Dum jedum jedum
Thursday, April 22, 2021
Monday, April 12, 2021
Tuesday, December 29, 2020
Aku pernah bermimpi: Menjadi seorang Profesor. Salah satu mimpi yang begitu kudamba kala masih menjadi seorang idealis bernama mahasiswa.
Menjadi seorang sabar mungkin memang bukanlah gayaku. Terutama bila harus terus bersinggungan dengan ekslusivitas dan hal yang begitu administratif. Keinginanku untuk mengajar kuat memang, tapi aku mundur bila terus didera rutinitas tanpa didukung oleh lingkungan yang baik. Iya, aku pecundang memang. Tapi keberpecundanganku bawa positif dengan apa yang kumiliki hari ini. Itulah hidup, ya?
Pernah kuberpikir bahwa kami adalah kumpulan orang pintar dengan kegiatan kosong. Kegiatan berujung pada gosip-gosip obrolan rumah bawa ke kantor. Ya aku tahu akan banyak yang mengecam dengan opini tersebut. Karena berangkat ke kampus untuk sekedar menggugur kewajiban dan menunggu pulang bagi sebagian kami bukanlah hal yang aneh lagi. Tapi di beberapa institusi, hal tersebut adalah hal lumrah dan merupakan rahasia umum.
Tidak, tak semua dari kami demikian, ada yang betul-betul beri sumbangsih tanpa mengharap apapun kecuali murid menjadi lebih baik. Menyedekah ilmu tanpa berpikir pamrih. Mereka kuanggap orang hebat sekalipun banyak hal buruk memecut orang-orang baik ini. Beberapa adalah role model untuk kuambil kebaikan dan landasan perjalanan hidup. Dan memang, orang baik akan selalu mendapat ujian yang lebih berat. Seperti kebanyakan mereka. Ada kala hatiku hancur, ketika kulihat kolega dekat menangis karena hal administratif atau yang cerita sesepele, 'orang baik tak ikut gerbong hanya akan dibuang'.
Begitulah kami, banyak hal tak terceritakan karena citra memang hal penting yang harus dijaga.
Mendapat gelar profesor mungkin bukan jalanku. Namun aku telah belajar banyak dari mereka, para profesor ilmu dengan atau tanpa gelar yang tersemat di nama meraka. Mereka yang tak berpamrih dan turut mengukir sosokku hari ini.
Selamat pada seorang guru dan pengayomku di sebuah institusi yang besok akan dikukuhkan gelar Guru Besar di depan namanya.
Ah, nyatanya sekalipun terus merundung, aku rindu suasana teduh saintifik itu.
--
Di sebuah kios ikan yang baru terbangun kemarin
Wednesday, December 9, 2020
Seharusnya
Thursday, November 5, 2020
Apatis
Beberapa media sosial saya tutup beberapa minggu lalu dari laman pintar saya. Bukan deaktivasi, hanya sekedar menghilangkan dari ponsel saja.
Hasilnya? Menyenangkan. Saya tidak harus buka instagram atau twitter untuk mengisi waktu kosong. Saya jadi lebih banyak gunakan waktu luang saya bersama Mbak Kenyo dan/atau mengisi dengan menghubungi beberapa kontak lama. Bila butuh hiburan? 9gag selalu jadi pilihan saya sejak satu dekade lalu. Hehe. Untuk menulis? Selalu ada ciptaweje dan cwjati yang siap ditumpahkan rasa selain mulut dan telinga.
Ternyata mengurangi hubungan dengan dunia luar bisa buat lebih fokus dengan apa yang sedang dikejar. Serta mensyukuri apa yang menjadi 'present' di hidup ini.
Bukan tidak mungkin saya akan menyambangi kembali dua aplikasi yang dulu banyak menyita waktu saya sekedar untuk mengikuti perkembangan hidup mereka yang saya ikuti. Itu biarlah nanti. Sekarang biarlah saya tenggelam dengan nikmatnya hadiah hari ini serta karunia persaudaraan dan persahabatan pada circle yang jauh lebih kecil.
Terima kasih.
--
Thursday, September 24, 2020
Saya penyuka senja. Begitu mengagumkan bisa melihat langit yang saya selalu kenal berwarna biru atau hitam beri warna jingga begitu memesona.
Seperti langit, kita sering kali beri warna umum untuk orang tahu. Namun selalu ada warna kelabu bahkan kelam yang tidak selalu orang suka. Beberapa mungkin akan bisa nikmatimu dengan warna hitam itu, tapi beberapa yang lain memilih untuk tidak hiraukanmu.
Namun senja selalu beri warna haru, ketika akan berpisah dengan warna menyenangkan. Seperti beri tanda bahwa ia akan pergi, sementara.
Yang tidak pernah kita tahu, kapan kita bisa bertemu lagi dengan senja seindah itu.
Karenanya, tiap tiap senja selalu spesial bagi saya, karena tidak selalu saya bisa nikmati dengan penuh kekaguman dan tenggelam dalam pikiran.
Thursday, September 10, 2020
Monday, July 27, 2020
Mengena asaku dulu.
Segala rahasia banyak kugembok disana. Mulai dari pengalaman lucu, puisi pertamaku kala SD dan kubacakan di depan kelas untuk tugas mata pelajaran bahasa indonesia yang kini sudah tak terbaca, beberapa kenang-kenangan dari beberapa teman, hingga kado ulang tahun yang baru kusadari ternyata aku punya pengagum ketika aku SMA! Haha.
Begitu menyenangkan bisa mengalirkan banyak kata dan menumpah segala isi kepala tanpa khawatir akan ada yang mencibir atau menyungging sinis sebab statusku yang tak jelas kini. Aku begitu bebas mengutarakan apa yang kumau dengan begitu egoisnya. Aku tak pernah takut mengena apa yang akan menimpa setelahnya. Bahkan, kurasa aku tak punya hati hingga tahun lalu. Egois dan bertemperamen tinggi kuyakin adalah dua sifat pas yang begitu lekat dengan sosokku.
Ada satu mimpi yang begitu jarang tercerita selama ini.
Bahwa aku ingin jadi seorang penulis. :)
Sebuah asa yang begitu menyenangkan bagiku. Dimana aku bisa menggores pena sesuka hati, menumpahkan segala buah pikir dan rasa untuk dialirkan sesuai dunia yang kubuat sendiri. Begitu banyak yang ingin kusampaikan namun begitu kusut dan butuh untuk diurai.
Aku merasa mampu untuk menggambarkan banyak dan memberi deskripsi dengan begitu detail mengenai banyak hal.
Bahkan beberapa pembaca abu-abuku kerap menanyakan dimana diriku kini. Coretan di kertas buram yang sering kulempar begitu saja menuju tong begitu sayang kuakui.
Begitu besar keinginan untuk lakukan dan merealisasi. Terlambatkah?
Sekalipun tidak, ada satu namun yang mengganjal tiap kali aku coba goreskan tinta pada tiap kanvas pikirku. Aku tak lagi sepercaya diri dulu..
--
Sunday, July 26, 2020
8kg!
Sebulan berlalu..
Dan akhirnya turun 8kg! wkwk. Ini sedikit banget sih! Dulu biasanya pas diet-dietan gini, 15 kilo sebulan itu biasa banget. Kalau sekarang terlalu banyak excuse juga kasih kesempatan badan buat ga cape kali ya(?) hahah.
Biarlah, yang penting daku senang dengan posisi badan yang tidak terlalu gembung ini. 20kgs to go, Cipt.
--
I love myself kalo kata orang-orang mah.
J
Thursday, July 2, 2020
Sunday, June 21, 2020
Sebuah foto yang dikirim oleh seorang sahabat kala suka duka. sahabat yang menyebalkan dan selalu siap mendengar cerita. Kini kami sudah mendewasa ternyata, bersama segala kesibukan dunia, kesibukan mengisi hari dan kebutuhan. Tapi cerita kebodohan yang telah terbuat selalu asik dijadikan bahan tawa kala jumpa.
Dia mengirimkanku ini.
Di tengah kantuk aku merasa pilu.
Masih dengan aku.
Dan semua semangat di masa mudaku.
Kacamata hijau yang selalu kubangga karena menyisa cerita di suatu pesta.
Baju v-neck yang kalau kupakai disini pasti buat dicerca.
Celana yang kubeli bersama seorang pebasket Nantes yang kebetulan satu kota.
Sepatu yang hilang di masjid kala aku kerja.
Topi yang tertinggal di bus bandara.
Tas yang menjamur karena tak terawat.
Serta cardigan abu-abu di suatu tempat di Jakarta.
Aku yakin salah satu kebahagiaanku kala itu adalah karena beratku tak menyentuh 80 kilogram kurasa.
Indah dan masih tersimpan rapi. Bersama segala memori yang menguak tak tertahan. Sekecil ingin lagi melihat indahnya biru langit di Eropa.
Menua itu menyebalkan kata mereka di sekelilingku.
Tapi tidak bagiku.
Karena memori selalu hidup bersamaku.
--
Jati
Saturday, June 6, 2020
Memuja Gelar
- ada yang setuju
- ada yang tidak setuju
- ada yang tidak peduli
Terlepas setuju tak setuju, bagi saya pencantuman gelar akademik bukan sebuah masalah. Pride? Bisa jadi. Aktualisasi? Boleh saja. Saat ini, bagi saya tidak penting. Tidak tahu besok ya. Ehehe.
Terserah, tiap pihak boleh berpendapat. Yang tidak berpendapat juga tidak masalah. Saya kala ini di golongan yang ketiga soalnya. Mau diberi atau tidak ya tidak masalah. Itu informasi kok. Mau diterima bagus, engga ya gapapa. Ga dicantumkan? Ya bukan sebuah masalah juga.
Karena semakin menua, saya semakin sadar. Bermasyarakat bahkan bernegara seringkali tidak memerlukan gelar untuk memilii suatu kualitas. Ada yang sudah bergelar doktoral di usia muda, tapi ketika terjun ke lapang masih harus belajar. Ada yang tidak memiliki gelar di bidang tertentu tapi nyatanya ahli di bidangnya. Gelar itu untuk menunjukkan ahli di bidang tertentu, capaian tertentu. Tapi menyoal kualitas? Tergantung batu asahan yang dipakai sepanjang perjalanan nafas ditarik-hembus.
Saya? Saya mencantumkan gelar. Hehe.
Hidup itu pembelajaran.
--
Preference. Gausah diributin.
Tapi kalau prefer ribut? Ya silahkeun...
Friday, June 5, 2020
Ring 1
Pantes aja sulit banget dicari. -
-
Eh iya, seorang pejabat dua hari yang lalu nelpon gue. Nanyain kabar dan gimana kesibukan sekarang.
Iya, gue juga aga heran dengan telpon yang masuk di jam 22.23 itu. Tapi ya namanya pejabat, kerja mulu sik. Jadi ya diantara Mbak Aisyah bobo (yang selalu) unyu, gue buru-buru ke luar kamar buat angkat.
'Assalamualaykum, Pak.' Gue memulai pembicaraan.
'Waalaykumsalam, Pak Jati. Wah sudah lama sekali saya tidak menelpon, kira-kira mengganggu kah?' Pertanyaan dari ujung sana yang jelas ga akan gue balas dengan jawaban 'Iya, Pak.'.
'Oh tidak pak, kebetulan ini baru selesai pekerjaan, lagi nonton TV.', Jawabku.
Pembicaraan berlanjut dengan bertanya kabar dan kesibukan. Singkat cerita beliau menanyakan mengena bisnis yang gue jalankan dan kondisi lapangan di Lampung. Ternyata beberapa pejabat melirik Lampung untuk lahan bisnis yang oke. Tapi (saat ini) mereka belum punya PIC.
Kok mereka tidak turun sendiri? Yah, orang lingkar dalam yang sibuk meng-Indonesia seperti mereka bukan tipe merintis dan memastikan usaha berkembang. Lebih mudah bagi mereka untuk memercayakan pada yang dipercaya. Dan kali ini, gue dikasih penawaran yang sulit gue tolak.
Singkat cerita, dalam waktu dekat kalau tidak berkesibukan, gue akan diundang ke Jakarta. Otomatis gue ragu bisa berangkat apa engga karena memang Covid19 ini bikin ga leluasa bergerak. Guepun bertanya, 'Lah kalo gapunya SIKM apa saya bisa ke Jakarta, Pak?' Tanya gue polos.
'Lho, kalau pejabat negara kan boleh, Pak? Hehe.' Balas enteng suara di seberang sana.
Seketika gue nyengir.
--
Monday, June 1, 2020
Halo, Yes.
Apakabar kembali?
Surat ini kubuat karena baru saja kudengar sajak dari seorang teman untukmu.
Yang aku pun tak tahu, kamu akan mendengar atau tidak.
Aku tak kenal sosokmu, tapi aku tahu rasanya jatuh dan goyah untuk berdiri.
Kontak pertemamu dengannya yang begitu buat berbunga.
--
Sunday, May 31, 2020
Segera Juni
Aku tak sabar lagi, menunggu kejutan apalagi yang akan kudapat selanjutnya.
Karena biasanya, setelah aku berencana, akan ada hal-hal seru yang kudapat tak lama..
--
Mei, aku padamu.
Friday, May 29, 2020
Thursday, May 28, 2020
Sering buat tidak siap ketika di bawah, terlalu yakin semua akan berlalu dengan aman saja.
Sementara jatuh selalu mengintai.
Besok aku ingin ke luar, cari ramai, cari sesuatu untuk dilaku.
Tak hanya berbaring malas dengan jendela tertutup.
Dari dunia.
--
Tuesday, May 26, 2020
Saya sedang bingung, tapi saya sadar saya butuh sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak melulu itu-itu saja. Saya melakukan itu sekitar 4 tahun ini. Tidak salah, tapi kurang tepat. Karena saya sadar kebahagiaan saya adalah ketika saya berkembang.
Saya selalu menyukai menjadi yang pintar, tapi saya tidak tahan selalu menjadi yang paling pintar di suatu tempat. Kenapa? Karena saya tidak berkembang. Dan itu menjemukan, membuat saya betul-betul stress dan merasa tidak bahagia.
Saya banyak berbagi, tapi saya merasa tidak mendapat banyak pelajaran baru. Tidak bersosial banyak, apalagi mendapat masukan dari mengamati cara hidup orang lain.
Saya butuh sesuatu yang baru, yang bisa membuat gairah ini bergelora. Mengejar dan bermimpi.
Ya, bagi saya mimpi itu begitu mahalnya. Karenanya tidak semua orang mampu memiliki mimpi.
Apalagi mewujudkannya.
--
Thursday, May 21, 2020
Waktu semua ini berakhir
Wednesday, May 20, 2020
mau apa
Sunday, May 17, 2020
Surat Pertama Untuk Aurum
Saturday, May 16, 2020
Bila langsung jadi besar, apakah itu bukan berarti bersiap-siap untuk jatuh?
Bagi yang sudah terbiasa dengan tinggi dan punya persiapan terjun bebas pasti akan lebih aman. Namun celakalah bagi mereka yang tenggelam dalam gelimang dan tak bersiap.
Jatuh itu pasti, apa persiapanmu?
--
Friday, May 15, 2020
Lewat Suara
Memulai apa? Semuanya!
Iya, memulai lagi menata diri juga hati, memperbaiki usaha dan sistem perusahaan, memulai lagi memastikan kehidupan di masa datang, dan mereset ulang list mimpi yang terlanjur tidak tercapai.
Banyak hal tertinggal. Gue terbuai waktu luang yang buat gue ga awas sama apa yang terjadi di sekitar kita. Bahkan gue terlindas oleh buai waktu berjalan, sibuk berlaku tak perlu sampai gue tau semua sudah jauh berlalu.
Salah satu mimpi itu adalah, gue pengen siaran lagi! Hehe. Segitu rindunya bersiaran dan menyapa pendengar. Beberapa tahun lalu bahkan gue sempat ketemu sama salah satu orang radio lokal buat nawarin kerja sama, atau seengganya buat diskusi deh. Tapi gue ilfeel karena ni anak songong banget! Haha. Salah satu kesempatan gue buat mengudara lagi akhirnya kandas. Yahh..
Tapi berkat covid ini, gue menjalin lagi silaturahmi dengan berbagai orang yang buat gue rasa lebih bebas. Nama-nama lama tempat nyantai ngobrol dan diskusi. Sampai akhirnya kesempatan mengudara ada lagi! Yes!
Kali ini ga lewat radio memang, tapi via podcast. Semacam Audio On Demand gitu yang rekam suara kita terus diunggah ke internet, setelahnya pendengar bisa listening ke podcast melalui platform-platform tertentu. Ini sudah minggu kedua gue mengudara. Menyenangkan!
--
Ps. Oh iya, gue sementara numpang dulu siarannya, sama Ex-penyiar Radio PPI Dunia juga! Yay!
Pps. Tenang, bakal punya podcast sendiri juga kok. Tunggu aja.. :*
Tuesday, May 12, 2020
Beliau tersenyum sedikit terkejut mendengar anak didiknya menyebut sebuah asa yang bukan main-main.
"Hmm.." terlihat kerut di dahinya seraya memilih kata-kata yang akan disampaikan pada muridnya ini. Sepertinya beliau tahu, mimpi ini bukanlah sesuatu yang mudah diwujud.
Akupun baru menyadari, hidup begitu tak tertebak.
"Udah, kamu fokus dulu aja buat berangkat. Perjuangan ini masih panjang, Cip. Dan berdarah-darah. Kalau nanti sudah pulang, kita ngobrol lagi"
-
Penggalan percakapan saya dan seorang dosen yang sudah saya anggap ayah ketiga saya di Semarang. Ruangan Administrasi Magister Manajemen Sumber Daya Pantai, Universitas Diponegoro
Aku baru menyadari saat ini, mengapa beliau menjawab saya seperti itu. Karena sejatinya hidup begitu berliku dan rumit. Semangatku tergerus waktu juga hantaman hidup. Keinginan tak sekeras itu lagi.
Tiba-tiba aku malu bahwa sering dengan pongah berkata pada para mahasiswa, bahwa untuk menggapai mimpi dibutuhkan energi besar sekali.
Satu hal yang lupa saya berikan kepada mereka, "Waktu begitu bengis menitiki segala kantung semangat yang pernah seorang manusia punya begitu banyak."
--
Sial, aku rindu pada nyala api dalam dada buat buncah semangat tak mudah mati.
Monday, May 11, 2020
Mimpi Besar
Begitu banyak mimpi terkubur satu persatu, aku bukan tak ingin wujudkan, namun hanya sedikit perlu waktu. Tergerus ekosistem dan realita yang seringkali menyebalkan.
Waktu kini berubah banyak, buat ego juga rasa membuncah sebab berat untuk tunjukkan wajah asliku. Aku hanyalah aku yang begitu ingin ucap rasa pada banyak orang.
Bahwa aku masih disini, masih menyimpan mimpi begitu rapat. Merapal ulang mantra-mantra lama yang kutaruh entah dimana. Kucoba kutambal ulang, sulam kembali. Agar lebih mudah bagiku tentukan arah. Aku selalu bersyukur, dari sebuah cobaan selalu ada harapan.
Kali ini, harapanku besar sekali. Sekalipun mungkin kondisi sudah berbeda. Tapi tak apa. Masih ada sisa satu tahun lagi untuk mewujud satu mimpi besar di kala muda.
--
Iya, satu tahun lagi..
Saturday, May 9, 2020
Tak Bisa Segala
Kita tak bisa terus memaksa diri meraup segala, bisa segala. Karena kita manusia.
Begitu banyak pilihan dan kesempatan, maka berbijaklah! Bijak dalam memilih dan menentukan arah masa depanmu. Memastikan kamu tidak tersandung batu kecil dan tajam yang bisa buatmu berdarah-darah dan kehabisan napas.
Gagal itu biasa, tapi bagaimana kamu bisa menghadapi segala susah dan mensyukuri semua masalah jadi lebih utama.
Lupakan sejenak beban karena pada akhirnya kita bukan Tuhan Sang Maha. Berkuatlah, berkuatlah...
--
Friday, May 8, 2020
membaca pikir
Sunday, May 3, 2020
Sunday, April 12, 2020
Produktivitas Sejati
Merepotkankah? Tidak seberapa. Karena bagaimanapun hal tersebut bisa memperkecil kemungkinan persebaran virus Corona. Selain keluarga, ada juga kebutuhan warung yang harus dibeli. Ya, bagaimanapun perut tetap harus diisi di tengah kewaspadaan yang terus meningkat..
Apatis? Mungkin lebih karena 'keharusan' ya. Saya juga kalau boleh memilih, ingin berada di rumah saja dan menjaga keluarga kecil saya. Tapi bila saya seperti itu, maka akan lebih tinggi risiko terjadi penularan Covid-19 ini di keluarga saya. Repot? Tidak apalah, toh untuk kebaikan yang lebih besar, bukan? Saya juga was-was sebetulnya, tapi saya coba meminimalisasi saya terpapar dengan cara mengurangi intensitas keluar. Dengan cara menjadwal ke pasar beberapa hari sekali, misalnya.
Oh iya, selain kehadiran Mbak Aisyah juga kebertahanan usaha kami menjadi penyemangat saya dalam mencari rezeki, ternyata wabah ini membawa dampak positif.
Dampak positif bagi perusahaan adalah, saya tengah menggodok usaha baru bersama teman-teman saya di Semarang dan Bandung! Hehe. Sudah ada dua usaha yang dibicarakan saat ini. Bidang yang akan kami geluti adalah Otomotif dan Kuliner. Kami sementara ini menyepakati bahwa 'Sejati' menjadi nama dari usaha baru kami. Berasal dari Semarang dan Jatimas. Iya, karena pusat dari usaha terbaru kami rencananya ada di Semarang. Heheh. Hal yang makin di luar ekspektasi. Semakin besar mimpi, maka semakin besar pula effort yang harus dilakukan. Tapi saya yakin semua akan tercapai pada waktu yang tidak lama. Mengapa? Karena saya tidak sendiri.
![]() |
| Bocoran! Ini logo kami! Hehe Img source: Dokumen Pribadi |
Profuktivitas saya menghasilkan bahagia. Kalau kamu gimana?
--
First Created on April 12th 2020.
J
Pohon Perbuatan
Contoh kecil adalah, bersedekah. Perbuatan merupakan bibit yang kita tanam saat ini. Ntah dengan cara apa benih tersebut akan tumbuh dan terus berkembang. Suatu saat akan memberikan buah yang nantinya akan kita makan. Pertanyannya, jenis bibit apa yang kita pilih? Kebajikan atau keburukan? Pohonnya perbuatan akan membesar dan berbuah, berbuah baik dan buruk yang akan kita konsumsi.
Terbayangkah bila pohon tersebut berisi hal tidak baik? Buahnya akan berbau anyir dan busuk. Jangankan memakannya, mencium baunya saja akan membuat ingin muntah, mungkin. Tapi bagi yang terbiasa, maka buah buruk tersebut tidak akan berasa apapun. Tidak serta merta buat jijik. Tapi ya terlihat biasa.
Pilihan dalam hidup adalah menyemai kebaikan atau keburukan. Tanpa disadari, sudah banyak benih kita semai. Sudahkah mulai memetik buahnya?
Saya merasa hidup saya tercukupi. Bahkan di tengah wabah Covid-19 ini, saya justru merasa semakin tenang dan tidak terlalu banyak pikiran.
Saya memiliki masalah, sama seperti makhluk lain. Dan saya meyakini, masalah tidak akan diberikan oleh Tuhan pada hambaNya melebihi spesifikasi makhluk. Semakin saya menyadari itu semakin saya merasa tenang dan bahagia. Semakin besar dan banyak masalah yang hadir dalam hidup, semakin saya merasa segera naik tingkat.
Hal ini yang tak hentinya saya syukuri. Karena diri ini masih mau dan mampu mengingatkan bahwa bahagia bentuknya sangat sederhana.
Kita hanya sering tak menyadarinya saja.
Friday, April 10, 2020
Monday, April 6, 2020
Membangun Manusia
Monday, March 30, 2020
----
Saturday, March 21, 2020
tempat lain
Mungkin tak semegah rumah lain, tapi disini ada cercah harap setitik.
Aku tahu tempat ini tak seindah tempat lain.
dan..
Biarlah kunikmati apa yang kumampu, bukan apa yang kumau.
Karena aku bukan pengemis yang hanya bisa meminta, aku membesarkan diri dengan segala tenaga.
Persetan dengan cibir heran juga tekanan tak beraturan.
Mungkin ada baiknya aku tutup telinga lebih rapat,
ketimbang hati lara mendengar desus mencurigakan.
Dihakimi dan diberi cap sementara menjaga senyum terkembang begitu melelahkan.
Mungkin mereka merasa, merekalah tuhan.
Monday, March 16, 2020
kursi panas
Wednesday, March 11, 2020
rendam
Wednesday, March 4, 2020
Mendung di Penghujung Hari
Monday, March 2, 2020
Friday, February 28, 2020
Stimulan
Sunday, February 9, 2020
Saturday, February 8, 2020
orang dagang
Tuesday, February 4, 2020
Monday, January 27, 2020
Welcoming February
Hmm, targetnya gausah muluk2 kali ya, mumpung agak longgar. Nurunin 15kg, kalau kesampean, beli sepatu baru! Hahha;
--
Saturday, January 25, 2020
Friday, January 24, 2020
Karena, buat apa berinteraksi tanpa adanya tujuan? Bukan masa muda yang segala bisa dimaklumi dan dengan mudah dimaafkan. Bila tidak terlalu penting maka tak perlulah berbasa basi..
Tapi justru itu yang menyenangkan, bukan?
--
Thursday, January 23, 2020
Saturday, January 18, 2020
Monday, January 13, 2020
Mungkin karena saya yang pemalas.
Saya baru saja selesai menulis beberapa list yang harus saya lakukan mengenai beberapa usaha yang saya jalankan. Masing-masing memiliki deretan list yang cukup banyak. Dan sangat membantu cara berpikir juga menentukan mana yang prioritas untuk dilakukan lebih dulu dibanding yang lain.
Saya masih berusaha untuk membagi fokus, yang ternyata tidak mudah. Energi pun harus dibagi dengan bijak. Bila tidak bijak dibagi? Ya berujung jenuh karena melulu itu saja yang dikerjakan...
Salam,
--
jati
Sunday, January 12, 2020
Monday, January 6, 2020
2019!
Pekerjaan saya saat ini tidak terlalu banyak menuntut fisik, tapi lebih banyak berpikir dan percaya pada intuisi juga jalan dari Tuhan adalah yang terbaik. Saya cenderung merasakan stress karena hal yang tidak sempat terceritakan. Ada beberapa hal yang membuat saya seperti itu dan tidak terlalu penting untuk diceritakan di sini. Tapi banyak hal positif yang dapat saya ambil dari perjalanan saya satu tahun ke belakang.
Usaha yang berkembang dengan pesat. Tim yang semakin solid. Rambahan ranah bisnis yang tak terduga. Omzet yang bertambah lebih dari 1000% di kuartal ketiga 2019. Juga begitu banyak hal lain yang tak hentinya saya syukuri.
Mungkin bagi beberapa orang, membaca paragraf di atas begitu menyenangkan. Tapi jangan salah, perkembangan usaha yang pesat pasti diiringi dengan tensi kerja juga proses berpikir yang dituntut tak kenal lelah. Ibarat pohon yang berkembang menjulang, bila akar tidak dipersiapkan dengan baik maka akan mudah roboh terterpa angin. Begitupun yang saya rasakan dalam menjalani usaha saya. Bagaimana tidak, waktu kerja saya hampir 20 jam per hari. Waktu tidur yang terganggu karena harus menerima order dari rekanan keesokan hari, juga complain yang sering masuk tak kenal waktu.
Saya begitu menikmati usaha saya. Saya ibaratkan bagai love-hate relationship. Bukan sekali dua saya ingin quit, tapi selalu ada cara Tuhan mengingatkan saya bahwa inilah jalan yang saya pilih. Segala pilihan pasti satu paket dengan konsekuensi. Jadi jalanilah dengan penuh tanggung jawab apa yang telah jadi pilihan di masa lalu.
2019, begitu tense dengan roller coasternya. Rumah mengaji kami, Insan Kamadiya sudah genap satu tahun hari ini. Bagian kami bersosial dan saling mengingatkan dengan cara berbagi.
Yang menarik dari 2019 adalah akhirnya saya menikah. Ya, April 2019 lalu saya resmi menjadi seorang suami. hehe. Seorang suami yang masih jauh dari sempurna, bahkan lebih banyak sibuk memikirkan hal lain, mungkin.
Satu yang menjadi catatan saya: Ternyata saya masih suka menunda pekerjaan. Hehe.
--
Friday, December 27, 2019
Wednesday, December 25, 2019
Pukul 09.25. Tepat sembilan jam sejak kami menapaki bumi Indonesia. Aku mengedarkan pandangan, sudah banyak orang terbangun karena sadar akan pendaratan ini. Aku mencoba melihat lingkungan baru, langit masih gelap. Samar aku berusaha mendengar pengumuman melalui pengeras suara. "Ladies and Gentlemen, welcome to Hamad International Airport, Qatar. Local time is 05.25 and the temperature is 12°C".
Aku tertegun, ternyata masih subuh disini. Sembari menunggu aku melihat ponsel usangku. Tak ada sinyal. Kucoba aktifkan koneksi, ada sms masuk. Beberapa mengirimkan doa, beberapa membalas pesan berpamitan yang kukirim ke beberapa orang sebelum lepas landas tadi.
"Semoga perjalanannya menyenangkan ya! Kabari bila sudah sampai."
"Iya. Pasti didoakan, Nak. Selamat belajar, tetap kabari Ibu. Nanti kalau pulang ke Indonesia main ke rumah jangan lupa."
"Hei!! Berangkat kok ga bilang-bilang! Aku mau kasih kado padahal!! Huh!!!"
Senyumku terkembang. Beberapa pesan dari orang-orang terdekat yang buatku gatal ingin balas segera. Namun tetiba Aku mengurungkan diri untuk membalas. Karena sadar biaya pengiriman sms yang tidak murah bagiku. "Nanti sajalah.", pikirku.
Aku masukkan kembali ponselku ke saku tas. Sudah sekitar lima menit sejak pesawatku menjejak bumi, tapi kami belum kunjung berhenti. "Bandara ini sangat besar!", suara di kepalaku berbicara. Aku tak sabar melihat-lihat bagaimana isi Perlahan badan kapal terbang mendekat ke salah satu garbarata, tanda sebentar lagi penumpang pesawat bisa turun.
Setelah pesawat benar-benar berhenti. Penumpang dipersilakan turun, aku kagum karena kurasa lebih tertib proses penurunan penumpang ini. Tidak terkesan buru-buru seperti yang biasa kulihat. Ada memang yang terlihat ingin segera turun, tapi hanya segelintir.
Akhirnya tiba giliranku untuk meninggalkan pesawat. Baru saja menjejak garbarata atau tangga belalai, hawa dingin segera kurasa. saking senangnya aku tidak perhatikan semua orang pakai jaket tebal. Hanya aku pakai baju seadanya. Hehe.
"Atis yo, Cip (Dingin ya, Cip).", Ujar Mbak Nurul.
Aku baru sadar kalau aku bersama dia.
Hehe.
--
Monday, December 23, 2019
Aku menikmati perjalanan pertamaku ke luar negeri ini. Baru ini aku rasa terbang setinggi ini. Ntah berapa ribu meter dari permukaan bumi. Cara pesawat ini meredam getaran, ukuran burung besi yang begitu besar, kenyamanan kursi kelas ekonomi yang bagai kelas satu, dan semua hal baru lain.
Kulirik jam, sudah hampir delapan jam aku mengudara. Berarti sebentar lagi aku akan landing di terminal internasional di Doha. Perjalananku dibiayai negara dan aku begitu bangga atas raihan itu.
Kulepas headset yang menempel di telinga dan terhubung pada kursi pesawat. Kusenggol perempuan di sebelahku, teman seperjuangan yang beberapa bulan terakhir banyak bersamaku demi mengejar beasiswa negara.
'Koyone wis meh tekan, Mbak (Kayanya udah mau sampai, Mbak).' aku berujar padanya.
'Hé èh, wis pegel ki aku, Cip. (Iya, aku udah pegel nih).', dia membalas.
Tak lama dia kembali terlelap. Aku mahfum karena kami take off dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 00.25. Baru sedikit lewat tengah malam. Bukan kebiasaannya mungkin begadang. Mataku begitu lebar terbuka di tempat ini. Tapi, itu bukan berarti aku tidak lelah. Aku lelah, tapi rasa penasaran juga semangat menyambangi tempat baru buatku punya tenaga lebih, terlalu bersemangat bahkan.
Hari kemarin aku masih di kota kelahiranku dan beranjak ke Ibukota untuk urus dokumen terakhir di sebuah kementerian. Selarik surat yang buatku legal pergi menuju benua baru. Beberapa paragraf yang menyatakan akulah seorang pantas penerima bea dari negara.
Aku kembali pandangi langit di kejauhan. Jamku menunjukkan pukul 08.13 namun ufuk langit masih terlihat biru. Matahari belum juga muncul dari peraduan, lama sekali proses terbitnya. Mungkin karena penerbangan ini menuju barat, sehingga terbit matahari terkesan lama. Proses matahari terbit kala itu memiliki durasi terlama terjadi dalam hidupku, dan paling berkesan.
Aku sekali lagi tenggelam pada sejuta pikiran dan angan. Bayangan hidup di tempat baru. Lintasan wajah mereka yang baru saja kutinggalkan dan telah kurindu. Serta misteri apa saja yang mungkin terjadi selama aku menempuh hidup di negara itu.
Matahari belum juga muncul. Ujung langit merekah jingga. Sangat indah.
Aku masih terus tersenyum ketika kurasa perlahan ketinggian kami berkurang. Halus sekali. Mataku masih lekat di jendela, kami menuruni awan, tak lama terlihat lampu kota. Kusenggol sekali lagi perempuan di sebelahku.
'Mbak, wis tekan (Mbak, sudah sampai).', Ujarku.
--
Doha, 09.10
Saturday, December 14, 2019
Sunday, December 8, 2019
Mengenai rela, buka hati, dan rindu.
Monday, December 2, 2019
dimana aku bisa menumpah rasa, menggambar rindu,
dan menuangkan apa yang tak tersampaikan pada makhluk.
Aku tak lagi suka dengan hujan dan basa,
karena ia mampu memulangkan yang lalu.
baunya buat tenang dan hanyut dalam pikiran tak perlu.
Kini aku mendewasa, tak melulu hanyut mimpi biru,
Realita?
Itu yang kujalani dan kucintai kini;
Tak terulang, kala hembusan angin begitu kuat, berjalan menantang bahaya, tertidur dengan tak khawatir akan misteri esok.
--
Bukan, ini bukan tentang aku juga kamu (Ciptaan Cipta)
Monday, September 23, 2019
Pertemuanku pertama dengan Bara terjadi beberapa bulan lalu. Kala itu aku sedang lari dari rutinitas pekerjaanku yang melelahkan di Jakarta. Aku bekerja di salah satu bank terkemuka. Aktivitas harian yang menjemukan serta tekanan dari atasan buatku muak, setelah hubungi beberapa teman kuliah, kami sepakat untuk ambil cuti beberapa hari dan liburan ke pulau di bagian timur Pulau Jawa.
Liburanku disana tak jauh dari alkohol dan aktivitas malam bersama teman. Hingga di pagi terakhir aku pulang dari klub dan mendapati diri jenuh serta tak bisa tidur sekalipun kepala ini berat. Aku putuskan untuk berjalan ke pantai yang tak jauh dari penginapan. Kuharap aku bisa mendapatkan damai dari melihat gulungan ombak yang berkejaran tak berhenti ke tepi pantai. Aku berjalan melewati beberapa kios-kios bermacam pedagang, mulai dari oleh-oleh hingga minuman khas pulau dewata. Aku hanya tersenyum melihat aktivitas pagi yang terlihat bersemangat menyongsong hari. Aku terus berjalan melewati jalan yang begitu hangat hingga sampai ke pantai yang terkenal akan matahari terbenamnya.
Aku memilih untuk duduk di salah satu tempat duduk yang menghadap laut. Alam selalu begitu terasa menenangkan seolah tak peduli seberapa banyak manusia terus merusak. Terbenam dalam pikiranku sendiri aku terus merasakan angin menyentuh lembut pipi. Aku merasa alam seolah menyindirku yang merundungi diri terus bekerja demi uang yang ntah untuk apa. Begitu mengalir menenangkan.
"Hai..", Suara yang begitu ramah bagai rumah buyarkan lamunanku..
Friday, August 30, 2019
Jalang
Monday, August 26, 2019
Bagaimana tidak, aku hidup sendiri di apartemen ini. Apartemen yang tersewa karena aku ingin menghargai diri dan merasa nyaman ketika pulang dari kantor. Biasanya ketika penat aku hanya bisa buka jendela, menuju balkon, lalu menikmati sekaleng bir ditemani rokok dan pikiran penuh. Aku tak terbiasa bercerita, mungkin karena
Saturday, July 20, 2019
- Kantor -
Friday, July 19, 2019
Wednesday, July 17, 2019
- Bandara -
Dari kejauhan aku bisa melihat bangunan besar dengan menara khas sebuah lapangan terbang. Ya, Aku akhirnya sampai di tempat yang bahkan belum pernah kukunjungi ini. Bandar udara yang ternyata besar. Besar yang tak mungkin dikomparasi dengan beberapa bandara yang pernah kulihat di tanah air. Apalagi satu yang ada di kampungku.. Ah aku tiba-tiba rindu suasana kampung halaman.
Buspun sampai di halte, pintu terbuka, aku dan beberapa orang turun. Kutebak sebagian besar dari mereka akan melakukan perjalanan ke luar kota. Terlihat dari bawaan yang lumayan banyak dan cara buru-buru khas orang berangkat ke suatu tempat. Sepertinya malah hanya aku yang melakukan penjemputan, karena aku hanya menggunakan jaket tebal, jeans, dan boots favorit.
Hawa panas dari chaufage atau pemanas ruangan dari dalam bus lenyap berganti dingin suhu alam ketika aku turun. Bergegas aku memasuki bangunan dengan kaca besar mempertontonkan beberapa badan pesawat digantung di langit-langit ruangan. Iya, aku terpukau dengan cara orang-orang disini membangun sesuatu, semuanya sudah diperhitungkan tanpa melupakan sisi seni.
Semakin aku memerhatikan bagaimana tempat ini dibuat aku semakin kagum, ada beberapa bagian pesawat diatur di sisi-sisi bangunan hingga miniatur kapal selam lengkap dengan penjelasannya. Kotaku memang terkenal sebagai salah satu pangkalan militer laut terlengkap di dunia. Tak heran bila aku melihat beberapa kapal perang dan kapal selam melewati laut di depan kantor.
Kulirik jam di tangan kiriku, masih ada sekitar setengah jam lagi kamu sampai. Kubuka kembali ponsel untuk lihat pesan terakhir darimu sekitar setengah jam lalu, "Boarding already. i'll see you very soon!".
Aku terpikir untuk membalas, tapi sepertinya percuma. Toh kamu pasti sudah dalam airplane mode. Jadilah kuurungkan niat. Kucukupkan dengan menunggu saja di salah satu gate kedatangan domestik.
Ya, aku akhirnya akan bertemu dengan kamu, seorang asing yang akhir-akhir ini sering cerita banyak. Dari pengalaman jalan-jalanmu ke Spanyol, hingga sulitnya belajar di negaramu. Bermula dari ajakan tak serius untuk berkunjung ke kotaku di ujung barat Prancis yang kamu iyakan beberapa minggu lalu hingga beberapa waktu lagi aku akan menemuimu di tempat ini..
--
Monday, July 8, 2019
Chapter I - Barat Prancis
Kulihat jam di pinggir tempat tidur. 'Sial! Telat!', aku memaki diri.
Kuambil ponsel, segera kukirim sebaris imessage pada kontak yang akhir-akhir ini selalu berada di tempat teratas.
'Boarding already?', singkat lalu kukirim. Kutunggu sebentar tapi hanya checklist satu. Pertanda pesanku tak sampai. Ada dua kemungkinan, ponselnya mati atau sudah berada dalam pesawat menuju tempatku.
Bangun dari tempat tidur, segera aku bersiap. Hari ini kotaku begitu dingin. Cerah, tapi dingin. Sudah mulai masuk musim semi tapi tetap saja aku harus pakai baju tebal dan jaket musim dingin demi menghangatkan badanku yang terbiasa dengan iklim tropis.
Sungguh aku malas untuk keluar di hari libur karena kuliah sembari bekerja yang kulakukan saat ini. Namun, aku terlanjur janjikan untuk jemput orang asing hari ini di bandara. Biasanya kuhabiskan waktu di akhir pekan untuk bermalas atau (bila terpaksa) ke kantor untuk selesaikan pekerjaan yang masih dan akan selalu menumpuk itu.
Perjalanan dari apartemenku ke bandara tak terlalu jauh sebetulnya. Tapi aku harus menggunakan bus dan berpindah satu koridor.
Masalahnya ini akhir pekan, dimana frekuensi bus akan berkurang. Ditambah jadwal bus menuju bandara tidak tersedia hingga larut malam. Pada hari kerja, kendaraan umum akan ada hingga tengah malam, namun di akhir pekan hanya beroperasi hingga pukul sembilan malam saja. Terlebih untuk ke bandara, hanya tersedia sampai pukul 5 petang. Aneh kan?
Baiklah, aku keluar dulu. Bukan waktunya untuk mengeluh terus.
Sebelum keluar aku melirik sedikit jadwal bus yang kuletak di lemari baju. Memastikan aku tak ketinggalan dan harus keluar lebih mahal untuk sekedar jemput teman yang belum kukenal.
Baiklah, sudah sedikit mepet, kusiapkan badan untuk berlari sedikit kejar agar tak tertinggal. Kutarik nafas sedikit dalam, kubuka pintu apartemen, dan serta merta dingin menyeruak.
Aku berangkat.
--
Thursday, June 27, 2019
Prolog - Rumah (?)
Masih terpikirkan setumpuk pekerjaan di kantor yang sudah harus selesai esok pagi. Ntah, rasanya tak pernah habis sekalipun sudah kulembur berbulan ini.
'Ini rasanya menjadi pekerja.', Pikirku
Ternyata menjadi pegawai dengan gaji melangit tak selalu menjamin bahagia. Berbeda dengan khayal anak muda yang ingin punya gaji tinggi dan bisa punya segala. Percayalah, punya nyaman juga orang yang bisa menerima seperti apapun kita akan jauh lebih terasa berharga.
Kulihat dari balkon apartemenku lampu kota yang perlahan meredup. Sebentar lagi pagi. Aku menuju tempat tidur, untuk sekedar istirahatkan mata barang beberapa jam saja.
Hari ini berat sekali.
--
Tuesday, June 25, 2019
Monday, June 24, 2019
Epilog - Stasiun Kotamu
Suara kereta terus mengadu. Pengumuman mengenai keberangkatan dan kedatangan tak berhenti keluar masuk di telingaku. Banyak raut muka melintas, kuperhatikan satu persatu. Senyum, sedih, cemas, buru-buru, tersatu dalam hiruk pikuk deru mesin kereta bagai berseteru. Hari ini aku menempuh perjalanan jauh lintas negara, untuk membalas kunjungan tak terdugamu.
Sementara ini, aku menunggu seseorang yang bahkan belum pernah kutemui, seorang temanmu..
Beberapa baris teks disertai permintaan maaf sudah ia berikan sejak beberapa jam lalu. Tak bisa tepat waktu karena ada urusan lain, katanya.
Ini kali pertama aku mendatangi kota asing ini. Bila bukan karena ini hari spesialmu, aku mungkin tak akan pernah rasakan hirup udara dingin ini. Jauh lebih dingin dibanding kotaku yang belum pernah terturun salju. Padahal ini sudah menjelang musim panas.
Ada satu pemandangan menarik, kala seorang lelaki muda menundukkan kepala sembari menggenggam erat rangkaian bunga mawar yang ia bawa. Kutebak ia sedang kecewa karena tidak jadi makan malam bersama siapapun yang ia rencanakan akan beri kembang itu. Mungkin, seperti itulah aku bila ternyata kamu menolak kedatanganku.
Kurasakan ada getaran halus di saku, Kuambil lalu kulihat kembali layar ponselku. Satu pesan masuk, 'Sorry, the exam just finished. Already on the train to pick you up. ;).'
Kujawab singkat, 'No worries.. Still at the same place. Lol.'
Sedikit melegakan, karena 3 jam sudah aku menunggu. Kusempatkan untuk berkeliling di kota asing ini. Selain dingin, kesan yang kutangkap dari kota ini adalah rapi dan asri. Semua orang berjalan di tengah kota asing dengan bahasa aneh yang tak kumengerti. Untunglah aku bawa kamera favoritku sembari rekam segala hal baru disini. Bahkan aku sempat ambil gambar bus yang dibungkus plastik. Aneh? Iya..
Aku masih melihat-lihat hasil foto yang kuambil siang ini ketika ada tepukan di bahu dan suara asing, 'C'mon, or you will miss the surprise party!'
Belum sempat aku menjawab, dia menarik tanganku.
Haha, ntah cerita apa lagi kali ini. Di kota asing yang akhirnya menjadi tempat favoritku yang lain di Eropa. Aku disini, di kotamu..
--
Ini hari ulang tahunmu!
Tuesday, April 2, 2019
Saturday, March 30, 2019
Chapter IV - Kembali ke Kotaku
Sunday, February 24, 2019
Jakarta
Jakarta hanya akan jadi Jakarta, hiruk pikuknya begitu terasa menyebalkan tapi juga kurindukan. Kota yang jarang kuceritakan namun aku begitu ingin kembali padanya. Sekalipun selalu kusebutkan aku jengah bersama penuh polusinyanya, namun sesekali aku ingin kembali pulang, mengulang tanpa rasa bosan.
Jakarta akan terus jadi Jakarta, akan terus terdiam hari tanpa tertidur sedetikpun melihat sesaknya. Jakarta juga yang jadi saksi rindu dimana kita tak pernah bertemu sekalipun berdekatan. Mungkin tak sekarang, tapi di lain kesempatan. Mungkin nanti ketika kita bisa dengan leluasa bercanda tawa cerita masa muda yang penuh kebodohan. Mungkin juga, di kota lainnya.
Ya, bila waktu itu kita tak harus kembali melalui Jakarta, kita bisa saja masih bersama.
--
Tuesday, February 12, 2019
Kita memutuskan untuk saling berkenalan lagi. Anggap ini adalah pertemuan pertama dimana kita hapus semua apa yang terjadi lalu. Selamat datang kembali. :)
Ps. Membiarkan kupu-kupu beterbangan di perutku, aku main api..
Thursday, February 7, 2019
Bicaraku di sudut langit
Mungkin kamu masih tenggelam dalam duniamu, terlihat asik mencari ntah apa yang kutak mengerti. Aku disini hanya mematung sembari memandangi gambar bergerak dimana ada aku kamu, membayangkan sembari mengagumi lekuk juga indah dirimu.
Aku tahu kamu sedang lelah hadapi dunia
Namun seringkali dunia tidak berjalan sesuai dengan rencana memang. Bahkan, ada sesuatu yang buatku harus terus menahan dan bersabar, bukan jadi aku yang dulu.
Sementara kamu rindukan masa begadang hingga pagi karena pekerjaan, aku merindukan rasanya bisa pulang dalam dekapan, diperhatikan dan diberi waktu. Kita memang lucu.
Kita berbeda, karena aku kamu tumbuh dalam ekosistem dan suasana yang berbeda pula.
Kita betul-betul sadar kita tak saling kenal, karena ketidaksengajaan yang disengaja sajalah yang buatku denganmu kini.
Tapi menyenangkan bukan?
Aku bukanlah aku yang biasa diam menunggu, tapi entahlah, kali ini aku hanya ingin tahu dimana batas kesabaranku terhadapmu. Batas yang sudah kubulatkan akan selalu kutambah kapasitasnya. Mengapa? Sudah jelas agar kamu merasa nyaman dengan aku.
Rindu ini membuncah sekalipun mungkin tak sampai padamu. Dada ini sesak karena penuh akan asa rasa yang mungkin tak terasa olehmu.
Di sudut langit malam ini, kutitip rindu untuk kau ambil esok pagi.
Selamat beristirahat dengan sisa kecup yang tak kau sadari kuberi, saat engkau pergi terlelap tadi.
Selamat malam menjelang pagi, Matahari.
--
J
Tuesday, February 5, 2019
Teruntuk kamu yang pergi terlebih dahulu.
Sunday, February 3, 2019
2 Februari 2019
Aku menulis ini harusnya tanggal 1 yang baru terpikirkan tanggal 2 namun baru kutulis di penghujung tanggal 3 bulan dua tahun dua ribu sembilan belas.
Februari selalu membawa bahagia. Terima kasih masih sudi bertemu lagi tahun ini.
Mendua, mendewasa..
Bersama (?)
Biar Tuhan yang memberi jalan. Karena manusia terlalu pendek akal yg dipunya.
Terima kasih. :)

