Thursday, May 21, 2020

Waktu semua ini berakhir

Kalau pandemi ini berakhir, apa yang mau lo lakuin? Kalau memang semua ini sudah selesai dengan segala keterbatasannya, apa yang pertama bakal dikerjain?

Beberapa waktu terakhir, gue banyak banget nyusun rencana. Rencana yang bakal gue lakuin ketika wabah ini selesai dan bisa sedikit lebih bebas ngelakuin apapun. Bebas dalam artian tanpa khawatir akan tertular, tak segan melakukan banyak hal tanpa ketakutan.

Gue juga sadar, bahwa wabah ini tidak akan selesai secepat yang dibayangkan. Boleh berharap baik, tapi dari sudut pengetahuan gue yang ga seberapa ini, sedari awal ada outbreak virus dan ditemukan kasus di Indonesia. Gue langsung bilang sama diri gue buat ga berharap terlalu tinggi segalanya bisa kembali normal dalam waktu satu atau dua bulan. Engga, itu engga mungkin. Bahkan penyakit yang bisa menjangkiti dunia ini mungkin baru betul-betul bisa dijinakkan dalam waktu yang relatif ga sebentar. 

Ga ada salahnya berharap. Tapi kalau ketinggian juga yang ada kecewa, bukan? Jadi tetaplah berpikir positif tapi jangan ketinggian. Nanti jatuhnya sakit. Ehhe. 

--
Yuk jalan-jalan? 

Wednesday, May 20, 2020

mau apa

Sebentar lagi lebaran. Lebaran yang berbeda. Kali ini tanpa goreng pempek. Kali ini lebih banyak tidurnya.

Yes!

Sunday, May 17, 2020

Surat Pertama Untuk Aurum

Aku jatuh cinta lagi..

Pada pemilik senyum mungil dengan mata berbinar.
Engkau yang berpipi gembil dan kulit bersih bersinar.

Begitu hangat tiap dekap yang kadangkala kau rasa tak nyaman.
Betapapun pikiran ini bising karena dunia, selalu dirimu mampu hapus dengan ulas senyuman.
Pandangan nakal tiap kali kuajak bercanda, buatku sadar kaulah anugrah indah dari Tuhan.
Begitu indah hingga seringkali aku sesak dan ingin memelukmu lebih lama, takut ada kehilangan.

Terima kasih untuk tiap pagi yang kita lewati.
Semoga waktu tak terlalu cepat berlari.
Agar aku bisa berlama mengelus pipi.
Dan menciumimu kapanpun kuingini.

Satu lagi...
Jangan malu genggam tanganku..
Sekalipun di depan gengmu..
Tetaplah menjadi pengindah hari.
Pemberi cinta penyejuk hati.
Ketika engkau besar nanti..

Dariku..
Fans terberatmu nomor satu..

--
Daddy

Saturday, May 16, 2020

Menjadi besar tentu harus ikut proses, begitu juga dengan rintisan.

Bila langsung jadi besar, apakah itu bukan berarti bersiap-siap untuk jatuh?

Bagi yang sudah terbiasa dengan tinggi dan punya persiapan terjun bebas pasti akan lebih aman. Namun celakalah bagi mereka yang tenggelam dalam gelimang dan tak bersiap.

Jatuh itu pasti, apa persiapanmu?

--

Friday, May 15, 2020

Lewat Suara

Gue lagi lumayan sering ngomong beberapa minggu terakhir. Tapi ngomong yang ada isinya, bukan cuma marah-marah doang sama anak. Tapi omongan yang diawali dengan berpikir. Covid ini betulan membantu gue untuk berpikir banyak, dan menyiapkan segala sesuatu untuk memulai lagi.

Memulai apa? Semuanya!

Iya, memulai lagi menata diri juga hati, memperbaiki usaha dan sistem perusahaan, memulai lagi memastikan kehidupan di masa datang, dan mereset ulang list mimpi yang terlanjur tidak tercapai.

Banyak hal tertinggal. Gue terbuai waktu luang yang buat gue ga awas sama apa yang terjadi di sekitar kita. Bahkan gue terlindas oleh buai waktu berjalan, sibuk berlaku tak perlu sampai gue tau semua sudah jauh berlalu.

Salah satu mimpi itu adalah, gue pengen siaran lagi! Hehe. Segitu rindunya bersiaran dan menyapa pendengar. Beberapa tahun lalu bahkan gue sempat ketemu sama salah satu orang radio lokal buat nawarin kerja sama, atau seengganya buat diskusi deh. Tapi gue ilfeel karena ni anak songong banget! Haha. Salah satu kesempatan gue buat mengudara lagi akhirnya kandas. Yahh..

Tapi berkat covid ini, gue menjalin lagi silaturahmi dengan berbagai orang yang buat gue rasa lebih bebas. Nama-nama lama tempat nyantai ngobrol dan diskusi. Sampai akhirnya kesempatan mengudara ada lagi! Yes!

Kali ini ga lewat radio memang, tapi via podcast. Semacam Audio On Demand gitu yang rekam suara kita terus diunggah ke internet, setelahnya pendengar bisa listening ke podcast melalui platform-platform tertentu. Ini sudah minggu kedua gue mengudara. Menyenangkan!

--
Ps. Oh iya, gue sementara numpang dulu siarannya, sama Ex-penyiar Radio PPI Dunia juga! Yay!
Pps. Tenang, bakal punya podcast sendiri juga kok. Tunggu aja.. :*

Tuesday, May 12, 2020

"Pak, saya mau bisa berangkat S3 sebelum umur saya 30. Bisa ga ya pak?"

Beliau tersenyum sedikit terkejut mendengar anak didiknya menyebut sebuah asa yang bukan main-main.

"Hmm.." terlihat kerut di dahinya seraya memilih kata-kata yang akan disampaikan pada muridnya ini. Sepertinya beliau tahu, mimpi ini bukanlah sesuatu yang mudah diwujud.

Akupun baru menyadari, hidup begitu tak tertebak.

"Udah, kamu fokus dulu aja buat berangkat. Perjuangan ini masih panjang, Cip. Dan berdarah-darah. Kalau nanti sudah pulang, kita ngobrol lagi"

-

Penggalan percakapan saya dan seorang dosen yang sudah saya anggap ayah ketiga saya di Semarang. Ruangan Administrasi Magister Manajemen Sumber Daya Pantai, Universitas Diponegoro

Aku baru menyadari saat ini, mengapa beliau menjawab saya seperti itu. Karena sejatinya hidup begitu berliku dan rumit. Semangatku tergerus waktu juga hantaman hidup. Keinginan tak sekeras itu lagi.

Tiba-tiba aku malu bahwa sering dengan pongah berkata pada para mahasiswa, bahwa untuk menggapai mimpi dibutuhkan energi besar sekali.

Satu hal yang lupa saya berikan kepada mereka, "Waktu begitu bengis menitiki segala kantung semangat yang pernah seorang manusia punya begitu banyak."

--
Sial, aku rindu pada nyala api dalam dada buat buncah semangat tak mudah mati.

Monday, May 11, 2020

Mimpi Besar

Jutaan memori terekam, tak terulang. Ingin aku ceritakan lewat nada yang aku sadar tak harmonis. Keterbatasan ini membuatku banyak buat aku merefleksi, membuat bahagia dalam keadaan tak mudah.

Begitu banyak mimpi terkubur satu persatu, aku bukan tak ingin wujudkan, namun hanya sedikit perlu waktu. Tergerus ekosistem dan realita yang seringkali menyebalkan.

Waktu kini berubah banyak, buat ego juga rasa membuncah sebab berat untuk tunjukkan wajah asliku. Aku hanyalah aku yang begitu ingin ucap rasa pada banyak orang.

Bahwa aku masih disini, masih menyimpan mimpi begitu rapat. Merapal ulang mantra-mantra lama yang kutaruh entah dimana. Kucoba kutambal ulang, sulam kembali. Agar lebih mudah bagiku tentukan arah. Aku selalu bersyukur, dari sebuah cobaan selalu ada harapan.

Kali ini, harapanku besar sekali. Sekalipun mungkin kondisi sudah berbeda. Tapi tak apa. Masih ada sisa satu tahun lagi untuk mewujud satu mimpi besar di kala muda.

--
Iya, satu tahun lagi.. 

Saturday, May 9, 2020

Tak Bisa Segala

Pada akhirnya kita harus memilih mau jadi apa kita, mau diingat seperti apa seiring waktu bergulir.

Kita tak bisa terus memaksa diri meraup segala, bisa segala. Karena kita manusia.

Begitu banyak pilihan dan kesempatan, maka berbijaklah! Bijak dalam memilih dan menentukan arah masa depanmu. Memastikan kamu tidak tersandung batu kecil dan tajam yang bisa buatmu berdarah-darah dan kehabisan napas.

Gagal itu biasa, tapi bagaimana kamu bisa menghadapi segala susah dan mensyukuri semua masalah jadi lebih utama.

Lupakan sejenak beban karena pada akhirnya kita bukan Tuhan Sang Maha. Berkuatlah, berkuatlah...

--

Friday, May 8, 2020

membaca pikir

Membaca pikir selalu menyenangkan. Karena sejatinya kita tak akan mengerti isi hati dan arah pikiran seorang manusia, hingga mereka beritahu sendiri.

Mulut bisa berdansa tapi alir darah di otak dan hati tak pernah dusta.

Tulisan jadi salah satu wadah paling jujur mengena rasa dan buah renung. 

Terima kasih masih terus setia membaca, dengan segala kurang lebihnya. Terima kasih untuk tidak berhenti ingin menulis.

--
J

Sunday, May 3, 2020

Selalu ada saja hal kecil yang merintik menuntun masa lalu.
Bukan masa jaya, tapi masa bahagia.

Bila kau tanya aku, "Apa bahagianya?"
Berbahagia dengan segala yang tak kumiliki.
Tak punya uang tapi selalu ada kosan tempat berkumpul.
Tak punya waktu istirahat tapi senang revisi laporan selesai.
Tak punya pencapaian tapi selalu ada teman bejat yang siap menerima kekurangan.

Sudahlah, intinya aku berbahagia karena tak punya tanggung jawab dan bisa sesukanya, tanpa harus berpikir apa yang akan terjadi atas apa yang kubuat..

Bila kau tanya aku, "Apakah sekarang tak bahagia?"
Tentu aku bahagia, bahkan lebih.

Hanya saja, tak bolehkah aku menoleh sebentar?

Aku janji, hanya sebentar.
Sekilas lalu, bukan untuk kembali ke masa itu.

--

Sunday, April 12, 2020

Produktivitas Sejati

Saya merasa produktif hari ini. Tidak hanya produktif, saya merasa bahagia! Sedari pagi saya sudah berangkat ke pasar. Ya, saat ini saya merelakan harus ke pasar di tengah pandemi karena ada beberapa keluarga yang saya jaga. Beberapa? Iya, tidak hanya satu.

Merepotkankah? Tidak seberapa. Karena bagaimanapun hal tersebut bisa memperkecil kemungkinan persebaran virus Corona. Selain keluarga, ada juga kebutuhan warung yang harus dibeli. Ya, bagaimanapun perut tetap harus diisi di tengah kewaspadaan yang terus meningkat..

Apatis? Mungkin lebih karena 'keharusan' ya. Saya juga kalau boleh memilih, ingin berada di rumah saja dan menjaga keluarga kecil saya. Tapi bila saya seperti itu, maka akan lebih tinggi risiko terjadi penularan Covid-19 ini di keluarga saya. Repot? Tidak apalah, toh untuk kebaikan yang lebih besar, bukan? Saya juga was-was sebetulnya, tapi saya coba meminimalisasi saya terpapar dengan cara mengurangi intensitas keluar. Dengan cara menjadwal ke pasar beberapa hari sekali, misalnya.

Oh iya, selain kehadiran Mbak Aisyah juga kebertahanan usaha kami menjadi penyemangat saya dalam mencari rezeki, ternyata wabah ini membawa dampak positif.

Dampak positif bagi perusahaan adalah, saya tengah menggodok usaha baru bersama teman-teman saya di Semarang dan Bandung! Hehe. Sudah ada dua usaha yang dibicarakan saat ini. Bidang yang akan kami geluti adalah Otomotif dan Kuliner. Kami sementara ini menyepakati bahwa 'Sejati' menjadi nama dari usaha baru kami. Berasal dari Semarang dan Jatimas. Iya, karena pusat dari usaha terbaru kami rencananya ada di Semarang. Heheh. Hal yang makin di luar ekspektasi. Semakin besar mimpi, maka semakin besar pula effort yang harus dilakukan. Tapi saya yakin semua akan tercapai pada waktu yang tidak lama. Mengapa? Karena saya tidak sendiri.

Bocoran! Ini logo kami! Hehe
Img source: Dokumen Pribadi


Profuktivitas saya menghasilkan bahagia. Kalau kamu gimana?

--
First Created on April 12th 2020.
J

Pohon Perbuatan

Saya percaya bahwa segala apa yang kita lakukan akan kembali ke kita. Selama itu ke arah kebaikan, dan kita meyakini hal tersebut, maka akan ada kebaikan pula kembali ke kita.

Contoh kecil adalah, bersedekah. Perbuatan merupakan bibit yang kita tanam saat ini. Ntah dengan cara apa benih tersebut akan tumbuh dan terus berkembang. Suatu saat akan memberikan buah yang nantinya akan kita makan. Pertanyannya, jenis bibit apa yang kita pilih? Kebajikan atau keburukan? Pohonnya perbuatan akan membesar dan berbuah, berbuah baik dan buruk yang akan kita konsumsi.

Terbayangkah bila pohon tersebut berisi hal tidak baik? Buahnya akan berbau anyir dan busuk. Jangankan memakannya, mencium baunya saja akan membuat ingin muntah, mungkin. Tapi bagi yang terbiasa, maka buah buruk tersebut tidak akan berasa apapun. Tidak serta merta buat jijik. Tapi ya terlihat biasa.

Pilihan dalam hidup adalah menyemai kebaikan atau keburukan. Tanpa disadari, sudah banyak benih kita semai. Sudahkah mulai memetik buahnya?

Saya merasa hidup saya tercukupi. Bahkan di tengah wabah Covid-19 ini, saya justru merasa semakin tenang dan tidak terlalu banyak pikiran.

Saya memiliki masalah, sama seperti makhluk lain. Dan saya meyakini, masalah tidak akan diberikan oleh Tuhan pada hambaNya melebihi spesifikasi makhluk. Semakin saya menyadari itu semakin saya merasa tenang dan bahagia. Semakin besar dan banyak masalah yang hadir dalam hidup, semakin saya merasa segera naik tingkat.

Hal ini yang tak hentinya saya syukuri. Karena diri ini masih mau dan mampu mengingatkan bahwa bahagia bentuknya sangat sederhana.

Kita hanya sering tak menyadarinya saja.

Friday, April 10, 2020

aku tahu yang kamu tidak tahu. sekalipun kamu cari tahu. dan sungguh, aku tak peduli dengan pikiran sesat itu. aku akan bahagia, dengan caraku.

--

Monday, April 6, 2020

Membangun Manusia

Membangun manusia beda banget sama bangun usaha. Hal itu jadi sesuatu yang menantang banget buat gue. Di sisi lain, hal itu sangat melelahkan.

Melelahkan? Iya. Karena membangun manusia tidak semudah kelihatannya. Kita bisa saja membakar semangat manusia untuk berbuat A B C D E dalam waktu yang singkat. Tapi apakah bisa api yang menyala bertahan? Bila bisa, seberapa lama apinya akan menyala? Akankah meredup?

Membangun usaha berbeda dengan membangun manusia. Membangun usaha tidak harus dengan hati. Sementara bangun manusia harus pakai hati. Hati yang membangun lama kelamaan akan terus terusik dengan segala penat. Hati juga akan semakin harap akan terbangunnya manusia. 

Akan menjadi sebuah pencapaian memang bila mampu buat manusia terbangun lebih tinggi. Tidak mudah tapi bisa.

Tapi kamu tahu apa yang sering buat kecewa? Harapan yang terlalu tinggi....

--

Monday, March 30, 2020

----

01100100 01101001 01101101 01100001 01101110 01100001 00100000 01110010 01110101 01101101 01100001 01101000 00111111

Sunday, March 29, 2020

Sunday, March 22, 2020

Saturday, March 21, 2020

cerewet!

tempat lain

Rumah ini kecil, tapi disitu ada keringat yang mengalir.
Mungkin tak semegah rumah lain, tapi disini ada cercah harap setitik.
Aku tahu tempat ini tak seindah tempat lain.

dan..

Biarlah kunikmati apa yang kumampu, bukan apa yang kumau.
Karena aku bukan pengemis yang hanya bisa meminta, aku membesarkan diri dengan segala tenaga.
Persetan dengan cibir heran juga tekanan tak beraturan.

Mungkin ada baiknya aku tutup telinga lebih rapat,
ketimbang hati lara mendengar desus mencurigakan.
Dihakimi dan diberi cap sementara menjaga senyum terkembang begitu melelahkan.

Mungkin mereka merasa, merekalah tuhan.

--
kurasa rasaku.

Wednesday, March 18, 2020

Monday, March 16, 2020

Saya rindu naik kereta..

kursi panas

Tak sampai lima detik saya duduk di kursi kebanggaan ini. Ternyata ruang hijau tak terlalu besar bisa buatku rindu, sesuatu di luar perhitungan.

Kulihat beberapa tulisan milik seorang muda, ternyata sudah begitu banyak perjuangan kulalui. Kupilih untuk meninggalkan nyaman dan mencari jati diri. Tak semudah yang dibayangkan saat dulu masih idealis ternyata.

Banyak peluh juga lelah yang harus dibayar. Tak sekedar kerja keras tanpa berpikir. Hanya tindakan banyak disertai perhitungan agar tak terjerembab dalam.

Aku rindu duduk berfokus pada apa yang kucari sembari sesekali tergoda buka layar kecil perangkat dunia maya. 

Mungkin sebentar lagi, aku bisa duduk menikmati lagi. Tenggelam berpikir dan mencari jalan baru...

--

Wednesday, March 11, 2020

rendam

Saya baru saja mandi dengan air pelembut pakaian. Haha. Kok bisa?

Iya. Malam ini saya plg dari warung dengan rasa kurang enak badan. Perut saya melilit, pikiran penuh, ditambah dengan badan yang sedikit menggigil. Saya rasa kantuk sekali sedari siang, tapi seperti biasa, saya krg punya kesempatan untuk beristirahat. Sekalipun istirahat, pikiran saya tetap berkelana. Menyebalkan.

Kembali ke cerita malam ini, setelah rebahan sebentar menikmati waktu tenang, saya menuju dapur untuk menghangatkan air yang akan dicampur dengan air di bak, agar hangat tinggi. Akhir-akhir ini mandi air hangat sepulang lelah sehari adalah hal menyenangkan. 

Sembari menunggu saya membuka 9gag, salah satu sumber bahagia saya selama lebih dari 1 dekade. Tak terasa airpun mendidih, saya bergegas ambil lalu ke kamar mandi untuk campur air. Di bak kecil tempat saya biasa campurkan air tersebut, saya lihat ada air sedikit, krg dari 2cm. Tanpa pikir panjang, segera saya campurkan saja ke dalam bak. Tak lama saya rasa aneh, karena air terlihat mengeruh. Biasanya air campuran terlihat bening.

Saya berusaha positif saja, mgkn air sedang jelek. Tapi aroma wangi tiba-tiba merebak. Saya segera sadar, bahwa itu adalah air sisa pewangi pakaian. 

Ntah, saya hanya terdiam. Sempat terpikir ingin merebus air kembali, tapi akan butuh waktu lagi sementara badan ini sudah terlampau letih. Sedih rasanya, mencari sedikit bahagia di antara lelah saja rasanya sulit akhir-akhir ini. Ada saja masalah.

Sudahlah. Saya bodoh memang karena kurang jeli. 

Sudah malam, dan saya masih sulit tertidur.

Selamat malam.

Wednesday, March 4, 2020

Detik-detik menunggumu

Seru sekali..

Mendung di Penghujung Hari

Mendung di penghujung hari. Masih menjadi keseharianku beberapa tahun terakhir. Menikmati perginya sang hangat tertutup mega kelabu berlalu perlahan.

Menunggu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Tapi akan selalu menjadi terbayar ketika yang ditunggu membuahkan hasil.

Perlintasan lalu lalang tak berhenti sedari pagi. Terlihat cemas di banyak wajah mengemudi. Aku berhadap pada dua layar monitor. Satu kuguna menghitung, yang lain untuk seni. Bukan hal baru karena sejak dulu aku terbiasa mengerjakan segala.

Tahu apa yang aneh? Aku merasa inilah rutinitas yang dulu kubenci. Yang tak pernah kuharapkan sama sekali. Dulu.

Tapi nyatanya biasanya yang kamu benci itulah yang akan membersamai hidup. Yang paling kau hindari itulah yang nanti akan melengkapi. Aku dengan kehidupanku kini. Lelahkah aku?

Teringat satu cerita seorang yang ingin mengakhiri hidup beberapa hari lalu. Ini bukan yang pertama kali juga bukan orang pertama. Namun hati ini selalu bergetar kala kubertemu cerita soal memotong nadi atau menghempas badan dari atas penyebrangan. Mengapa? Karena dulu aku pernah di posisi itu. 

Aku merasa beruntung sekali beberapa kawan mau cerita soal sedihannya. Bukan berarti aku mencari hati atau perhatian, bukan. Hanya aku tahu persis rasanya ingin mati. Tak mengenakkan. Hitam.

Depresi katanya. Bukan kata-kata yang bisa diucap bermain makna. Bila tak terbiasa dan terpendam, mengakhiri hidup adalah salah satu pilihan paling masuk akal. Tak tercegah kecuali diceritakan atau menjadi tenang.

Pada siapapun yang membaca tulisan ini, Tuhan selalu punya cara untuk mengakhiri hidup memang. Tapi setidaknya, jangan kau gubris pikiran untuk memutuskan nadimu sendiri. Karena hidup akan menjadi masuk akal suatu saat nanti. Karena sesulit apapun saat ini, akan ada saatnya alasan itu terungkap.

Suatu saat, lelah inipun akan terbayar. Pasti.

--
Basamu menyeruak. Bulirmu sudah turun ternyata.

Monday, March 2, 2020

Hai, Maret. Selalu jadi bulan menyenangkan bagiku.

Selalu ada cerita di masa kini yang ingin kubagi. Dengan segala peluh juga kesah.
Ada beberapa hal di masa lalu yang terindukan. Mungkin karena tanpa tanggung jawab juga pencapaian tak terlalu tinggi. Tanpa gengsi juga perjuangan tak berpeluh sungguh.

Tanpa arah, tanpa drama, tanpa pusing memikirkan rasa ini itu.

Merindukan banyak hal, termasuk kilas balik perjuangan dan semangat menyala-nyala.
Punyakah aku kini?
Bahkan kadang aku bertanya pada diri, apa yang kukejar kini.

Aku merindu, tapi tanpa tendensi ingin kembali. Bukan untuk mengulangi, hanya sebagai pembanding bahagia. Aku dengan istriku kini, kebahagiaan tak tertandingi. Seorang mungil kami yang akan segera hadir di Maret ini.

Masa lalu, aku begitu bahagia. Aku begitu bebas dan lepas tanda tahu arahku.

Saat ini mungkin sulit. Tapi aku akan kembali pada mantra yang selalu kurapal sejak bertahun lalu, "Sedikit lagi."

Sudah terlalu jauh. Aku mensyukuri apapun yang kumiliki dan tak kumiliki.

Selamat malam, Maret. Selamat jalan sekali lagi.

Friday, February 28, 2020

Aku benar-benar pertimbangkan tawaran kala itu. Kali ini dengan bumbu dendam. Atas keringat tercucur tak berbekas tak berbalas. 
Padahal cita-cita saya hari ini sederhana. Mau merasakan liburan.

Itupun sulit.

Stimulan

Aku mulai membaca ulang beberapa tulisan. Beberapa buat iri. Beberapa buat aku ingin kembali ke beberapa masa lalu. Beberapa buat aku sadar bahwa hati adalah bentuk terjujur dari seorang manusia.

Hari-hari akhir ini aku sempat tergoyah rasa. Jengah dan lelah. Mungkin karena sudah terlalu lama bersibuk kerja dan berkulminasi. Bukan sesuatu yang baik baik otak dan fisik. 

Aku butuh stimulan. Pembuat rasa stabil dan fisik baik. Beberapa rencana terbuat, ntah akan tercapai atau tidak.

Kita lihat saja.

--

Sunday, February 9, 2020

Saya begitu beruntung pernah ada di kelas ini. Foto saya ketika muda dan penuh mimpi itu. 

Beberapa mimpi terwujud. Banyak mimpi lainnya tergerus waktu. 

Masihkah sudi jadi pemimpi?

Saturday, February 8, 2020

orang dagang

Orang dagang itu ya kerjanya tiap hari. Paling liburnya pas lagi kondangan, Mas. Itu juga milih milih kondangannya tempat siapa. - mas yono

--

Tuesday, February 4, 2020

Betul, sepertinya saya salah ambil keputusan. 

Atau mungkin saya yang kurang tahan menderita?

Tuesday, January 28, 2020

Banyak target, banyak orderan, banyak amanah. Mana yang duluan?

Monday, January 27, 2020

Welcoming February

Hey, bentar lagi Februari. Ada 29 hari!!

Hmm, targetnya gausah muluk2 kali ya, mumpung agak longgar. Nurunin 15kg, kalau kesampean, beli sepatu baru! Hahha;

--

Saturday, January 25, 2020

Sayang, is tidak lagi tergabung di Payung Teduh. Padahal lagu-lagu mereka selalu sukses memanja telinga dan selalu asik untuk didengarkan. Seperti satu ini yang sedang saya dengarkan di telinga. Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan

Friday, January 24, 2020

Mungkin betul saya adalah orang egois yang tidak terlalu suka bersosial. Bersosialpun selalu dengan motif, dengan sesuatu yang dituju.

Karena, buat apa berinteraksi tanpa adanya tujuan? Bukan masa muda yang segala bisa dimaklumi dan dengan mudah dimaafkan. Bila tidak terlalu penting maka tak perlulah berbasa basi..

Tapi justru itu yang menyenangkan, bukan?

--

Thursday, January 23, 2020

Saya suka Chrisye. Suaranya begitu menyenangkan dan lakunya yang lembut.

Beberapa lagunya betul-betul lekat di telinga, dan membawa beberapa cerita ketika muda. Tak lekang oleh waktu, dan masih tetap nyaman ditangkap telinga hingga kini.


--

Monday, January 13, 2020

Jangan terburu-buru ingin membantu. Belum tentu mereka butuhkanmu.

Seringkali ego memberi sesuatu kalahkan logika dan buat rasa semangat berseteru.

Biar, biarlah mereka datang di saat yang tak cepat atau tak menentu.

Bantulah kala memang mereka butuh, agar tak jadi sia yang kamu laku.

--
Beberapa hari lalu, saya baru saja memperbaharui situs saya, cwjati.com. Tapi sampai sekarang masih belum saya tambah lagi postnya. Hehe.

Mungkin karena saya yang pemalas.

Saya baru saja selesai menulis beberapa list yang harus saya lakukan mengenai beberapa usaha yang saya jalankan. Masing-masing memiliki deretan list yang cukup banyak. Dan sangat membantu cara berpikir juga menentukan mana yang prioritas untuk dilakukan lebih dulu dibanding yang lain.

Saya masih berusaha untuk membagi fokus, yang ternyata tidak mudah. Energi pun harus dibagi dengan bijak. Bila tidak bijak dibagi? Ya berujung jenuh karena melulu itu saja yang dikerjakan...

Salam,

--
jati

Sunday, January 12, 2020

Berbagi itu banyak ujiannya memang.

Apalagi dalam lingkup usaha.
Berbagi itu seringkali lebih banyak hambatan karena memang seringkali tidak sesuai dengan standar juga apa yang telah disepakati.

Yang enak? Ya usaha sendiri.. hehe

Monday, January 6, 2020

2019!

Ah ya, sudah 2020 ternyata. 2019 saya lalui dengan tulisan yang sangat sedikit di blog ini. Blog yang punya cerita banyak dan merekam banyak kejadian selama hampir satu dekade. Hehe. 2019 saya banyak mendapat inspirasi untuk menulis. Mungkin karena banyak merenung dan sedikit pekerjaan. Tapi, inspirasi itu seringkali hanya teronggok di sudut draft blog. Sayang..

Pekerjaan saya saat ini tidak terlalu banyak menuntut fisik, tapi lebih banyak berpikir dan percaya pada intuisi juga jalan dari Tuhan adalah yang terbaik. Saya cenderung merasakan stress karena hal yang tidak sempat terceritakan. Ada beberapa hal yang membuat saya seperti itu dan tidak terlalu penting untuk diceritakan di sini. Tapi banyak hal positif yang dapat saya ambil dari perjalanan saya satu tahun ke belakang.

Usaha yang berkembang dengan pesat. Tim yang semakin solid. Rambahan ranah bisnis yang tak terduga. Omzet yang bertambah lebih dari 1000% di kuartal ketiga 2019. Juga begitu banyak hal lain yang tak hentinya saya syukuri.

Mungkin bagi beberapa orang, membaca paragraf di atas begitu menyenangkan. Tapi jangan salah, perkembangan usaha yang pesat pasti diiringi dengan tensi kerja juga proses berpikir yang dituntut tak kenal lelah. Ibarat pohon yang berkembang menjulang, bila akar tidak dipersiapkan dengan baik maka akan mudah roboh terterpa angin. Begitupun yang saya rasakan dalam menjalani usaha saya. Bagaimana tidak, waktu kerja saya hampir 20 jam per hari. Waktu tidur yang terganggu karena harus menerima order dari rekanan keesokan hari, juga complain yang sering masuk tak kenal waktu.

Saya begitu menikmati usaha saya. Saya ibaratkan bagai love-hate relationship. Bukan sekali dua saya ingin quit, tapi selalu ada cara Tuhan mengingatkan saya bahwa inilah jalan yang saya pilih. Segala pilihan pasti satu paket dengan konsekuensi. Jadi jalanilah dengan penuh tanggung jawab apa yang telah jadi pilihan di masa lalu.

2019, begitu tense dengan roller coasternya. Rumah mengaji kami, Insan Kamadiya sudah genap satu tahun hari ini. Bagian kami bersosial dan saling mengingatkan dengan cara berbagi.

Yang menarik dari 2019 adalah akhirnya saya menikah. Ya, April 2019 lalu saya resmi menjadi seorang suami. hehe. Seorang suami yang masih jauh dari sempurna, bahkan lebih banyak sibuk memikirkan hal lain, mungkin.

Satu yang menjadi catatan saya: Ternyata saya masih suka menunda pekerjaan. Hehe.

--
Ntah, saya bahagia sekali akhir-akhir ini..
Kulihat muka berlalu lalang itu, berbagai raut tertemu.

Hati ini lega rasanya, tak terbeban atau terpaksa.

Aku merasa tak perlu meminta maaf atau menjelaskan, karena aku mengerti inilah kebahagiaanku.

Bebas.

Menyenangkan sekali.

--

Friday, December 27, 2019

Kata orang, bila lelah maka istirahatlah. 

Aku sedang jenuh. Mungkin harus cari jalan keluar dari aktivitas ini. Mengubah jadi rutinitas, mungkin?

Wednesday, December 25, 2019

Roda pesawat berdecit ketika bertemu dengan lintasan penerbangan. Kulirik jam tangan baru pemberian dari kakakku. "Biar tahu waktu.", Katanya.

Pukul 09.25. Tepat sembilan jam sejak kami menapaki bumi Indonesia. Aku mengedarkan pandangan, sudah banyak orang terbangun karena sadar akan pendaratan ini. Aku mencoba melihat lingkungan baru, langit masih gelap. Samar aku berusaha mendengar pengumuman melalui pengeras suara. "Ladies and Gentlemen, welcome to Hamad International Airport, Qatar. Local time is 05.25 and the temperature is 12°C".

Aku tertegun, ternyata masih subuh disini. Sembari menunggu aku melihat ponsel usangku. Tak ada sinyal. Kucoba aktifkan koneksi, ada sms masuk. Beberapa mengirimkan doa, beberapa membalas pesan berpamitan yang kukirim ke beberapa orang sebelum lepas landas tadi.

"Semoga perjalanannya menyenangkan ya! Kabari bila sudah sampai."

"Iya. Pasti didoakan, Nak. Selamat belajar, tetap kabari Ibu. Nanti kalau pulang ke Indonesia main ke rumah jangan lupa."

"Hei!! Berangkat kok ga bilang-bilang! Aku mau kasih kado padahal!! Huh!!!"

Senyumku terkembang. Beberapa pesan dari orang-orang terdekat yang buatku gatal ingin balas segera. Namun tetiba Aku mengurungkan diri untuk membalas. Karena sadar biaya pengiriman sms yang tidak murah bagiku. "Nanti sajalah.", pikirku.

Aku masukkan kembali ponselku ke saku tas. Sudah sekitar lima menit sejak pesawatku menjejak bumi, tapi kami belum kunjung berhenti. "Bandara ini sangat besar!", suara di kepalaku berbicara. Aku tak sabar melihat-lihat bagaimana isi  Perlahan badan kapal terbang mendekat ke salah satu garbarata, tanda sebentar lagi penumpang pesawat bisa turun.

Setelah pesawat benar-benar berhenti. Penumpang dipersilakan turun, aku kagum karena kurasa lebih tertib proses penurunan penumpang ini. Tidak terkesan buru-buru seperti yang biasa kulihat. Ada memang yang terlihat ingin segera turun, tapi hanya segelintir.

Akhirnya tiba giliranku untuk meninggalkan pesawat. Baru saja menjejak garbarata atau tangga belalai, hawa dingin segera kurasa. saking senangnya aku tidak perhatikan semua orang pakai jaket tebal. Hanya aku pakai baju seadanya. Hehe.

"Atis yo, Cip (Dingin ya, Cip).", Ujar Mbak Nurul.

Aku baru sadar kalau aku bersama dia.

Hehe.

--

Monday, December 23, 2019

Aku tertegun di tempat dudukku, membayangkan novelku yang tak jadi kuselesaikan. Menyedihkan karena aku harus berangkat pindah ke negara lain. Meninggalkan pekerjaan lamaku, mengejar studi lanjut. Suatu capaianku paling keren dalam hidup.

Aku menikmati perjalanan pertamaku ke luar negeri ini. Baru ini aku rasa terbang setinggi ini. Ntah berapa ribu meter dari permukaan bumi. Cara pesawat ini meredam getaran, ukuran burung besi yang begitu besar, kenyamanan kursi kelas ekonomi yang bagai kelas satu, dan semua hal baru lain.

Kulirik jam, sudah hampir delapan jam aku mengudara. Berarti sebentar lagi aku akan landing di terminal internasional di Doha. Perjalananku dibiayai negara dan aku begitu bangga atas raihan itu.

Kulepas headset yang menempel di telinga dan terhubung pada kursi pesawat. Kusenggol perempuan di sebelahku, teman seperjuangan yang beberapa bulan terakhir banyak bersamaku demi mengejar beasiswa negara.

'Koyone wis meh tekan, Mbak (Kayanya udah mau sampai, Mbak).' aku berujar padanya.

'Hé èh, wis pegel ki aku, Cip. (Iya, aku udah pegel nih).', dia membalas.

Tak lama dia kembali terlelap. Aku mahfum karena kami take off dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 00.25. Baru sedikit lewat tengah malam. Bukan kebiasaannya mungkin begadang. Mataku begitu lebar terbuka di tempat ini. Tapi, itu bukan berarti aku tidak lelah. Aku lelah, tapi rasa penasaran juga semangat menyambangi tempat baru buatku punya tenaga lebih, terlalu bersemangat bahkan.

Hari kemarin aku masih di kota kelahiranku dan beranjak ke Ibukota untuk urus dokumen terakhir di sebuah kementerian. Selarik surat yang buatku legal pergi menuju benua baru. Beberapa paragraf yang menyatakan akulah seorang pantas penerima bea dari negara.

Aku kembali pandangi langit di kejauhan. Jamku menunjukkan pukul 08.13 namun ufuk langit masih terlihat biru. Matahari belum juga muncul dari peraduan, lama sekali proses terbitnya. Mungkin karena penerbangan ini menuju barat, sehingga terbit matahari terkesan lama. Proses matahari terbit kala itu memiliki durasi terlama terjadi dalam hidupku, dan paling berkesan.

Aku sekali lagi tenggelam pada sejuta pikiran dan angan. Bayangan hidup di tempat baru. Lintasan wajah mereka yang baru saja kutinggalkan dan telah kurindu. Serta misteri apa saja yang mungkin terjadi selama aku menempuh hidup di negara itu.

Matahari belum juga muncul. Ujung langit merekah jingga. Sangat indah.

Aku masih terus tersenyum ketika kurasa perlahan ketinggian kami berkurang. Halus sekali. Mataku masih lekat di jendela, kami menuruni awan, tak lama terlihat lampu kota. Kusenggol sekali lagi perempuan di sebelahku.

'Mbak, wis tekan (Mbak, sudah sampai).', Ujarku.

--
Doha, 09.10
Ntah rasa apa lagi ini,
Aku begitu takjub melihat gelak itu,

Lalu, aku berlalu.
Mencariku
Mencari aku

Sudah terikat, tak bisa lepas, tak lagi bebas, tapi bukan serikat.

Kait saling mengait,
berkait
terhimpit menjerit,

tanpa suara.

Lalu, siapa temanku?
Kalo lagi nelpon itu mbok ya diem jangan jalan-jalan gitu. Duduk gitu lho, biar kaya bos-bos..

Sunday, December 22, 2019

If our love is tragedy why are you my remedy?

Love is insanity tho.

Saturday, December 14, 2019

Ada masa dimana jiwa dan akal terasa letih. Hingga untuk mengeluh atau berprotes saja terasa berat. Diam adalah salah satu pilihan terbaik yang menenangkan.

Dan menyenangkan.

Sunday, December 8, 2019

Mengenai rela, buka hati, dan rindu.

Sulit buka hati buat rasa baru belum tentu karena belum rela. Bisa saja, rela sudah, tapi belum bertemu yang menarik. Atau, sudah ikhlas tapi masih asik dengan dunia baru bisa juga kan? Merelakan khas dengan ikhlas. Ikhlas bukan berarti tidak rindu ya. Sesekali ingin lihat momen tertentu di masa lalu itu manusiawi kok. Toh katanya, guru adalah pengalaman terbaik, bukan? Merindu dan melihat peristiwa yang sudah terjadi adalah salah satu cara belajar paling efektif.
Simpulanku: Merelakan adalah bisa berjalan bebas tanpa rasa terganggu. Bertemu hati baru untuk kemudian jatuh hati seringkali butuh waktu. Tapi soal rindu, itu hak manusia untuk buka kotak memori dan berkelana kilas balik waktu. Rela, buka hati, rindu.

--
Obrolan singkat dengan pendengar radio.

Monday, December 2, 2019

Aku benci dengan kata-kata,
dimana aku bisa menumpah rasa, menggambar rindu,
dan menuangkan apa yang tak tersampaikan pada makhluk.

Aku tak lagi suka dengan hujan dan basa,
karena ia mampu memulangkan yang lalu.
baunya buat tenang dan hanyut dalam pikiran tak perlu.

Kini aku mendewasa, tak melulu hanyut mimpi biru,

Realita?

Itu yang kujalani dan kucintai kini;

Tak terulang, kala hembusan angin begitu kuat, berjalan menantang bahaya, tertidur dengan tak khawatir akan misteri esok.

--
Bukan, ini bukan tentang aku juga kamu (Ciptaan Cipta)

Tuesday, October 8, 2019

Monday, September 23, 2019

Bara adalah sosok idaman hampir setiap perempuan lajang., Memegang gelar Master of Business Administration dari kampus di Boston,  karirnya di dunia saham yang melejit, pemilik dari beberapa usaha mapan, lakunya yang santun lagi terlihat agamis, dan juga badannya yang kuakui (ehem) atletis.

Pertemuanku pertama dengan Bara terjadi beberapa bulan lalu. Kala itu aku sedang lari dari rutinitas pekerjaanku yang melelahkan di Jakarta. Aku bekerja di salah satu bank terkemuka. Aktivitas harian yang menjemukan serta tekanan dari atasan buatku muak, setelah hubungi beberapa teman kuliah, kami sepakat untuk ambil cuti beberapa hari dan liburan ke pulau di bagian timur Pulau Jawa.

Liburanku disana tak jauh dari alkohol dan aktivitas malam bersama teman. Hingga di pagi terakhir aku pulang dari klub dan mendapati diri jenuh serta tak bisa tidur sekalipun kepala ini berat. Aku putuskan untuk berjalan ke pantai yang tak jauh dari penginapan. Kuharap aku bisa mendapatkan damai dari melihat gulungan ombak yang berkejaran tak berhenti ke tepi pantai. Aku berjalan melewati beberapa kios-kios bermacam pedagang, mulai dari oleh-oleh hingga minuman khas pulau dewata. Aku hanya tersenyum melihat aktivitas pagi yang terlihat bersemangat menyongsong hari. Aku terus berjalan melewati jalan yang begitu hangat hingga sampai ke pantai yang terkenal akan matahari terbenamnya.

Aku memilih untuk duduk di salah satu tempat duduk yang menghadap laut. Alam selalu begitu terasa menenangkan seolah tak peduli seberapa banyak manusia terus merusak. Terbenam dalam pikiranku sendiri aku terus merasakan angin menyentuh lembut pipi. Aku merasa alam seolah menyindirku yang merundungi diri terus bekerja demi uang yang ntah untuk apa. Begitu mengalir menenangkan.

"Hai..", Suara yang begitu ramah bagai rumah buyarkan lamunanku..

Tuesday, September 17, 2019

Lalu bila tiba tiba aku patah dan malas membangun mereka? Bagaimana?

Friday, August 30, 2019

Jalang

Bara baru saja pulang ketika aku masih menonton acara di televisi. Tentu aku tidak menontonnya, aku hanya hidupkan untuk usir sepinya ruangan ini. Aku menoleh sedikit dan beri senyum padanya. Ia terlihat sangat lelah, letih sepulang kerja, biasa. Hal yang selalu kutemui bertahun belakang ini. Beberapa tahun yang tak pernah terbayang akan seberat ini. Padahal dulu aku merasa bahagia bertemu dengannya. Sekarang rasanya biasa saja. Ya, Bara adalah suamiku, dia memilihku karena aku adalah sosok yang tepat baginya. Padahal mungkin tidak.

Aku mau menjadi istrinya dengan syarat tetap menempati tempat ini dan tak perlu pindah. Ruangan ini dulu kurasa luas, dengan rak buku di ujung ruangan berdekatan dengan jendela, dimana aku biasa duduk sambil baca dan melihat pemandangan yang berubah sesuai dengan musim. 

"Maaf, aku harus aborsi janinku.", Aku buka pembicaraan padanya. Bara mengernyitkan dahi. Jelas dia bingung dengan perkataanku barusan. Mungkin akan marah, tak tertebak.

Aku lalu terfokus pada kembang plastik yang tak pernah layu. Aku tak tahu harus bilang apa padanya. Aku ingin punya keturunan yang bisa buat orang mengenaliku, tapi beberapa perkataan yang keluar dari mulutnya padaku beberapa hari lalu betul-betul buatku sakit hati. Mungkin dalam pikirannya aku hanyalah Jalang.

Baik, aku memang bukanlah perempuan baik-baik. Dunia malam sempat jadi sahabatku, bergonta-ganti pasangan bukanlah hal baru, tapi menyoal kesetiaan, itu hal lain. 

Anak pertamaku mati setelah beberapa hari ada di dunia. Dia lahir tanpa tangis, seperti bisu. Dia lahir diam-diam memang. Dia baru saja bisa menangis dan belum membuka mata. Tapi apa daya, cacat pada jantung yang dialami buat dia tidak bisa bertahan lama. Padahal aku sangat ingin ia dikenal oleh semua orang. 

Anakku memang mati tanpa banyak cerita. Aku sama sekali tak sedih, aneh kan? Aku berpikir bahwa Tuhan begitu baik padaku, mungkin Ia memang sengaja ambil kembali anak pertamaku karena kejam dunia akan sangat buruk baginya. Atau sekedar karena aku salah memberinya nama yang tak berupa doa?

Jabang bayiku ini, baru kupikirkan beberapa nama yang mungkin pas disandangnya waktu dia lahir ke dunia busuk ini. Beberapa nama bisa buat senyum tanpa alasan, beberapa nama aneh sudah kupersiapkan bahkan. Tapi hal yang dilakukan belahan jiwaku beberapa hari lalu buatku putuskan dia lebih baik tidak dilahirkan. Egois? Iya aku tahu, tapi itu lebih baik dibanding aku dituduh seumur hidup. Aku punya alasan.

Aku berjalan mendekati rak buku, kuambil satu buku favoritku, lalu duduk di kursi dekat jendela. Aku menghirup udara dingin malam ini, kulihat langit yang tak berbintang.

Aku bahkan tak bisa dengar apa yang suamiku katakan padaku setelahnya. Mimpiku seolah ambruk, aku terkecewa. Tak penting memang. Tapi sudahlah. Akupun tak peduli.

--

Monday, August 26, 2019

Kata orang jatuh cinta itu luar biasa. Sama seperti yang aku rasakan hari ini. Aku merasa sulit berpikir sejak kamu lepas pelukan itu. Keluar bandara aku bingung arah mana untuk menuju halte. Begitupun ketika di dalam bus menuju apartemen. Tak bisa aku menahan diri tak curi pandang. Sesekali kamu sadar, banyak kali lainnya kamu tak peduli. Kamu sempat bertanya, 'Is there something in my face?' juga canda 'Why are you keep looking at me? Do you wanna kiss me?' Katamu dengan muka menyelidik membercandaiku.

Aku bahkan tak sempat tawarkan bantu bawakan barangmu. Untunglah kamu tidak protes sama sekali. Tipikal wanita mandiri.

Sejak semalam, aku merasa ada yang sedikit berubah dari hati ini. Mungkin sebab peluk yang kamu beri atau karena akhirnya aku ada teman bincang semalaman?

Bagaimana tidak, aku hidup sendiri di apartemen ini. Apartemen yang tersewa karena aku ingin menghargai diri dan merasa nyaman ketika pulang dari kantor. Biasanya ketika penat aku hanya bisa buka jendela, menuju balkon, lalu menikmati sekaleng bir ditemani rokok dan pikiran penuh. Aku tak terbiasa bercerita, mungkin karena 

Atau sesederhana karena ada yang menarik perhatianku dan buatku ingin bertemu segera?

Am i being drama? Is it normal? Well, i don't care..

Sudahlah, ada baiknya aku pulang cepat, toh di sini aku tak bisa bekerja. Sedari pagi aku hanya buka-buka kerjaan tanpa mengerjakan satu apapun.

Aku kacau. Kacau yang menyenangkan.

--

Saturday, July 20, 2019

- Kantor -

'Ini sementara. Dia hanya liburan tak lebih dari seminggu. Kebetulan saja aku yang dia pilih untuk menumpang inap dan jadi teman perjalanan selama liburan.', Pikirku. 

Pagi ini aku begitu berbunga, ntah setan apa yang merasukmu semalam. Aku bahkan tak bisa fokus mengerjakan tugas apa yang diberikan oleh Profesor padaku. Yang kubayangkan adalah sesosok riang melambaikan tangan ketika pagi ini berangkat. Kepalaku masih sedikit berat, mungkin sisa wine yang kita nikmati semalam.

Ponselku bergetar. Kubiarkan. Aku memang tidak terbiasa mengawasi ponsel ketika bekerja, karena hanya akan menggangu fokusku saja.

Aku seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan thesis dan sibuk bekerja demi membayar biaya hidup di Prancis. Beasiswa yang kuterima hanya meng-cover biaya masuk universitas dan sebagian kecil biaya hidupku. Belum lagi pencairan beasiswa yang tidak teratur, bisa tiga hingga enam bulan sekali. Sisanya? Ya aku bertahan hidup sendiri. Karenanya, mana sempat aku habiskan waktu untuk bermain-main? Apalagi untuk memikirkan pacar, biaya untuk hidup saja sulit, apalagi untuk berpacaran. Tapi aku senang karena disini aku punya banyak sekali teman baru.

Ponselku sekali lagi bergetar. Aku masih ingin melanjutkan pekerjaan. Tapi kali ini aku tak bisa menahan diri untuk tak melihat pesan apa yang masuk dan membuatnya bergetar.

Beberapa notifikasi masuk, salah satunya darimu.

'Have a great day! Dinner will be ready when you home. :)', Pesanmu.

Sebaris kalimat yang spontan membuatku tersenyum. 

--

Friday, July 19, 2019

Aku masih berdiri, dekat bench tak jauh dari pemanas ruangan, sembari cari kamu di antara orang-orang keluar dari pesawat. Aku coba lagi mengingat sebentuk wajah dari foto itu. Sial, aku bukan pengingat yang baik, sementara ponselku sudah mati.

Tak lama berselang, seseorang melihatku, bergegas mendekat. Aku canggung, aku ingin balas senyum tapi khawatir bukan aku orang yang dituju.

Aku melihat sekitar, siapa tahu ada orang selain aku.

Kamu semakin dekat, beri senyum yang masih kuingat.

'Hei!.', Katamu.

Aku masih diam, meyakinkan kamu bicara padaku. Lalu bertanya, 'Hi, It's Airin, right?'

'Haha, Yea it's me! you silly.' tiba-tiba kamu sergap aku dengan peluk. Aku cuma bisa bingung, bukan budayaku bertemu pertama dengan orang baru lalu berpelukan. Di negaraku pertemuan pertama biasanya diisi dengan bersalaman atau berbasa-basi. Bukan seperti ini.

Iya, Aku bisa baca pikiranmu ketika baca ini. Bahkan aku tak pernah berpikir bisa dapat peluk selamat datang seperti itu.

Bahkan aku tak balas peluk pertamamu kala itu.

Ah, Bodoh...

--

Wednesday, July 17, 2019

- Bandara -

Nafasku sudah normal saat ini, tadi jelas aku tersengal akibat mengejar bis terakhir menuju bandara. Untunglah terkejar. Aku duduk di bagian belakang bus tepat di sisi jendela. Favoritku adalah melihat pemandangan sepanjang kota. Tak terasa perjalanan sekitar satu jam terlewat sudah.

Dari kejauhan aku bisa melihat bangunan besar dengan menara khas sebuah lapangan terbang. Ya, Aku akhirnya sampai di tempat yang bahkan belum pernah kukunjungi ini. Bandar udara yang ternyata besar. Besar yang tak mungkin dikomparasi dengan beberapa bandara yang pernah kulihat di tanah air. Apalagi satu yang ada di kampungku.. Ah aku tiba-tiba rindu suasana kampung halaman.

Buspun sampai di halte, pintu terbuka, aku dan beberapa orang turun. Kutebak sebagian besar dari mereka akan melakukan perjalanan ke luar kota. Terlihat dari bawaan yang lumayan banyak dan cara buru-buru khas orang berangkat ke suatu tempat. Sepertinya malah hanya aku yang melakukan penjemputan, karena aku hanya menggunakan jaket tebal, jeans, dan boots favorit.

Hawa panas dari chaufage atau pemanas ruangan dari dalam bus lenyap berganti dingin suhu alam ketika aku turun. Bergegas aku memasuki bangunan dengan kaca besar mempertontonkan beberapa badan pesawat digantung di langit-langit ruangan. Iya, aku terpukau dengan cara orang-orang disini membangun sesuatu, semuanya sudah diperhitungkan tanpa melupakan sisi seni.

Semakin aku memerhatikan bagaimana tempat ini dibuat aku semakin kagum, ada beberapa bagian pesawat diatur di sisi-sisi bangunan hingga miniatur kapal selam lengkap dengan penjelasannya. Kotaku memang terkenal sebagai salah satu pangkalan militer laut terlengkap di dunia. Tak heran bila aku melihat beberapa kapal perang dan kapal selam melewati laut di depan kantor.

Kulirik jam di tangan kiriku, masih ada sekitar setengah jam lagi kamu sampai. Kubuka kembali ponsel untuk lihat pesan terakhir darimu sekitar setengah jam lalu, "Boarding already. i'll see you very soon!".

Aku terpikir untuk membalas, tapi sepertinya percuma. Toh kamu pasti sudah dalam airplane mode. Jadilah kuurungkan niat. Kucukupkan dengan menunggu saja di salah satu gate kedatangan domestik.

Ya, aku akhirnya akan bertemu dengan kamu, seorang asing yang akhir-akhir ini sering cerita banyak. Dari pengalaman jalan-jalanmu ke Spanyol, hingga sulitnya belajar di negaramu. Bermula dari ajakan tak serius untuk berkunjung ke kotaku di ujung barat Prancis yang kamu iyakan beberapa minggu lalu hingga beberapa waktu lagi aku akan menemuimu di tempat ini..

--

Tuesday, July 16, 2019

Lalu tiba-tiba aku iri. Pada aku yang tertawa lepas itu. Sial.

Monday, July 8, 2019

Chapter I - Barat Prancis

Tersentak aku terbangun. 

Kulihat jam di pinggir tempat tidur. 'Sial! Telat!', aku memaki diri.

Kuambil ponsel, segera kukirim sebaris imessage pada kontak yang akhir-akhir ini selalu berada di tempat teratas.

'Boarding already?', singkat lalu kukirim. Kutunggu sebentar tapi hanya checklist satu. Pertanda pesanku tak sampai. Ada dua kemungkinan, ponselnya mati atau sudah berada dalam pesawat menuju tempatku.

Bangun dari tempat tidur, segera aku bersiap. Hari ini kotaku begitu dingin. Cerah, tapi dingin. Sudah mulai masuk musim semi tapi tetap saja aku harus pakai baju tebal dan jaket musim dingin demi menghangatkan badanku yang terbiasa dengan iklim tropis. 

Sungguh aku malas untuk keluar di hari libur karena kuliah sembari bekerja yang kulakukan saat ini. Namun, aku terlanjur janjikan untuk jemput orang asing hari ini di bandara. Biasanya kuhabiskan waktu di akhir pekan untuk bermalas atau (bila terpaksa) ke kantor untuk selesaikan pekerjaan yang masih dan akan selalu menumpuk itu.

Perjalanan dari apartemenku ke bandara tak terlalu jauh sebetulnya. Tapi aku harus menggunakan bus dan berpindah satu koridor. 

Masalahnya ini akhir pekan, dimana frekuensi bus akan berkurang. Ditambah jadwal bus menuju bandara tidak tersedia hingga larut malam. Pada hari kerja, kendaraan umum akan ada hingga tengah malam, namun di akhir pekan hanya beroperasi hingga pukul sembilan malam saja. Terlebih untuk ke bandara, hanya tersedia sampai pukul 5 petang. Aneh kan?

Baiklah, aku keluar dulu. Bukan waktunya untuk mengeluh terus.

Sebelum keluar aku melirik sedikit jadwal bus yang kuletak di lemari baju. Memastikan aku tak ketinggalan dan harus keluar lebih mahal untuk sekedar jemput teman yang belum kukenal.

Baiklah, sudah sedikit mepet, kusiapkan badan untuk berlari sedikit kejar agar tak tertinggal. Kutarik nafas sedikit dalam, kubuka pintu apartemen, dan serta merta dingin menyeruak.

Aku berangkat.

--

Thursday, June 27, 2019

Prolog - Rumah (?)

Kuhisap sekali lagi rokokku yang akan segera habis ini. Kutahan sedikit lama asapnya sebelum kuhembuskan untuk terakhir kali. Aku hampir tak bisa bedakan antara menikmati nikotin atau hela nafas panjang berkali-kali.

Masih terpikirkan setumpuk pekerjaan di kantor yang sudah harus selesai esok pagi. Ntah, rasanya tak pernah habis sekalipun sudah kulembur berbulan ini.

'Ini rasanya menjadi pekerja.', Pikirku

Ternyata menjadi pegawai dengan gaji melangit tak selalu menjamin bahagia. Berbeda dengan khayal anak muda yang ingin punya gaji tinggi dan bisa punya segala. Percayalah, punya nyaman juga orang yang bisa menerima seperti apapun kita akan jauh lebih terasa berharga.

Kulihat dari balkon apartemenku lampu kota yang perlahan meredup. Sebentar lagi pagi. Aku menuju tempat tidur, untuk sekedar istirahatkan mata barang beberapa jam saja.

Hari ini berat sekali.

--

Tuesday, June 25, 2019

Ternyata saya lama tidak memakai headphone yg saya beli di Prancis kala itu.
Sederhana, alasannya karena sudah akan rusak, kurang enak dipakai karena busa yg ditempelkan ke telinga

Monday, June 24, 2019

Epilog - Stasiun Kotamu

Aku duduk di pinggiran platform. Orang lalu lalang mencari tujuan masing-masing.
Suara kereta terus mengadu. Pengumuman mengenai keberangkatan dan kedatangan tak berhenti keluar masuk di telingaku. Banyak raut muka melintas, kuperhatikan satu persatu. Senyum, sedih, cemas, buru-buru, tersatu dalam hiruk pikuk deru mesin kereta bagai berseteru. Hari ini aku menempuh perjalanan jauh lintas negara, untuk membalas kunjungan tak terdugamu.

Sementara ini, aku menunggu seseorang yang bahkan belum pernah kutemui, seorang temanmu..

Beberapa baris teks disertai permintaan maaf sudah ia berikan sejak beberapa jam lalu. Tak bisa tepat waktu karena ada urusan lain, katanya.

Ini kali pertama aku mendatangi kota asing ini. Bila bukan karena ini hari spesialmu, aku mungkin tak akan pernah rasakan hirup udara dingin ini. Jauh lebih dingin dibanding kotaku yang belum pernah terturun salju. Padahal ini sudah menjelang musim panas.

Ada satu pemandangan menarik, kala seorang lelaki muda menundukkan kepala sembari menggenggam erat rangkaian bunga mawar yang ia bawa. Kutebak ia sedang kecewa karena tidak jadi makan malam bersama siapapun yang ia rencanakan akan beri kembang itu. Mungkin, seperti itulah aku bila ternyata kamu menolak kedatanganku.

Kurasakan ada getaran halus di saku, Kuambil lalu kulihat kembali layar ponselku. Satu pesan masuk, 'Sorry, the exam just finished. Already on the train to pick you up. ;).'

Kujawab singkat, 'No worries.. Still at the same place. Lol.'

Sedikit melegakan, karena 3 jam sudah aku menunggu. Kusempatkan untuk berkeliling di kota asing ini. Selain dingin, kesan yang kutangkap dari kota ini adalah rapi dan asri. Semua orang berjalan di tengah kota asing dengan bahasa aneh yang tak kumengerti. Untunglah aku bawa kamera favoritku sembari rekam segala hal baru disini. Bahkan aku sempat ambil gambar bus yang dibungkus plastik. Aneh? Iya..

Aku masih melihat-lihat hasil foto yang kuambil siang ini ketika ada tepukan di bahu dan suara asing, 'C'mon, or you will miss the surprise party!'

Belum sempat aku menjawab, dia menarik tanganku.

Haha, ntah cerita apa lagi kali ini. Di kota asing yang akhirnya menjadi tempat favoritku yang lain di Eropa. Aku disini, di kotamu..


--
Ini hari ulang tahunmu!

Sunday, April 14, 2019

Tuesday, April 2, 2019

Buat apa iri?

Bila memang bisa, perbaiki.

Bila tidak?
Usaha lagi.

Sampai kapan?
Sampai saatnya berhenti..

--

Saturday, March 30, 2019

Chapter IV - Kembali ke Kotaku


Pagi ini aku bangun dengan suasana aneh.

Ini bukan tempat dimana aku biasa terbangun untuk bergegas berangkat kerja. Bukan tempat dimana aku biasa terbangun untuk segera bersibuk ria. Aku merasa hari ini sangat santai. Tak terbeban.

Kuperhatikan sekitar sembari mengumpulkan segenap nyawa. Aku baru sadar, ternyata aku di rumah!

Kepalaku sedikit berat, ntah karena kurang istirahat atau terlalu lelah. Sejenak diam, lalu kucoba mengingat kembali kejadian semalam. 

Aku kembali berkerjap, rasanya aku ingin kembali tidur. ketika tiba-tiba aroma kopi menyeruak. Tak lama lalu, aku melihatmu masuk membawa seulas senyum juga cangkir yang sangat kukenal.

‘Hey, good morning.’, Sapamu.

‘Hey.’, Jawabku. ‘Good morning.’

‘Is there something bothering you?’, Tanyamu. Aku menggeleng tanda semuanya baik saja. Aku mengantuk sekali.

Masih belum genap nyawaku terkumpul, tiba2 kurasa hangat di pipi.

Ah, aku dikecup.

Tak banyak aku mampu ingat, hanya beberapa kelebat scene yang terekam. Aku, kamu, dan beberapa teman. Kita dijemput mereka di terminal, untuk lalu berjalan-jalan, masuk ke dalam bar, lalu sedikit banyak percakapan, berfoto di tengah kota, dan sedikit bumbu cemburu kalau tidak salah..

Sial. Sepertinya aku sepertinya sedikit berlebihan semalam.

--
Part I

Tuesday, March 5, 2019

Tuesday, February 26, 2019

Sunday, February 24, 2019

Jakarta

Jakarta sang Ibukota, penuh dengan intrik dan suka duka. Jakarta bagiku adalah kota yang menyimpan cerita mengenai perjuangan dan persahabatan. Satu kota penghubungku dengan cerita luar benua. Satu kota yang menjadikan berjuang adalah hal yang begitu berharga dan layak untuk diceritakan.

Jakarta hanya akan jadi Jakarta, hiruk pikuknya begitu terasa menyebalkan tapi juga kurindukan. Kota yang jarang kuceritakan namun aku begitu ingin kembali padanya. Sekalipun selalu kusebutkan aku jengah bersama penuh polusinyanya, namun sesekali aku ingin kembali pulang, mengulang tanpa rasa bosan.

Jakarta akan terus jadi Jakarta, akan terus terdiam hari tanpa tertidur sedetikpun melihat sesaknya. Jakarta juga yang jadi saksi rindu dimana kita tak pernah bertemu sekalipun berdekatan. Mungkin tak sekarang, tapi di lain kesempatan. Mungkin nanti ketika kita bisa dengan leluasa bercanda tawa cerita masa muda yang penuh kebodohan. Mungkin juga, di kota lainnya.

Ya, bila waktu itu kita tak harus kembali melalui Jakarta, kita bisa saja masih bersama.

--

Tuesday, February 12, 2019

Aku terdatangi kamu sekali lagi, sosok menyenagkan selalu beri buai dalam mimpi. Meskipun sesekali, kamu selalu rutin beri kunjungan padaku kala terlalu lelah dan merindukan masa silam.

Kita memutuskan untuk saling berkenalan lagi. Anggap ini adalah pertemuan pertama dimana kita hapus semua apa yang terjadi lalu. Selamat datang kembali. :)

Ps. Membiarkan kupu-kupu beterbangan di perutku, aku main api..

Thursday, February 7, 2019

Bicaraku di sudut langit

Malam tadi kita tak jadi bertemu, sebut saja itu konspirasi alam yang seringkali buatku termangu..
Mungkin kamu masih tenggelam dalam duniamu, terlihat asik mencari ntah apa yang kutak mengerti. Aku disini hanya mematung sembari memandangi gambar bergerak dimana ada aku kamu, membayangkan sembari mengagumi lekuk juga indah dirimu.

Aku tahu kamu sedang lelah hadapi dunia
Namun seringkali dunia tidak berjalan sesuai dengan rencana memang. Bahkan, ada sesuatu yang buatku harus terus menahan dan bersabar, bukan jadi aku yang dulu.
Sementara kamu rindukan masa begadang hingga pagi karena pekerjaan, aku merindukan rasanya bisa pulang dalam dekapan, diperhatikan dan diberi waktu. Kita memang lucu.

Kita berbeda, karena aku kamu tumbuh dalam ekosistem dan suasana yang berbeda pula.
Kita betul-betul sadar kita tak saling kenal, karena ketidaksengajaan yang disengaja sajalah yang buatku denganmu kini.
Tapi menyenangkan bukan?

Aku bukanlah aku yang biasa diam menunggu, tapi entahlah, kali ini aku hanya ingin tahu dimana batas kesabaranku terhadapmu. Batas yang sudah kubulatkan akan selalu kutambah kapasitasnya. Mengapa? Sudah jelas agar kamu merasa nyaman dengan aku.

Rindu ini membuncah sekalipun mungkin tak sampai padamu. Dada ini sesak karena penuh akan asa rasa yang mungkin tak terasa olehmu.

Di sudut langit malam ini, kutitip rindu untuk kau ambil esok pagi.
Selamat beristirahat dengan sisa kecup yang tak kau sadari kuberi, saat engkau pergi terlelap tadi.
Selamat malam menjelang pagi, Matahari.

--
J

Tuesday, February 5, 2019

Teruntuk kamu yang pergi terlebih dahulu.

Malam tadi aku menemuimu, kita berujar sapa di tepian jalan. Kita bicara banyak, dan sekali lagi aku mengeluh padamu, sementara kamu hanya beri senyum seperti biasa. 

Kamu begitu nyata, dan sebelum mata ini terbuka, kamu sempat bilang 'selamat tinggal'. 
Kata yang tak pernah terucap bahkan di kali terakhir kita bertemu.
Dan sebelum mimpi itu berakhir, kamu beri aku peluk,.

Erat yang menghangatkan, erat yang beri nyaman. Ah, Aku rindu.

Kita pernah menjadi pelengkap satu sama lain. Aku pernah sekuat tenaga mengejarmu, walaupun pada akhirnya kamulah yang membuat nyawa ini hilang, jiwa ini tak lagi labuh ketika kamu pergi. Kamu begitu lekat, hingga kehilanganmu adalah peristiwa yang ingin kuhapus dari otakku.

'Bagaimana kabarmu?'
Adalah pesan yang lama ingin kutanyakan sejak dulu.
Tapi alih-alih mengenyampingkan ego, kutinggikan harga diriku justru.
Padahal aku tahu, itulah yang bikin aku semakin kehilanganmu.

'Nona, Kamu dimana?'
Adalah tanya tak terucap sejak lama.
Yang begitu sering kutuliskan namun tak pernah tersampaikan.
Biar, biarlah mengusang tertutup debu masa lalu hingga bersawang.

Aku tak lagi mendengar kabarmu, mungkin ego juga harga diri yang kupertinggi, 
Padahal aku tahu, sulit untuk dapatkan pengganti senyaman dirimu.

Ya, kita tak lagi bersama tanpa ada yang memutuskan. Kita hanya saling membiarkan di tengah dingin kota itu. Walaupun aku tahu, nadi ini mungkin tak lagi teraliri merah kala kau benar pergi.

(jeda)

Begitu terbangun di dalam tenda, Akupun menyeruak keluar, menghampiri malam yang belum juga hilang. Menengadah dalam gundah, aku bicara satu arah dengan Tuhan, menyampaikan pesan untuk masa lalu. Masa aku tak peduli dengan dungu.

Haha. Aku begitu bodoh menelantarkan perjuangan kita kala itu. Ntah kenapa inginkan kamu, mungkin karena aku tahu, doa kita tertuju pada Tuhan yang tak sama. 

'Kalau doaku tak dikabulkan Tuhanku, mungkin Tuhanmulah yang akan kabulkan doa kita.', Candamu waktu itu.

Nona, di sepertiga malam ini, aku menitipkan rindu. 

Teruntuk kamu, yang telah pergi terlebih dahulu..

--
Ps. Musikalisasi puisi pertama tahun ini!

Sunday, February 3, 2019

2 Februari 2019

Aku menulis ini harusnya tanggal 1 yang baru terpikirkan tanggal 2 namun baru kutulis di penghujung tanggal 3 bulan dua tahun dua ribu sembilan belas.

Februari selalu membawa bahagia. Terima kasih masih sudi bertemu lagi tahun ini.

Mendua, mendewasa..

Bersama (?)

Biar Tuhan yang memberi jalan. Karena manusia terlalu pendek akal yg dipunya.

Terima kasih. :)

Friday, January 25, 2019

Februari

Selalu ada cerita istimewa di Februari. Ntah mengenai pertemuan, perpisahan, perulangan kembali, segala awal dan akhir seringkali terjadi di Februari.
Selalu saja istimewa karena bulan dua adalah yang paling kusukai. Ntahlah karena akan akan tabir yang terungkap, perjalanan rasa, atau bahkan pemberhentian.

Aku selalu menyukainya.

Maafkan aku atas bulan lain, karena tidak akan pernah seistimewa Februari.
Ya, dia seistimewa itu, dan tak terganti.

Menua, mendewasa, melihat masa lalu untuk mempersiapkan masa depan.

Aku tak lagi muda,  tak akan memuda di tiap Februari, tapi pendewasaan inilah yang membawaku di titik ini. Kali ini pasti akan ada cerita berbeda dari sosok yang selalu berbeda, lalu lalang, datang pergi. Aku tak peduli.

Januari, aku tak sabar mengenai Februari.

--
J

Thursday, January 17, 2019

Ada beberapa hal yang mungkin
tak untuk terpenuhi. Atau
untuk diusahakan.

Seperti kamu yang dengan
dingin.

Benci aku dengan
aku.

Rindu

Iya.. sekangen itu!

Wednesday, January 9, 2019

"Kamu ga seharusnya gitu.."

Dengan mudahnya beradu himpit saling padu..
Terlalu keju, katanya. Aku yang merasa menggebu, kamu ingin senangkanku.

Iya, kita ga seharusnya gitu.

Monday, December 31, 2018

Gelar

Lalu akan kau apakan gelarmu yang panjang itu? Akan kau banggakan? Sementara baktimu pada negeri hanyalah pada mereka orang kelas satu. Pada mereka yang dungu? Atau pada yang tak tahu tapi ingin maju?

Ah, Gelar. Gelarku.

Aku malu. Berkacak pinggang, mengangkat dagu. Merasa aku yang paling tahu, padahal ilmu sejumputpun aku masih ragu.

Cari lagi ilmu, tambah pengalamanmu.

Karena gelar tak lebih dari sekedar bubuhan tanda tangan pada cetakan sertifikat yang diberi setelahnya lalu.

Lalu bagaimana kau pertanggungjawabkan gelarmu?

Monday, November 26, 2018

Nesis (lagi) ?

Gue lagi ngerjain laporan penelitian gue. Dan ini tuh rasanya ga jauh-jauh amat rasanya kaya ngerjain thesis gue jaman dulu ituh. Feeling yang ga jauh beda antara pas kerjain thesis sama ngerjain laporan penelitian ala ala dosen sok unyu ini selalu bikin gue nyengir2 sendiri pas rasain cape.

Sedikit aja, kalo kebanyakan kasihtaunya jadi ga valid! Wk.
Img src: dokumentasi pribadi
Bayangpun, dulu gue ngerjain laporan beginian sendirian tjuy di tengah padang ilalang, eh padang salju negeri eropa sana. Gue balik kantor jam 11 dan lanjut ngerjain thesis sampe jam 3 lanjut tidur dua jam (maksimal 3 jam) buat siap siap balik kantor lagi.

Elah, gitu doang..

IYA!! GITU DOANG!!

Jadi memang sih tiap balik kantor ya urusannya sama penelitian lagi. Serunya disana penelitiannya itu kita dibayar gitu tjuy. Lebih seru lagi karena disana buat sharing sama propesornya juga harus bener2 sambil ngerekam terus didengerin ulang di rumah. Wahaha. Kenapa mesti didengerin ulang di rumah? Karena gue kadang miss buat ngerti apa yang propesor gue maksud. anw, propesor awak panggilannya kristin, cewee tjuy, dan taulah dimana2 paling sulit dimengerti ya makhluk bernama wanita yekan.

Wanitanya aja sulit dimengerti, ini ditambah urusan bakteri dan penyakit! Udahlah kelar!

Tapi berkat usaha, doa, kerja keras, dan keberuntungan plus kekecean eug, akhirnya tuh tesis kelar juga! Hahaha. Gue kangen nesis sambil setengah sadar di sepertiga malam menuju pagi. Nesis sambil skype ngangkat gelas beda negara, atau sekedar jalan ke rumah berkilo meter karena ketinggalan bus di tengah malam yang sunyi?

Hahah.

Udah ah, ini posisi stress karena banyak variabel yang harus dikerjain. Ditambah kesokidealisan gue yang pengennya perfect semuanya. Gapapad deh. Anggep anggep aja nesis ulang.

Hari ini deadline, dan masih ada dua poin lagi yang harus dibahas. Semangat ya tjuy!

Buat yang lagi nesis, semangat ya! Percayalah, tesis akan kelar apapun yang terjadi. entah kelar karena lu selesai, atau kelar karena lu diselesaikan oleh tesis. Wahahaha.

--
"Dikit lagi, Cip."

Sunday, November 25, 2018

November 2018

November segera pergi dengan berjuta cerita yang tak tertulis. Semakin dekat dengan pertemuan dan kehilangan. Aku begitu sibuk dengan berjuta pasang mata yang memerhatikan dan sedikit berbisik membicarakan. Matanya nyalang sekali jadikan kristal fotik seperti spektrum cahaya. Mereka melihat dari perspektif masing-masing. 

Tanpa merasa tersulitkan, aku menjadi seorang yang baru setahun terakhir. Tiga bulan ini aku mengalami perubahan pesat. Terbetik rasa nyaman dan ketenangan. Aku menjadi lebih sabar.

Dalam kesabaran dan ketenangan, aku mencoba untuk dapat melihat lebih jauh. Menjadi pribadi penuh senyum dan lebih kuat. Dapat memberi lebih banyak dan jadi manfaat. Emosiku stabil, mudah mereda tanpa harus meledak. Aku menuju lebih hebat.

Senyum, Senyumku. Karena nyamanku pernah padamu, tak bisa kuhilangkan tapi bisa kureguk hingga tuntas. Sebentar cerita yang menjadi bahan merangkai kata, kamu mendewasakan dengan melihat kembali perjalanan kita yang tak pernah puas. Tersimpan memori untuk dipilah-pilah lagi. Jadi arsip tak berkesudahan menjadi bahan pikir juga laku tanpa perlu berlekas.

Aku berkaca dengan cara yang indah. Karena membolak-balik ingatan bukanlah hal mudah. Bila tenggelam maka akan habis sudah. Tinggal nama yang berakhir dengan sumpah serapah. 
Selamat pagi, Pagiku. Bahwa bertemu dan mengakhirimu adalah perpisahan mewah tanpa air mata tertumpah. Sampai berjumpa lagi punggung yang kurindu.

Kini, beberapa ribu kata masih harus kuselesaikan kembali. Tak mudah namun harus tetap gagah. Bagaimanapun, hidup tak lagi mudah. Tak lagi sesederhana dulu kala bangun siang dan tergagap karena laporan praktikum yang belum selesai.

Selamat berhari minggu, Pembaca abu-abu..

--
JNovember 2018


Wednesday, November 14, 2018

dua meter persegi

Aku rindu pada ruang sempit dua meter persegi ini.
Tempat aku damai dan lepas penat. Bukan pada sembarang tempat.

Hariku kini banyak habis termakan.

Aku rindu padamu.
dan padamu..

Rintik di luar terus berkejaran, sementara musik berputar, delapan dimensi.

Ingat terakhir kita menikmati hujan?
Kau genggam rapat, segera keluarkan payung agar kita tak basah.

'Tak usah.', Sergahku seraya tersenyum.

Biar, biarlah dingin dan hujan ini berhenti abadi di memori.
Biar ia ada disana tanpa terganggu, biar saja.

Toh, terbukti, aku bisa menikmatimu dan hujan kala itu, kapanpun kumau.

--
Di sudut Uni, tempat kita pernah merasa saling.


Saturday, September 29, 2018

Berjuang memperjuangkan

Pada hidup, tiap pribadi akan memperjuangkan sejarahnya masing-masing.
Akan jadi yang dikenang atau sekedar angin lalu.

Ada yang berjuang dengan uang, ada yang berjuang dengan ilmu, juga lainnya. Ada yang berjuang untuk uang, ada yang berjuang untuk ilmu, juga lainnya.

Bagiku, apapun yang kamu perjuangkan, itu hebat! Sekalipun nanti kamu akan bertemu dengan tembok tinggi dan batu tajam yang akan membentur atau membuatmu berdarah-darah.

Tapi jangan berhenti memperjuangkan perjuangannya. Karena, dari sana kamu akan tahu, suatu bahkan berjuang akan lebih berharga dibanding mencari keberhargaan..

--

Saturday, September 22, 2018

Sebelum aku tak lagi boleh merasa hal lain selain denganmu, bolehkah aku tenggelam sejenak dengan masa lalu?

Karena beberapa waktu setelah hari ini. Kamulah hariku.. :)

--

Wednesday, September 19, 2018

List hari

Hidup gue udah terlalu 'ngikutin' deh. Hahha. Gue ngerasa energi yang gue punya besar, tapi terlalu banyak kanal yang dialirin.

Akhir-akhir ini banyak kejadian yang bikin gue berpikir lebih jauh. Karena selalu ada hikmah dari setiap kejadian kan? Ada beberapa kejadian yang menuntut gue untuk nurunin standar yang gue punya. Tapi gapapa, di satu tempat standar gue turun karena memang spesifikasinya beda, tapi di tempat lainnya acuan gue tetep sama.

Selain standar, dalam hidup kita harus memilih proses mana yang akan kita tekuni untuk menjadi suatu sosok yang kita mau.

Ah, udah jam 7, di list gue harus udah kerjain yang lain lagi.
Bye

--
Ps. Ngelist kerjaan harian lama banget ga gue lakuin.

Pendewasa

Lintas asa aku padamu.
Terang mata di kala pagi hendak menyapa selepas malam. Aku menemukan kembali semangat masa mudaku.

Kita tak bersama, namun aku merasa dekat denganmu lewat lagu juga mimpi malam ini.

Uraian rambut panjang, senyum menggoda, kerling mata merayu manja. Kamu jadi bagian tak lepas masa lalu, masa meledak bahagia..

Suatu masa, aku yakin kita akan jumpa. Hadir pembawa senyum basuh luka. Beda kita hanya bawa bahagia. Karena rasa.

Selamat malam, pendewasa..

Saturday, September 15, 2018

2012

2012..
Gue lagi bahagia-bahagianya jadi mahasiswa.. Lagi seneng-senengnya jadi senior yg punya 3 ade tingkat.. Isi cerita hidup gue waktu itu ga jauh-jauh dari jalan-jalan sama temen baru yang gue kenal waktu KKN. Kenalan makin luas karena usaha yang berkembang pesat karena punya partner yang hebat dan waktu yang tepat..

2012..
Gue lagi cinta monyetan yang selalu menyenangkan untuk dikenang.. Main keluar kota tanpa pusing punya uang berapa karena teh anget dan gorengan udah cukup membahagiakan.. Baru-barunya gue punya dslr camera yang selalu gue bawa kemana-mana yang bikin gue sadar bahwa fotografi itu menyenangkan dan menghasilkan uang..

2012..
Gue wisuda.. babak baru dalam kehidupan dimulai. Ada transisi dimana gue gamau lepasin kebahagiaan gue menjadi mahasiswa yang ngedorong gue buat sekolah lanjutan. Sekalipun skripsi bisa dipercepat, tapi berakhir lewat sedikit target dan tetap menyenangkan. Gue masih inget suasana gue susur kota tengah malam menuju lab buat ambil data.

2012...
Enam tahun berlalu sudah. Saat ini keadaan tak lagi sama. Banyak momen menyenangkan tak terlupa karena terlalu indah.. kota yang tak mungkin tergantikan. Suasana yang tak mungkin terlupakan.. bahagia yang berbeda karena saat ini dewasa mendorong untuk bisa bahagia dengan cara yang berbeda..

2012..
Sebentar lagi, babak barupun akan dimulai.

--
Ps. Di mimpi barusan, gue ketemu sama suami sahabat gue yg sebenernya gue blm pernah ketemu.. hmm..

Ideal

Mungkin suatu saat idealisme akan patah. Karena lingkungan yg kurang pas, atau supporting system yg tak jelas. Tapi tak perlu menyerah. Karena pada akhirnya idealisme hanya dapat diterima mereka yang ideal.

Idealisme bagai kunci dan gembok yang berpasangan. Bila tidak sesuai dipaksapun akan rusak salah satu.

Jadi sudah, berikan terbaik tanpa harus menyerah. Karena setelah ikhtiar dan doa, usaha terakhir adalah berpasrah..

Sunday, September 9, 2018

Bengkok

Engkau, bengkok yang nantinya akan menyempurnakan.

Meluruskan tak mungkin, hanya dapat menjaga dengan kehati-hatian.
Membengkokkannya apalagi, hanya akan membuatnya rusak.

Lalu patah.
--

Sahabat nyokap

Tahu apa kejutan hari ini?

Ternyata gue kenal deket sama sahabat nyokap yg udah gapernah ketemu sejak lulus kuliah! Haha. Berawal dari perkenalan gue dengan beberapa orang yang mau belajar soal perikanan. Lama kelamaan gue makin deket sama mereka. Ada satu orang yg semangat gitu buat ngedorong gue ke arah yang lebih baik.. sering gue ceritain ke nyokap soal doi..

Sejak awal gue sebutin nama kenalan gue ini, nyokap curiga kenalan doi kenalan bokap. Tapi ternyata setelah ditelusuri ternyata bukan..

Beberapa waktu lalu gue main ke rumah kenalan gue ini. Ada beberapa urusan dan dokumen yang harus gue buat. Abis nelar urusan, gue obral obrol. Dan nyebutlah doi dari fakultas yang sama kaya nyokap. Tapi gue ga tanya lebih lanjut karena gue pikir, 'gamungkinlah..' gitu. Kan dulu nyokap jg udh bilang bukan kenalan bokap ataupun nyokap. Hehhe.

Hari ini iseng gue tanya sekali lagi sama nyokap. Kenal ga sama bapak ini, dia lulusan unila dengan profilnya. Nyokap mulai mikir dan sempet deskripsiin temennya itu. Dari deskripsi gue langsung yakin itu kenalan nyokap. Gue bilang gue ada fotonya. Tapi karena masih d jalan gue nunjukinnya pas d rumah aja.

Sampe di rumah.. gue dari mobil ga langsung turun tapi buka hape dan cari foto berdua.

Gue tunjukin..

Nyokap diem.

Liat ke gue..

Terus bilang, 'Iya mas, ini sahabat Mama..' wkwkwkw. Nyokap sampe lemes gitu dong pas gue tunjukin foto gue sama sahabat doi.

Ah. Itu cerita menyenangkan hari ini. Selalu ada kejutan baru di balik masalah juga hal negatif lainnya. Tapi gue yakin, Allah selalu punya cara memberi kebahagiaan bagi hambaNya..

Kaya hari ini.. :D
--

Thursday, September 6, 2018

Menahan diri. Mendiamkan. Tenggelam tak memermukakan diri..

Tenang yang menyenangkan.

Tak terburu-buru karena yakin akan bertemu..

Rindu..

--

Wednesday, September 5, 2018

Rapuh

Pertemuan atau perpisahan dengan siapapun pasti berakhir dengan sebuah pelajaran.

Karena pada akhirnya, kita akan mencari yang saling melengkapi dalam hidup yang rapuh ini.

--