali ini. Tapi percayalah, perasaan ini bukan hal yang kamu mau rasakan kala kamu rasa bahagia.
Biarkan aku meracau sembari kau sangkal sedemikian rupa, toh pada akhirnya aku akan tuli terhadap perkataanmu..

Ntahlah, rasa ini begitu membingungkan, aku tak bisa terima kenyataan yang pelan menancap dalam rasa.
Sesak ya? Mungkin bajumu kesempitan, sudah saatnya ganti baju yang lebih nyaman dan bagus. Sabar, sebentar lagi pasti kau temukan baju baru yang membuat bahagia lagi.

Mungkin kali ini hatimu perlu kau letakkan sebentar, bukan karena kamu takut terbang tinggi. Tapi, tak lelahkan kamu terus-menerus menjahit dan menambal ulang tiap milimeter sobekan di hatimu? Yang setelah baik dan bisa dibumbungkan lagi, maka akan ada yang membidik untuk sekedar mencari puas.
Kasihan..

Puaskan dirimu dahulu, barulah cari cara membahagiakan orang lain.

Mata anak panahnya masih menancap, kubiarkan nanti membusuk, kucabut nanti mati.
Biarlah aku membesarkan paru-paruku sejenak, karena untuk bernapas saja sulit.

--

Friday, February 26, 2016

Pamit

Anggap saja ini rangkai kata dari seorang amatir untukmu terakhir kali, di kisah sebentar kita, dulu.

Kita kuibaratkan apa yang kulihat saat ini. Di meja kerjaku, ada segelas kacang hijau dan segelas kopi ke-empatku. Kacang hijau yang manis dan menyehatkan seperti kau dan hidup yang kau jalani, menyehatkan walau mungkin kadang membuatmu bosan. Sedang kopi hitam tanpa gula yang selalu terasa pahit adalah penggambaranku. Tak perlu kujelaskan mengapa, kau pasti tahu. Kejujuran bagi kopi adalah segala mengenai asam dan pahit, karenanya banyak peminum yang mencampurnya dengan krim atau gula. Pun ada manis dari rasa kopi itu adalah hasil palsu ketertutupannya. Ya, pemanislah yang menutupi rasa asli kopi. Benar-benar aku, bukan?

Saturday, February 20, 2016

'Kita', katamu.

Setetes demi setetes kau isi aku dengan harapan tinggi.
Sebuah asa yang tak pernah aku percayai selama ini.
Dan dengan lugu kuberikan kunci.
Ya, kunci ruang duniaku, taman bermainku pribadi, dimana aku selalu bernyanyi, menangis, memaki sendiri tanpa seorangpun aku bagi.
Namun ternyata bukan mengetuk halus, malah seenaknya saja kau menerobos masuk, meraihku, menarikku ke dalam duniamu, dan menyatukan hati. Apa maumu? Kurang ajar!
Duniaku kini hilang, aku tak lagi sekuat dulu, karena kemanapun aku memandang, berlari, bersandar, selalu ada sosokmu, tawarkan teduh serta langit biru.. aku yang terbiasa sendiri dan memecut sendiri punggungku agar lebih tegak hanya bisa diam dalam belai elus halusmu. Aku luluh lantak!
Beraninya kamu!

Padahal tak pernah aku ingin memberikan barang berhargaku kepada siapapun. Terutama hati.
'Ah, mereka suatu saatpun akan pergi.', pikirku.

Wednesday, February 17, 2016

Bila nanti kamu..

Bila nanti..

Bila nanti kamu sedang mengejar mimpi..
Ketahuilah ada doa dan harapan dari mereka yang menyayangimu. Keinginan yang selalu bertumbuh dalam kemuliaan, untuk menyembuhkan jiwa yang sakit.

Bila nanti kamu sedang mengejar mimpi..
Mungkin tak semudah berlari di jalur halus, karena kamu akan bertemu dengan penat, lelah, dan payah. Jadikan semua sebagai penyemangat, karena banyak letih yang telah terlewati. Kali inipun sama, sulit memang, tapi akan berhasil sempurna pasti.


Bila nanti kamu sedang mengejar mimpi..
Ada kalanya Kamu akan merasa segalanya berat dan akan datang rasa ingin menyerah mati. Bila terjadi, coba sejenak berhenti dan menolehlah ke belakang. Tanyakan pada dirimu, sudah seberapa jauh perjalananmu hingga kini, sudah berapa banyak waktu kamu habiskan untuk sampai di sini? Oleh sebab itu, percayalah, garis itupun sama, tak akan menghalangi.

Sunday, February 14, 2016

Rencana bimbang

Aku ingin jatuh cinta lagi.
Ketika kita bertemu untuk dipertemukan, tersenyum untuk saling memberi ketenangan.

Kalau kau sibuk mencari, kapan kau akan berhenti dan menikmati? Tak penatkah kau berlari?
Beristirahat sejenak, 'kan kurengkuh dengan bahu yang juga letih ini, siapa tahu bisa saling menguatkan.

Jangan berencana untuk pergi, apalagi bercanda dengan kepergian itu, karena itu satu hal yang akan kau sesali nanti..


Tapi bila bertahan, sudahkah kau hitung dengan eksak hingga deret angka terakhir, berapa probabilitas kita bisa bersama? 'Jangan membuang energi.', katanya.

Wangi tubuh serta noda pemoles bibirmu di bajuku sampai sekarang masih aku simpan, mungkin tak akan kucuci hingga nanti ada waktu untuk bertemu. Sama seperti noda yang kau beri pada hati, biar saja hingga kotor, apa peduliku? Toh kunikmati.

Pada saat nanti aku mampu memusatmu, mungkin disitu aku bisa mengejar semua mimpi. Tak menimbang dengan bimbang. Kasihan.

--
Boleh aku kembali menuju 6 tahun lalu?

Friday, February 12, 2016

Berpantang

'Aku ingin pergi sejenak, bolehkah?'

Mengenai kepergian..
Kau pikir itu kata2 yang bisa dijadikan permainan? Atau sekedar lelucon untuk ditertawakan demi menahan nafsu? Ntahlah, karena tiba-tiba aku terhenyak akan kata-kata itu..
Aku sudah cukup bermain-main..

Pergi, pergilah, jangankan sejenak, selamanyapun tak mengapa. Mungkin kesendirian memang kata yang paling dekat dengan hidup, aku lahir sendiri, matipun akan sendiri. Jadi kenapa takut sepi? Bukankah sepi adalah kawan paling setia kala semua pergi?

Itulah sebab aku takut percaya lalu berani bermimpi denganmu. Sekuat itukah kamu menahanku? Sepercaya apa kamu bisa menopang? Bahkan dua kaki ini seringkali goyah menahan pundak juga isi pikiran untuk dibagi.

Pergilah, aku akan terus disini, ketika semua berlalu-lalang dalam lalu lintas perjalanan hidupku.

Lagipula, memalsu senyum adalah keahlianku. Aku akan kembali memejam dan bermimpi. Karena mimpi adalah sebaik-baik tempat untuk sementara bersembunyi.

Tunggu saja, nanti aku akan kembali untuk bangkit, dengan atau tanpamu..

--
'Aku tak bahagia hari ini..'

Wednesday, February 3, 2016

Dia, Si gila!

Aku punya kawan satu yang selalu berhasil membuatku tergelitik menulis dan mengadaptasi, gaya bicara yang selalu enak didengar, juga sikap yang menarik menurutku. Sebut saja dia gila, karena memang apapun yg dikeluarkan dari otaknya kurasa selalu brilian, dengan perspektif yang berbeda, juga caranya menyampaikan yang persuasif.

Jarang aku bisa kagum dengan seseorang. Tapi ntah, sahabatku satu ini memang luar biasa, aku yang katanya bisa hipnotis orang dengan kata-kata saja, selalu berdecak kala dia bicara. Yang pada akhirnya  kujadikan dia saingan berat untuk aku kejar dan kalahkan. Dia tertawa ketika kusampaikan suatu saat akan kulewati dirinya, dan kurang ajarnya hari ini diapun melakukan yang sama! Terbahak waktu aku bilang aku berhutang melewatinya suatu saat, sial! Hey, tunggu saja kau kusalip!


Dia bersahaja, tawa juga cara pandang yang baik selalu dia bagi pada kami. Walau seringkali luput dari perhatian, namun buat kami makin awas pada banyak hal. Berjuta hal dia tularkan padaku, kuanggap itu virus baik untukku. Bagaimana tidak, memperhatikannya saja sudah buatku menggelegak dan ingin lari lagi, apalagi sampai diskusi mengenai perencanaan masa depan.

Rapuh.

Kubersimpuh sekali lagi, karena pagi ini terlalu penuh untuk kulalui. Kutahan bening penyebab kabur pandangan, hati ini sedang lunak-lunaknya mungkin. Aku kehabisan kata, rumit.


Bertengadah aku bercerita.

Tuhan, bila memang subtitusi bahagia Kau perbolehkan, maka gantilah setiap titik sedihnya dengan kebahagiaan yang aku miliki. Tukarkan saja tiap detik lelah juga sakitnya dengan kesehatan dan kekuatan yang aku punya. Biar aku yang menanggung perih dan deritanya, aku siap!

Tuhan, bila memang hari ini Engkau memberikan padaku satu jatah doa untuk Kau kabulkan, maka mohon Kau berikan padanya kemurahan senantiasa, kebahagiaan tak berbatas. Isi harinya dengan spektrum warna tak terhingga, jaga ulas senyumnya selamanya. Beri dan penuhi segala harapan terbaik untuknya, jangan pernah buat ia merasa kecewa.

Tuesday, February 2, 2016

Ini rahasia..

Baru saja kubaca tulisan teman yang isinya, 'persahabatan yang terbatas rasa..'
Pada hakikatnya, rasa berlebih pada manusia adalah anugrah sekaligus bahaya.
Dan sebelum kau banyak bicara, coba sebentar mendekat. Kudekap. Lalu bandingkan hangat mana, aku atau dia? Tentu aku, bukan?

Mari, ikut aku isi waktu. Mungkin kita bisa berjalan di taman atau menikmati beberapa wahana. Jangan tanya aku dengan siapa, karena akupun tak akan peduli kau dengan siapa saat ini. Yang penting, kita.

Sebut saja ini mimpi di siang hari, ketika letih bekerja kita butuh istirahat sejenak dan pejam mata, mencari bunga tidur. Asal tak terjebak dan tak bisa keluar saja. Menghindari nyata.
Ketika cahaya padam, hari berganti, malam panjang, orang asing yang menghampiri. Kita nyenyak bersama.
Aliran deras, canda, dan rasa. Kamu pergi, tak berkabar. Pun nanti kembali ketika saat tiba. Kita saling berhadapan, menunggu kantuk tiba, hingga hilang untuk kedua kalinya, berdua.
Dan malaikat akan pergi, menyatu dalam putih.


Oiya, aku tak tanggung bila rasa makin dalam, ya. Itu urusanmu, juga urusanku, tapi bukan kita. Hati-hati main api bila tak yakin mampu atur distribusi gas kendali nyalanya. Masing-masing, tapi saling jaga. Lucu.

Sstt, ini rahasia kita. bukan dia atau dia.

--
Untuk hati yang lain, aku tak bisa.

Sunday, January 31, 2016

Raindrops

Mungkin, ini akan terasa berat, hingga kamu tak mampu menahannya.
Ya, kamu tahu pasti akan itu.
Setengah berbisik, berujar pelan padaku, 'Rasa seringkali menyakiti..'

Dingin disertai mendung di balik pembatasku dengan rintik air.
Basanya seperti biasa, menyeruak mengacaukan pertahanan logika, membumbunglah rasa.
Aku tertegun.
Kemudian, aku bertanya pada Tuhanku mengenai keyakinan. Bila aku harus yakin pada Tuhanku, bagaimana caraku meyakini rencanaNya kali ini? Saat Dia pertemukanku pada sesuatu yang beda?


Friday, January 29, 2016

Bertembok

Masih saja protes dengan label rasa kita yang bertembok? Berhentilah berpura-pura dan mengatakan semuanya baik-baik saja, dimana ada kata baik kala ada batas antara kita? bagaimana pula cara memadukan dua hal yang tak mungkin tercampur, bagai minyak dan air?


Sudahlah, hentikan kata-kata, 'hai, aku baik, kamu gimana?' milikmu itu. karena mana ada yang baik dari pemaksaan sesuatu?
pikiran ini melayang, memperkirakan apa yang akan terjadi nanti, bagaimana bila ini, apa jadinya bila itu dan lain sebagainya. Berkecamuk. Ha

-

Dan, aku trenyuh saat kamu katakan, 'demi kebaikan, aku akan lakukan.'. Luluh lantak aku merasa bersalah dengan pikiranku, betapa aku memandang segalanya berdasarkan perspektifku. terlalu sering aku menguji, sedangkan pertanyaannya adalah, 'sejauh mana kau suka diuji?'
Aku merasa egoisku keterlaluan, bagaimana mungkin aku bisa keras pada sesuatu yang sangat lembut sepertimu? 

Kamu godaan yang luar biasa! Ntah berapa lama lagi aku mampu bertahan. Pergilah saja, karena aku terlalu takut untuk jatuh lagi, tak berani percaya lagi pada mimpi, karena nyatanya tanah yang keras itu tak pernah membuai.

Aku takut kamu kecewa, lalu pergi. Jangan, ya..

--

Thursday, January 28, 2016

Kepadamu penyejuk hati di pagi hari, aku ingin bangun berkali-kali dan menyadari ada kamu di pagiku. Kumandang adzan yang kudengar setiap hari, kusematkan harap pada tiap lantunan doa yang kita haturkan bersama.

Biarlah rindu ini kutahan dulu, mungkin kita akan bertemu beberapa waktu lagi, mungkin. akan kuperbaiki nantinya.
--

Tuesday, January 26, 2016

Bulan bintang, Palang.

Dan aku selalu iri melihat mereka yang bertemu di saat yang tepat, saling mengisi dan memberi. Saling membanggakan.
Pernah sekali aku lewati itu.. rasa membuncah seperti gelas yang tak pernah penuh sekalipun terus-menerus diisi. Puji dan pembelaan satu sama lain, serta keberhargaan kepemilikan di masing-masing pribadi. Hingga saat dia begitu berani. Keberanian kejujuran diri, meminta untuk berganti, padahal sudah jelas itu adalah harga mati.

...

Lama aku lupa rasa itu, coba tunduk pada garis penuntun, bahwa beda akan menjadi penghalang utama dari sebuah kebiasaan, dari sebuah toleran.
Hingga sekali lagi, aku dipertemukan dengan makhlukMu.


Pun aku tak menerka, genggaman itu mampu berdampak seburuk ini.. Aku retak, perlahan kau kikisi pertahananku hingga batas akhir dalam tempurung rasa yang harusnya hanya satu. Kau buat gamang. padahal aku ingin 'tuk tak lagi jatuh dan/atau tenggelam dalam spektrum rasa pada warna yang berbeda. Dosakah?

Monday, January 25, 2016

Puzzle

Aku menyebutnya puzzle. Membuatmu harus berpikir untuk menyelesaikannya. Memaksamu lebih keras berusaha untuk melengkapinya.

Pun yang aku lakukan saat ini serupa. Mengendap-endap, cemas, berkeringat dingin. Aku seperti maling!

-Rindu dengan segelas 'kopi ngeri' buatan sahabat, dimana ketika selesai membuatnya dia akan berkata, 'Nih Cip, cobain, enak ga?', lalu tersenyum lebar seraya curiga kala 'ku perlahan menyeruputnya.
Rindu momentum, bukan masa lalu. Mungkin suatu saat kita akan bertemu. Ketika tiba waktu itu, aku tagih kembali keahlianmu membuat kopi!-



Teka-teki. Labirin ini menuntunku entah kemana, kususuri perlahan. Aku tahu, pada akhirnya aku pasti akan keluar juga. Entah keluar untuk menang, atau kalah.
Terima kasih untuk senyum yang kau beri pagi ini, tepat ketika aku membuka mata.

--

Sunday, January 24, 2016

Bahak

Dan hujanpun turun.
Menyapa khalayak ramai beradu rindu, mempertajam insting serta kecamuk rasa.

Rintikmu yang disertai bahak langit, seolah meleceh manusia yang masih saja terkungkung dalam gejolak asa.

Kasihan, padahal dia hanya tidak tahu kemana harus berjalan atau kepada siapa harus bersandar.
Mencurah..

Batas titik kering pada basah yang kamu titipkan pada sekecap rindu masa lapang, bahagia yang terlewat.

'Kamu kenapa?', sekalipun ingin pertanyaan itu, dia tak tahu harus menjawab apa. Dia terkurung, antara malu dan tak tahu..

Seraya mengintip kasa. Kulihatnya, lalu lirih aku bersuara, 'logam amalgam, jawab aku..'
Semua diam, bisu, memalingkan muka. Sementara muka ini masih terlihat kebingungan.

Impulsif, atau pikiran berloncatan. Tak beraturan. Schizophrenia, mungkin.

--
'Jangan-jangan kamu kaya pasienku..'

Saturday, January 23, 2016

Jika aku tak merindumu.

Bila aku tak lagi merindumu, maukah kau maafkanku?

Tak apa bukan, bila saat ini tak ada lagi rindu? Tak ada rasa ingin bertemu.
Sedikit aku berbagi, yang tak langsung kepadamu. Mungkin kita
bicarakan nanti ketika kau tanya
aku, "Apakah
Kamu merindukanku?".

Baik, kumulai dengan jujurku, kuharap tak menyinggung atau menyakiti siapapun. Bahwa ada yang sedikit menggangguku.

Bukan aku ingin bersikap tak semestinya bahkan antagonis. Namun ini aku,
Tercermin dari perasaan berdosa yang
Aku coba jujuri..

Aku tak ingin berpanjang lagi.
Tapi benar
memang. Saat ini aku merindumu.
Mungkin karena ada sesuatu, mungkin
karenamu..

--
nya, mungkin.

Thursday, January 21, 2016

Tukang Parkir

Ini post yang harusnya gue publish kemarin, bukan hari ini. Tapi yaudahlah gapapa, walaupun mungkin rasanya kurang greget, minimal bisa tumpah biar plong..

Hmm.. jadi beberapa waktu belakangan ini, gue sering dikunjungin temen-temen, atau sebaliknya, gue yang mengunjungi mereka. Dan biasanya terjadi sedikit kebaperan yang seharusnya ga terjadi. Well, bukan gue namanya kalo ga baperan dan/atau kebanyakan mikir. Eh, gue nulis post kali ini ditemenin lagunya adera yang melewatkanmu, suaranya sebelas dua belas sama gue, mirip mirip gitu. Lagunya sengaja gue puter biar bisa lebih menghayati proses penulisan post. Yah yaudahlah ini gue udah makin baper, ntar ga selesai ceritanya..

Oke, tadi sampe mana? *scroll*
oh iya kunjungan.. ntah kenapa gue selalu rasa sedih dipenghujung kunjung-kungjungan ini, yang kadang sampe lebe. Contohnya aja kmrn, jadi ada beberapa temen yg mampir kesini buat liburan. Gue sebagai temen yg baik pastilah nyempetin buat ketemu mereka dong.. maka, terjadilah pertemuan yang singkat namun memberikan ilmu baru mengenai laut dan pantai dan isinya dan semuanya deh. Singkat cerita, ketemunya mmg cuma sehari dan ga lama. Tapi apa yg gue dapet bikin gue seneng. In the end of story, merekapun pulang ke asal, di hari kepulangan, gue jg sempetin nganter ke stasiun, kebetulan stasiunnya deket bgt drai rumah gue, gasampe 7menit.

Di stasiun, Mereka kembali dengan riang ketawa cerita soal pengalaman dan ga ketinggalan foto-foto, sementara gue mengantar dengan senyum hambar.. ntah kenapa kalo abis disambangin terus yg nyambangin pulang, rasanya ada yang hilang aja.. mereka pulang dengan bahagia, guenya sedih sendiri. Aneh..

Hal ini bikin gue mikir, apa yang terjadi dengan seorang gue, kenapa gue lemah? kenapa gue sedih? Kenapa gue selalu laper dan pengen banyak makan?? Eh sorry, itu beda cerita..

Lalu, gue inget sama tukang parkir dan tiba-tiba ngerasa gue harusnya sama kaya para tukang parkir itu. Yang selalu disinggahi sebentar mobil atau kendaraan lainnya yang bagus bagus, tapi selalu ikhlas waktu mobil mobil itu pergi. Kendaraan banyak tapi ga pernah masalah ditinggal pergi.. gue harusnya kaya gitu.. harusnya biasa aja ketika ada yang datang dan pergi, ikhlasin aja..

Well, Itu aja sih yang mau gue share kali ini. Sering kita ngerasa sedih ketika ada yang pergi, mungkin karena kita gatau bisa atau engga ngerasain kebahagiaan gtu lagi, kesempatan selanjutnya untuk bertemu, dan lain sebagainya. padahal kenapa mesti sedih? Toh semuanya udah ada yang ngatur kan?

Lagian, kalo memang ga memiliki, kenapa harus sedih ketika sesuatu itu pergi? Kaya tukang parkir..

Udah ah, gue mau lanjut ngegame sama chatting dulu. Makasih udah baca. Xoxo *biar anget*
--
Gapunya, jadi gaboleh sedih

Tuesday, December 22, 2015

Ini ceroboh..

Ntah gue harus seneng atau sedih.. ternyata link yg selama ini paling gue tutup rapet ternyata justru gue buka secara masal.. sebut saja itu kecerobohan gue, tapi yaudahlah, udah terlanjur namanya juga..

Sosial media satu ini termasuk yg paling ga gue share ke siapapun, yg kalopun memang kebuka secara ga sengaja atau secara kebetulan ditemuin sama orang yg lagi iseng yaudahlah gapapa. Tapi kalo gue yg ngasih dengan cara bodoh kaya gini ya udah, gapapa. Namanya juga ga hati-hati. Tapi yaudahlah. Memang seberapa banyak sih yang peduli sama tulisan-tulisan buah pikir dangkal yang seringkali disertai emosi ini? Ya paling itu-itu aja yang paling ga dibaca juga sama yang diarepin.. :|

Manusia sukanya gitu sih. Pura-pura.. pura-pura gapapa, pura-pura kuat, pura-pura perhatian, pura-pura sayang bahkan *eh..
Dan ya memang banyak yg jago sih soal pretend satu ini. Tapi gapapa. Hakikatnya memang gitu.. suka ngeluh sama ngadu sama yang ada di depan. Kaya gue, kadang ngeluh sama tembok, kadang kipas angin, sama ikan di kampus, sama kendaraan gue, yah seketemunya lah.. yang penting ada yang dengerin..
*Tiba-tiba lagu Adera - Lebih Indah keputer di telinga. Terus gue mesti gimana dong ini? Mesti pura-pura juga?? :|*

Oke, jadi hari ini Hari Perempuan Nasional, pagi-pagi bangun langsung deh ucapin ke beberapa orang, mama gue nomor satu, dua sodari kebanggaan (Mba Tyas juga De Aluh), Dy, beberapa sahabat, dan juga mama-mama(sebut saja tante-tante) yang lain.

Dikelilingi orang hebat yang bisa ngasih arti memang bahagia rasanya. Tapi kalo lo rasa belum bisa kasih arti? Gimana hayo rasanya? Ya kejer lagi, lalu jatuh, introspeksi, bangkit, terus kejer lagi! Gitu terus sampe kesampean deh pokonya..

Minggu ini sibuk, dan beberapa masalah kesehatan mulai ketauan, masalah mental juga jiwa bakal jadi isu hangat beberapa waktu ke depan sepertinya. Tapi ya gapapa deh. Intinya ya tetep harus bahagia, tetep harus senyum, karena ga semua orang bakal mau denger juga ngerti apalagi rasain yang lo rasain kan??

Persetan! Bangkit lagi yuk! Buat ngehajar semua cibiran yang didapet pake kesuksesan yang lo raih..

Udah ah, cape. Selamat hari perempuan untuk seluruh perempuan luar biasa yang ada dalam hidup gue. Merdeka!!!

-
Kalo bukan nanya temen gue, mungkin gue ga bakal sadar. That's what friends are for 'kan? :D

Sunday, December 20, 2015

menulis?

ya.. menulis..

Menulis? untuk apa kamu menulis? 
aku menulis untuk menuang rasa, sekedar mencaci atau berkeluh kesah.. yah dibanding aku bercerita kepada tembok kamar atau manusia berhati batu, lebih baik aku bercerita dengan menulis (atau mengetik).. tidak mengganggu bukan? karena hakikatnya para Homo sapiens ini lebih suka didengar dibanding mendengar. ingin kutampar rasanya. tapi yasudah aku diamkan saja, tak perdulikan..

Kenapa tak ceritakan saja kepadaNya?
Kan, mulai sok tahunya.. Sudah aku katakan, aku menulis dan menuang rasa, bukan kepada manusia, tapi selembar kertas maya, yang mungkin memang dibaca orang banyak, tapi disitu aku bercerita tak hanya kepadamu, tapi juga Dia.. silakan kamu salahkan caraku, toh semua orang memiliki caranya masing masing dalam melakukan sesuatu, bukan?

penaku menulis..

Ada lagi

Nyatanya, ada lagi yang tersakiti. Sekuat apapun usahanya, di akhir ada kecewa..

Pernah kosong, ia tambali satu persatu, dijahit dengan benang seadanya, tanpa perekat dia meyakini semua akan baik kembali..

Nyatanya, satu lagi hati terkoyak. Mungkin ia jengah dengan kondisi, banyak ditumpuk, tak terkurangi berkala, terus diisi, hingga BLAM! Meledak!

Lalu habis. Terlalu parah kerusakannya. Tak mampu beresonansi. Padahal ia ahli dalam bidang tak perduli, malah kamu beri alasan dia untuk mengeras kembali. Kau keringkan, kau peras sekuat-kuatnya dengan cara paling kasar yang kau tau.

Kudekati, kulihat serpihannya. Seketika aku terbahak. Tertawa aku membelakangimu dengan nada A minor. Ironi.

Enggan ia kini untuk percaya. Sudah mati..
--
Overtune..