Wednesday, May 31, 2017

"Aku telat..."

ada berapa tangan hayooo?
img src: google.co.id

Pernah kepikiran ga kalau cewe yang pernah deket sama lo, tiba-tiba dateng ke hidup lo yang tenang, cerita dia udah telat haid alias hamil, dan dia minta tolong sama lo buat bantuin dia?
Well, ini aga berat sih buat gue share disini. Apalagi mengingat kapasitas otak gue yang standar aja dan maunya happy-happy. But honestly, hal ini beneran jadi pikiran gue beberapa hari belakang. Soalnya kita ga tau kan, kapan suatu hal bisa terjadi. Ya kaya yang barusan gue omongin, misalnya ada (katakanlah) mantan pacar yang curhat kalau dia hamil dan butuh ayah buat anaknya, anggep aja si bapak biologisnya kabur (atau mati sekalian deh biar lebih afdol).

Apa yang bakal lo lakuin? Misalnya itu beneran terjadi di hidup lo?

Okay, ini tiba-tiba jadi topik yang hangat dibicarakan antara otak dan hati gue. Bahkan gue sampe sharing sama beberapa orang mengenai masalah ini. ke babas, mahasiswa gue, dita, orang sekelliling gue, sampe orang yang baru ketemu. haha. Pekok sih, tapi yaudahlah. because i need second, third, even fourth opinion. Casenya adalah, 'Kalau ada mantan yang pernah nyakitin, tiba-tiba balik karena hamil, apa yang bakal lo lakuin?". Berdasarkan hasil diskusinya, gue simpulin beberapa solusi general sebagai berikut:

1. Ya bantuin aja kalaupun dia pernah nyakitin dan masih sayang, kalau bisa nolong dan masih sayang kenapa engga?
2. Tinggalin, buat apa toh dia pernah nyakitin, dan lo ga ada kewajiban buat tanggung jawab
3. Coba cari solusi lain deh, gamungkin ga ada solusi lain kan?

Monday, May 29, 2017

Bila ikhlas jauh lebih melegakan dibanding dendam, buat apa aku lakukan hal yang justru bikin beban.
Sudah kuhapus yang mungkin memicu pertengkaran kalian.
Sudah kuhilangkan yang mungkin menyebabkan kalian saling tidak percaya.
Cukuplah aku ikhlas dan doakan kamu terus bersamanya.
Aku senang, kamu bahagia disana.
Dijaga, ya.
:)

--
Salam

'Aku sudah tahu semua, dan aku ikhlas. Aku maafkan apa yang kamu lakukan. Aku gamau hidupku dirundung dendam yang akhirnya merusak sekelilingku'

--
Seharusnya kamu iyakan saja pesanku waktu itu. :)

Friday, May 26, 2017

Simpanan

Menjadi tersembunyi kala dirimu dengan yang lain terpajang.
Si misteri yang mungkin tak pantas untuk dibangga.
Tanpa ucap sayang, tanpa rasa punya.
Aku ada diantara keduanya.
Mencintai tanpa memiliki.
Layaklah untukku.
Karena waktu yang tak cukup buatmu.
Atau aku mmg bukan untuk disanjung.
Karena tak ada yang kupunya dan dijunjung.
Mungkin karenaku sesumbar.
Penasaran apa rasa simpanan.
Kadang yang direncanakan manusia dan persepsi yang orang lain terima bakal beda.

Udah ah, Cip. Jangan kebanyakan bicara. Kebanyakan bicara justru bikin masalah. Kaya pagi ini..

--

Adzan

Pagi ini gue bangun dengan hati yang lebih tenang. Gue bahagia karena gue yakin semua udah ada jalannya, semua itu yang terbaik. Cuma kita aja yang belum tahu apa yang Dia rencanakan, kita sebagai manusia jauh lebih banyak menggerutu dan mau instan aja. Padahal yang instan itu cuma mie, itu juga ga sehat buat badan. hmm.

Pagi ini rasanya dengerin kumandang adzan di deket rumah rasanya indah banget. Gue bersyukur masih bisa diberi udara untuk bernafas, waktu untuk dijalani, serta seorang ibu yang begitu sayang sama gue. Banyak aja orang yang udah kesulitan nafas, orang yang gapunya waktu untuk dijalani detik ini. Kalau kita terus menerus sedih, terus nanti nikmatnya diambil gimana?

Oiya, gue jadi keingetan pertama kali gue ngadzanin seorang anak. Ga lain anak gue sendiri, Ibrahim Kamadiya Harjono. Gue tau sih gue adzannya ga semerdu yang di tipi tipi, tapi gue rasa bahagia banget bisa jadi yang pertama berbisik mengenai Tuhannya ketika pertama dia lahir di dunia. Rasanya itu ga kebayar, ngeliat muka seorang bayi yang baru lahir dengan mata yang masih merem, belum bisa lihat indah dan jahatnya dunia ini. Semoga jadi imam yang baik serta jadi anak yang berbakti sama orangtua ya sayang. Duh, jadi kangen nggendong. Abis selesai nulis, gue mau kecup pipinya doi dulu ah.

Ganteng kaya Daddynya kan? :3

Hmm,, Lo boleh pengen banget berbagi bahagia juga sedih sama orang yang lo sayang. Tapi, apa lo yakin mereka juga pengen ngerasain hal yang sama kaya lo? Well, ada orang yang bisa sayang lo balik, tapi ada juga yang cuma sekedar lewat di hidup lo. Inget, semua yang berlalu lalang dalam hidup kita ini pada dasarnya untuk memberi pelajaran. Entah itu memberi pelajaran dan terus bersama kita, atau memberi pelajaran lalu pergi.

Oke ini pikiran random gue sebelum berangkat jogging. Gue mau nemuin anak dulu bentar terus berangkat jogging ya.. Have a good day, peeps!

--
Ps. Siapapun yang bertahan dalam hidup lo, itu udah ditulis di lauhul mahfudz sedari dulu, jadi jangan terlalu gundah sama mereka yang memilih pergi, doakan saja mereka semoga selalu dalam perlindungan dan keberkahanNya. Toh, tugas manusia adalah meneruskan kasihNya kan? Bukan untuk saling membenci.
Pps. Abis tutup bulan, gue mau beli sepatu jogging baru!

Tuesday, May 23, 2017

Melamar

Siratan Surat, anggap saja begitu.
Sudah siap?

Kepadamu yang kudoakan di setiap subuhku,
Sosok lembut yang terlihat seperti ibuku,
Terima kasih telah bersabar selama ini menghadapiku, kekeraskepalaanku.
Padahal aku tahu, kamu tidak sesabar itu.
Tapi hatimu begitu luas, begitu pemaaf, bagaimana mungkin aku tidak nyaman berlama lama bersamamu?

Kepadamu yang menjadi penyemangatku dalam mencari penghidupan.
Terima kasih telah jadi pendorongku untuk jadi laki-laki mapan.
Menjadi aku yang tak kenal lelah dan menjadi pekerja keras untuk mencari nafkah.
Jangan bosan memberi peluk tiapku pulang dari kejar dunia.
Jangan jengah menanyakan hariku, walaupun tak selalu kusambut dengan hangat karena beban pekerjaan.
Terima kasih telah menjadi alasanku untuk bergiat dan bertanggung jawab akan masa depan.

Jodoh?

Pada akhirnya mungkin semua akan jatuh bukan pada ia yang berparas rupawan, berstatus tinggi, fisik proporsional, penghasilan pasti, dan punya segala.
Akhirnya ia akan kalah pada orang yang kamu anggap setia, pada dia yang mungkin bersedia menjalani sulitnya hidup bersama.
Jatuh pada dia yang bisa menerima dan ikhlas memilikimu walau tak punya apa-apa..

Mungkin ia bosan karena paras pada akhirnya akan mengeriput termakan usia.
Harta yang dikejar tak lagi banyak bawa bahagia.
Status tinggi yang jadi konsumsi tetangga.
Lalu dimana bahagianya?
Bila nyatanya kita berusaha untuk mereka yang bukan kita?
Cukuplah aku dengan yang bisa menerima susahku, dan akan kutanggungjawabi hingga kita tak di dunia.
 
Skeptis aku melihat cinta.
Beralasankan rasa, lalu membuang logika.
Padahal yang dipertaruhkan adalah waktu, harta yang paling berharga, karena sebentar lagipun kita akan menua.
Entah dengan diri masing-masing atau bersama.

Jangan buang waktu bila tidak ingin bersama.
Jangan denganku bila masih ingin mendua.

tiktok

Mereka katakan padaku bahwa jodoh adalah hal yang paling dibenci, maka ia akan makin mendekat.
Bila benar, bagaimana mungkin kamu jodohku, sosok yang tak ada kurangnya.
Karena semua jadi benar kala kita berdua.

Maka katakanlah padaku dengan jujur dan apa adanya..
Kamukah, yang selama ini hadir diam-diam bawa cinta?

--
Tahun depan, ya. Bila belum siap, mungkin di lain dunia kita bersama. :)

Profil fotomu

Aku pulang.
Kali ini dengan bahagia.
Kali ini dengan senyum sekalipun luka.

Akhirnya kita bisa bertatap muka.
Pun ternyata kau sudah bersamanya.
Tapi itu jadi jawaban atas apa yang aku tanya.
Tak lagi jadi ganjal rasa.
Mungkin aku kalah, tapi aku tak rasa bersalah.
Mungkin aku bimbang, tapi tak rasa ada yang hilang..

Selamat berbahagia, semoga tak ada lagi kata beda.
Meski harus kandas, tapi akan ada ikhlas.
Kisah ini memang berakhir, tapi jangan akhiri kata kita.
Simpan dalam kotak memori dan mimpi.
Untuk kita nikmati nanti.
Walau tak bersama lagi.

Terima kasih, rindu.
Salam untuk dia yang kau pajang berdua di profil fotomu.
--
Pun selama ini fotoku tal pernah ada disitu. Aku lega, karena itu tanda kau lebih bahagia dengan dia.

Monday, May 22, 2017

Curiga

Kegilaanku adalah memintamu menjadi teman hidup, padahal aku tak punya apapun. Namun aku sanggup.
Tanpa berlian melingkar memata, tanpa cincin untuk menyemat jemari, bahkan tak bersandang apa juga.
Aku tak berlogika kala minta itu.
Padahal aku bersaing dengan yang punya segala.
Dan pasti akan lebih kau bangga.

Hingga bertumpah air mata.
Kau berkata banyak dan bilang segala macam.
aku diam.
Aku senyap seribu bahasa.
Percaya.
Sudah itu saja.
Lalu bungkam.

Tapi mengapa ada yang janggal?
Ada sesuatu yang kurang.
Tak genap aku rasa..
Kalaku mulai waras tanpa rasa, hanya berlogika.

Mungkinkah itu ketidakjujuranmu?
Atau kekalutan pikiran karena akhirnya tak lagi satu?

Aku butuh penjelasan.
Sekalipun kau tutup dengan aspal, kan kutelan begitu saja.

Karena mulut bisa mendusta, lidah bisa rangkai kata, namun hati selalu suci tak akan ternoda..
Sampai kita bertemu lagi, di suatu kota.

--

Jadi sahabat

Kamu tahu hal ajaib yang bisa terjadi dari sebuah pertemuan?
Dari dendam bisa menjadi maaf.
Dari musuh akan timbul sahabat.

Aku mencintaimu bukan karena fisik, tapi sifat.
Pencemburu, penyayang, dan kuat.
Jangan dinoda dengan penyakit di hati.
Karena maaf adalah obat dari rasa negatif.

Teruslas berbagi kasih karena itu kodrarmu, Kasih.
Aku tak akan benci.
Justru menyayangimu.
Karena kamu begitu kuat, begitu rapuh.
Teruslah menjadi yang seperti itu.
Karena sejatinya hidup itu bukan untuk membenci.

Kita berpisah bukan untuk jadi musuh.
Tapi jadi sahabat dan tetap bisa saling menyayangi.
Oiya, bantu aku cari istri untuk tahun depan, ya?

--
Dari aku yang memilih untuk jadi sahabatmu.

Topeng

Aku merasa lucu dengan mereka yang berbohong demi meraih sesuatu.
Karena tak jujur.
Karena bertopeng palsu.

Apa sulitnya jujur dan ikuti hati lalu cari solusi?
Bukankah itu lebih mudah?
Mungkin tak semudah palsu, tapi setidaknya hati ini tenang karena tak ada titik hitam.

Aku merasa lucu karena mereka memilih untuk tak jujur dengan hidup.
Mereka memaksa untuk terlihat bahagia padahal hati pilu.
Padahal senyap lesu..

Lucu, atau kasihan.
Aku tak tahu.

--

Sunday, May 21, 2017

Malpraktik

72..
Aku lewati satu persatu.
Sendiri.
Ah mungkin tidak, pun aku punya bayang juga suara di kepalaku.
Semalam aku berhalusinasi, setengah bermimpi, kamu datang.
Padahal kamu sudah mati.

Kematianmu bulan lalu masih belum kuterima saat ini.
Terlalu lama detik hidup kita nikmati, getir kita hadapi dengan tawa.
Susun mimpi.
Namun kau mati, mal praktik, mungkin.

Kematianmu, bukan hal yang mudah kuterima.
Tak sesederhana memilih baju untuk lebaran nanti.
Serumit teka-teki.

Teka-teki yang menjadi tanya.
Tanya jadi mimpi.
Kuingin kau hidup kembali.
Tapi tak mungkin.
Karena kamu telah mati.

Berhalusinasi, pasti.
Karena pelukmu tak sehangat dulu.
Kaku, dingin.
Mati..

--

Saturday, May 20, 2017

Menunggu lalu

Pada akhirnya aku akan kembali padamu, ntah dengar cara apapun itu.
Menulis tentangmu sudah jadi kebiasaanku bahkan sebelum kita sedekat ini.
Hanya aku terlalu takut kamu pergi.
Karenanya kusimpan sendiri.
Berkalang palsu bahwa aku baik diri.
Seperti Saat ini..

Bersamamu, aku tak hirau terhempas dunia.
Termusuhi seluruh teman.
Karena aku milikimu.
Karena denganmu aku kuat.

Aku penghalang mimpi.
Yang buat kabur pandang fokusmu.
Aku terlalu takut kamu pergi.

Malampun berganti.
Sore ini bisu, mungkin ia perhatikanku aku terengah mencari.
Senja ini saksi, ia kelabu mungkin kasihani aku.

Kamu tau bagian favoritku ketika di negeri asing?
Tak satupun orang tanya apa rasa aku.
Dan aku bahagia.
Setidaknya kita ada di satu kota yang sama.
Sekalipun tak tatap muka.

Sampaikan salamku pada  letihmu.
Nanti akan terbayar.
Pasti.
Karena tak hanya aku yang menyayangimu..

Aku masih terpaku padamu..

--
Bioskop tua, tempat kita pertama bersama

Wednesday, May 17, 2017

Logika buang

Lalu kemana aku harus mencarimu, bila tiap kutemui kau sembunyi.
Kulihat sebentar dari jauh, kau sadar, lalu masuk bumi.

Padahal lihat senyummu sebentar saja aku bahagia. Apalagi bisa bertukar pikir seperti dulu.
Masih ingat kopi yang pernah kau bikin buatku?
Itu kopi rasa cinta.
Gombal kan? Hehe.

Beberapa kawan bilang, 'Bila hilang baru berharga.'
Mereka tak tahu saja apa yang aku lakukan demimu. Selama ini.
Memang aku saja sungkan untuk cerita sama dunia. Aku lebih suka bahagianya cuma untuk kita.
Ditambah, kamu memang enggan dipublikasikan.

Meranaku tanpamu.
Tapi kutahu kamu baik selalu.
Tak perlu masuk akal, karena aku logika kau rasa.

Mengenalmu adalah kewarasanku paling sadar dengan logika yang kutinggalkan.

Dengan kangen yang kutahan,
Tertanda
Aku.

Monday, May 15, 2017

Senista itukah? Hingga aku dikunci dan tak boleh lihatmu lagi?
Bahkan bukan hanya aku. Sebegitu dibencikah?

Bila masalah ada di aku, perlukah kau kupinjamkan belati untuk menghujam?
Atau kau lebih suka gunakan pisau bedah agar bisa menikmati menyiksa pelan-pelan?

Padahal dengan diam itu cukup sudah.
Masih kau tambah menjauh beri jarak.
Tak hanya aku, tapi keluarga.
Padahal aku yang bermasalah.

Cukuplah buat aku rasa bersalah, cukuplah aku yang kau aniaya.
Mungkin cahayaku terlalu redup, terlalu takut untuk berhadap dengan sang surya.

Tanpa antiklimaks kau diam dan senyap.
--

Saturday, May 13, 2017

Gambir

Duduk disini, mungkin lebih dari 12 jam yang lalu, masih.
Ntah sudah berapa pasang mata yang melihat, mulut yang menanyakan arahku kemana.
Aku hanya jawab dengan senyum dan kata, 'aku sedang menunggu..'
'Siapa?', telisik mereka.
'Dia, yang mungkin tak tahu aku disini.'

Merekapun tertawa.

Ternyata ini rasanya menunggu.
Dingin, tak dipedulikan.
Bahkan lambung meronta tak terasa, aku baru makan kemarin.

Ditemani botol air mineral kosong dan tas berisi sepotong baju.
Juga kecamuk yang tak henti melanda.
Antara menghubungimu dan kabari aku disini.
Atau nikmati perasaan menanti yang pasti tak pasti.

Bungkam

Ternyata aku sepengecut itu..
Bahkan untuk ucap sepatah katapun aku tak berani..
Padahal sudah kau angkat di ujung sana dan berucap, 'halo'..

Lidahku mati rasa.
Refleksku hanya memutuskannya.
Aku tak mampu berpikir lagi, seperti tak punya otak.

Padahal itu suara yang aku nanti.
Padahal itu teduh yang aku cari.

Tapi nyatanya aku tak mampu sampaikan apapun....
Aku hanya pengecut.
Tak pantas.

Thursday, May 11, 2017

Pinastika

Sebut aku munafik, mengharap namun tak mungkin memiliki.
Tak seharusnya lelaki berair mata, bila terjadi, tak pantaslah ia untuk jadi tempat bersandar wanitanya.
Tapi ternyata separah ini..
Sial..

Aku bukan lelaki yang mudah percaya dengan ajakan manis ini itu, apalagi yakin dengan sosok wanita..
Bagiku hubungan yang dilabeli 'serius' hanya akan merusak fokus bangun masa depan.
Mengubah perspektif dan buat waktu terbuang untuk satu sosok yang belum jelas akan jadi apa.
Aku lebih disuka disebut penyendiri dan cerita semua masalah pada tembok putih diam.
Toh, orang tak akan perduli soal aku hari ini makan atau tidak, bahagia atau tidak, lebih baik aku bungkam.

Namun nyatanya..
Pertahanan yang aku bangun sedari lama agar tak jatuh hati termasuk denganmu akhirnya runtuh untuk kau susupi.
Kau usap perlahan hati, kau masuki, dan kau penuhi dengan cerita, angan, dan mimpi.
Hingga aku tak awas dengan kemungkinan akan dirimu pergi.
Dan akupun jatuh terlalu dalam, percaya akan pondasi yang kita bangun kini.

Jadikanmu bagian dari dunia penyendiriku, bahkan kutitipkan harapan padamu.
Jadikanmu semangat untuk membangun waktu yang lebih baik nanti, tak susah seperti sekarang ini.

Tapi,
Aku terlalu lama berhangat dengan angan, lupa ada dingin yang siap menusuk harapan.
Aku terlalu larut bahwa mimpi kita sama, yang tetiba saja kau datang bawa realita soal beda.

Pesanmu yang terakhir, 'aku bahagia, dulu..'
Berbahagialah, selalu..

foto yang tak kubagi, karena dokumen pribadi.
img src: dokumen


--
'if it's love, it doesn't hurt, right?'

Wednesday, May 10, 2017

Hijrah

Tak lagi aku mengenalmu.

Asing.
Seperti orang baru.
Kaku.

Hijrah, katamu..

--
Ps. Tongsengnya lama

Monday, May 8, 2017

mercusuar mimpi

Ternyata cita-cita masih memercusuar tinggi.
Untuk buat bangga orangtua yang mengasihi .
Untuk buat mereka tak lapar berhari-hari.

Bukan hanya memikirkan perut sendiri, itu yang semalam kita pelajari.
Bukan hanya mengedepankan ego, harusnya kita saling peduli dan semangati.
Bukan hanya mencari pemuas nafsu, tapi lebih dari mimpi..
Agar dapat berbagi.

Munafik bila aku tak ingin segera bersama pendamping, pembuat tenang hati.
Yang membuka lebar tangan ketika aku pulang sehabis pergi,
Untuk dipeluk dan disenyumi.
Mungkin diri harus bersabar lebih dari ini.

Belajar mengikhlaskan, walau setengah jiwa merana rintih

Karena ternyata mimpi ada, masih.
Untuk melihat dunia lebih dari ini.
Untuk lebih banyak manfaat kuberi.

Untuk merasa jatuh cinta
lagi..

Cabo Da Roca - Cascais

--
The Rain - Hingga Detik Ini :")

Saturday, May 6, 2017

Iri sendiri

Aku malas melihat media sosial yang penuh bahagia. Mungkin aku iri mereka bebas mencari sedang aku sendiri..
Mungkin karena ada iri dalam sendiri. Baiknya lihat lebih dalam lagi.
Tak terkekang masalah, berbahagia dalam mencari, ketika bertemu tak takut ditinggalkan karena lihat isi asli.

Atau aku yang tidak bersyukur?

Aku dengar malam ini ada suara dengkur setengah tersengal.. ketika kuhampiri hatiku nelangsa melihat nyata. Sesuatu yang aku miliki sekitar 6 tahun lalu kini tak mungkin kembali. Bahkan, aku tak tahu bagaimana hadapi ketika salah satu pergi.

Sederhananya, aku inginkan damai. Tak ragu memilih.

Tapi nyata berkata lain. Inilah hidupku.
Yang perlu orang tahu aku baik dan bermutu.

Selamat malam, Rindu.
Suatu saat aku ingin bersandar dan mengeluh di pundakmu..

--

Friday, May 5, 2017

Kutu Buku

Memandang wajah lesu para penimba ilmu.
Mungkin jenuh dengan aktivitas membaca buku.
Lebih ingin bermain ketimbang membangun pondasi masa yang nanti berlalu.

Ujian tengah yang mungkin terlalu baku.
Sibuk dengan permainan ini itu.
Yang lebih menyenangkan dibanding mendengar ceramah tak mutu.
Mungkin belum tersandung butuh untuk isi perut anak istrimu.

Agen perubah zaman menjadi maju.
Pengisi kemerdekaan dengan pikiran yang lebih baru.
Bukan apatis namun pemrotes birokrasi yang tak pandang bulu.
Apa kita harus malu?

Mungkin kita harus malu pada Tuanku.
Pada Tuhan yang tak merugi bila tak disembah hamba sepertimu, sepertiku.

--
UTS

Thursday, May 4, 2017

Mungkin memang begini caraku bercerita. Kesan tak menghargai karena aku justru berbagi dengan tulisan dan membagikan pada dunia tentang yang kurasa. Bukan justru padamu yang menunggu cerita hariku.

Tapi itulah aku dan egoku.

Wednesday, May 3, 2017

Merengkuh rindu

Tak ada lagi tangan yang biasa menggenggam.
Tatap lekat penuh kasih.

Tak ada lagi perjuangan untuk nanti.
Tinggal berjuang untuk diri.
Untuk masa depan, bukan hari ini.

Terpisah jarak.
Tak bertemu fisik.
Tak lagi berkomunikasi.

--
Pergi

Tuesday, May 2, 2017

Sekali lagi

Kalau aku boleh cerita dengan clarias yang berenang tak kenal waktu.
Aku mau cerita soal kamu.
Soal kamu yang sering aku curhatkan pada Tuhanku.
Soal kamu yang beri semangat cuma karena lihat foto di hpku.

Kamu marah mungkin.
Karena waktuku kurang untuk beri komunikasi.
Karena lidahku selalu sinis tak pandai beri puji.
Cuma bisa tulis sana sini lalu menyimpan bangga hati.
Atau sekedar bikin draft lalu simpan peluk hingga waktu ketemu nanti.

Tapi.
Kamu.
Berpaling.
Pergi.

Setahumu,
Rinduku mungkin tak semenggebu kamu.
Tapi kamu harus tahu, legam kena terik ini kusiapkan agar kamu nanti tak perlu susah kerja untuk sekedar beli susu.
Atau menahan seguk tangis sembari menahan cibir dari sepupumu.
Mulutku mungkin tak selalu kata rindu.
Tapi lantun doa tak pernah absen selalu kusampaikan pada Tuhanku..
'Semoga kamu jodohku..'

Bilapun tidak.
Aku bangga bisa punya mimpi yang kubangun sendiri.
Untuk bisa punya istri
Juga punya anak nanti..

Hidup tak akan selamanya sulit.
Terima kasih sempat bertahan dan jadi tempat berhenti.
Sekalipun hati sering sesak karena sempit.
Sekalipun akhirnya pergi karena tak kuat menanti.

'Karena kasih tak akan menyakiti', katamu.

--
Selamat pergi, sekali lagi..

Thursday, April 20, 2017

Karena rindu adalah rasa yang jadi penyemangat luar biasa untuk mengejarmu.
Kadang tak perlu aku berkata atau kusampaikan padamu.
Cukup kurasa, dan siapkan masa depanku.
Untukmu.

Harusnya rindu menjadi rasa positif untuk kita.
Tapi bila nyatanya hanya jadi benih curiga, terlebih pemicu saling luka.
Untuk apa aku tak pejam hingga larut malam siapkan pondasi ini.
Untukmu?

Aku tak peduli dengan apa kata mereka tentang tulisanku.
Karena tulisan adalah buah pikir perangkai kata, tiap mereka punya jiwa.
Berlayarlah, karena aku membiarkannya tumbuh dewasa di pikiran masing-masing yang membaca.

Layaknya malam yang meneduhkan.
Hujan yang menenangkan.
Aku bersiap bekerja kembali malam ini.

Sampai jumpa saat kita bertatap muka, Rindu..

always
src: private.

--
tak perlu menggebu. bila rindu, doaku untukmu.

Gendut yang penting sehat

Menggendut!
Gue nggendut cuy, beberapa bulan belakangan gue naik 18kg, dan itu parah! padahal tahun lalu gue masih kuat-kuatnya fitness, jogging, diet karbo, dan lain-lain.
Rutinitas kerja bikin gue gabisa kontrol waktu makan gue. Tapi gue bahagia sih. Yang paling bikin gue bahagia adalah gue bisa aja malem-malem jam 12 bikin mie goreng dua porsi pake nasi! -____-

Ada yang bilang pas badan melebar itu artinya lagi bahagia.. Hmm, lemme think,. bahagia sih iya. Mungkin karena gue seneng dengan kegiatan gue sekarang, ngebangun bisnis gue sendiri! hehe.. Sudah menuju besar dan harus besar, karena banyak yang berharap. Bukan harapan palsu tapi.. hmm

Okelah, gue belum mandi. Cuma lagi kepikiran aja sama perut yang makin maju ini. Yang pada akhirnya orang yang sayang sama gue ga bakal banyak ambil pusing gue gendut apa engga, selama gue sehat dan bahagia.

X

--
'i love people who don't judge other people', Maroon5 - Daylight video clip.

Monday, April 17, 2017

Karena sejenak melepas penat dari rutinitas pekerjaan itu bisa memicu semangat luar biasa.
kita dengan ambisi masing-masing.
Dengan takdir yang berbeda hingga kini, tapi disatukan dalam pertemuan-pertemuan tak terduga.
Aku merindukanmu, sahabat. Dimana aku bisa menyayang tanpa paksaan, menggenggam hangat, tak kurang, tak lebih.

--
dua bulan lagi, ya?
Andai ada yang bisa melukiskan perasaan bertumpuk jadi satu..
Bahagia disertai degup jantung yang mengencang..
Takut, ragu, dan cemburu jadi satu.
Tak mungkin ini jatuh cinta,
karena tak mungkin seberkali-kali ini.

Mungkinkah kamu?
Penghangat kala minus derajat,
Pemberi bara semangat kala jenuh meningkat.

Masih ingat kala 'ku bangun jam 2 pagi hanya untuk mengucap,
'selamat menjalani hari.'?

--
sandar nyaman, kamu.

Tuesday, April 4, 2017

patah hati di negeri orang

Lo tau rasanya patah hati di negeri orang rasanya gimana? Damn, gue masih inget banget rasanya sekalipun patah hatinya udah lewat sekitar 4 tahun yang lalu. Gue juga gangerti kenapa bisa tu rasa patah hati masih aja keinget. 'mungkin belum move on lo cip!', itu sih yang orang bakal bilang ke gue kalo gue cerita soal patah hati ini. Tapi engga juga sih, gue udah lama gila move onnya, selain itu gue jauh lebih bahagia sama gue yang sekarang juga bersyukur ama apa yang gue punya,. Tapi ya itu, patah hati kali yang kemarin itu bener-bener bisa bikin ngebekas. *ceileh*

Setelah gue analisis menggunakan beberapa metode mengenai kenapa patah hati waktu gue di Prancis bisa kambuh sewaktu-waktu, berakhirlah pada beberapa kesimpulan..
1. Gue mungkin beneran suka sama satu sosok yang bikin ketagihan, tapi akhirnya diputusin yang bikin gue gabisa move on.
2. Ada beberapa pemicu yang bikin gue inget lagi sama kondisi ketika gue di Prancis, contohnya aja dengerin lagu yang biasa gue dengerin waktu itu, atau liat-liat ulang foto lama (foto gue di Prancis ya, bukan foto sama mantan. foto sama mantan udah ga ada. eh ada sih, cuma gatau ada dimana).
3. Gue kangen sama kondisi disana, bukan sama patah hatinya. Karena sekalipun disana rasanya total lonely dan susah ngebaur, tapi ya jadi punya semangat buat bertahan hidup, buat struggle buat ngejer apa yang dimau.
4. Kayanya itu aja dulu biar ge kebanyakan analisis.

Oke, dari  kemungkinan kenapa gue bisa inget sama rasanya patah hati sampe sekarang, gue ngerasa kayanya kemungkinan nomor 3 yang paling bisa diterima akal gue. karena gue udah move on bahkan udah sama yang lebih baik saat ini. nomor 2 juga lebih baik dibanding nomor 1 karena memang biasanya gue tiba-tiba inget rasanya sakit hati juga pedih tak berujung waktu tiba-tiba keputer lagu patah hatinya. hahaha.

Yaudahlah, intinya sih, patah hati itu menyenangkan, sekalipun gue gasuka patah hati terus-terusan, tapi ada kalanya lo harus ngeliat ke bawah biar ga nyandung, kan? hehe. Sebenernya tulisannya pengen gue bikin lebih mutu sama enak dibaca, tapi karena keterbatasan waktu yaudahlah sejadinya aja. Maap kalo kurang ngenakin tulisannya, semoga ga bikin orang-orang salah paham. he he he he.

patah hati, semacam persimpangan, dimana pada akhirnya lo harus milih ke arah mana, kan?
img src: pribadi


--
ps. lagi-lagi tulisan ga mutu karena gue lagi dengerin lagu lama
pps. gue bingung mau S3 tahun ini atau tahun depan. :(
ppps. alhamdulillah usaha lancar.

Friday, March 31, 2017

merah jambu

penghujung bulan kita bertemu.
masih dengan senyum yang sama namun hati yang beda.
Tak lagi menggunakan daster, tapi dengan hangat yang sangat tak asing bagiku.

sekilas kita bicara mengenai cerita dulu, kala aku dan kamu masih muda.
pertemanan yang lewati tahun keempat, kita hanya empat kali temu muka, anggap kita bertemu satu tahun satu kali.

sekali lagi, aku kagum.

bukan merah jambu, hari ini kamu serba hitam.
dewasa yang rekah, tertempa masalah.
merantau yang membahagiakan.
aku masih belum puas dengar ceritamu.

Indah yang tak termiliki, bagiku,

aku tak sanggup menatapmu lebih dalam.
Aku takut terjebak lagi dalam tatap mata itu, tak bisa keluar.

rengkuh, genggam, usap.
terima kasih.

kita tak bersama, tapi saling bahagia cerita soal angan, harapan, dan takdir yang begitu lucu.
aku bersama dia, kamu bersamanya.
pun aku lebih berbahagia dengan milikku saat ini.

beberapa menit ternyata cukup mengganti tahun yang berlalu.
kita bukan untuk berpasangan, tapi selalu saling berbagi.
karena sahabat tak akan lekang.

hingga waktunya kita bertemu lagi, cerita perjalanan hidup yang tak tentu.
sampai nanti, merah jambu.

--
ada kalanya dua garis dipertemukan di satu titik untuk bersilangan, bukan sejajar bersama..

Saturday, February 18, 2017

kalo gue bisa ngulang waktu

Pernah kepikir ga sih apa yang bakal lo lakuin kalo bisa ngulang waktu? kalo lo diberi kesempatan memperbaiki kesalahan-kesalahan lo atau balik ke momen-momen paling bahagia yang pernah lo alamin?

Kalo gue sendiri dikasih pertanyaan itu, beberapa hal yang bakal gue jawab malam ini adalah..

Thursday, February 16, 2017

Angin, debur ombak, dan hujan.

FEBRUARI!

Yah, akhirnya gue ngelewatin Januari hanya dengan dua tulisan aja, haha! Sayang banget sebenernya waktunya lewat gitu aja tanpa nulis karena banyak yang pengen gue share, mulai dari ngelewatin tahun baru yang ga ada apa apa, kebodohan gue, rintisan bisnis plus kesibukan gue sekarang ini, sampe cerita ngisi acaranya anak-anak Ikamala. Selain cerita yang ga kesampean, gue juga udah terlanjur mengiyakan permintaan beberapa orang buat mulai nulis lagi (disitu gue merasa bersalah karena belum bisa nepatin omongan. maaf.). Gue kadang menyayangkan cerita-cerita yang ga kerekam disini buat dibaca ulang pas tua nanti. Well, kapasitas ingatan otak yang minim bikin gue gabisa inget semua cerita bodoh yang bikin sadar betapa serunya hidup ini. hehe.

Selain menurunnya intensitas nulis cerita, gue ngerasa makin sedikit nulis tulisan sok puitis (yang terakhir kali gue main ke Semarang jadi bahan cengcengan) atau iseng bikin nada dari tulisan-tulisan gue.  Tapi ya beginilah menjadi 'dewasa', dimana waktu luang makin sempit tersita sama pekerjaan. But hey! seharusnya seimbang kan antara kerja sama main, bukan banyak kerja kurang main? Iyasih, sebenernya mainnya masih banyak, di luar aktivitas ngajar sebagai dosen, waktu gue kepake buat ngerintis bisnis perikanan juga event planner, harapannya sih biar bisa segera mapan, wahaha. Kapan-kapan deh gue ceritain soal ini. 

Wednesday, January 25, 2017

resensi yang gajadi

Gue beberapa waktu lalu abis nonton film yang judulnya "Fucking Berlin", Ceritanya menurut gue seru, berawal dari pemeran utama, Sonja (Svenja Jung) pindah ke Berlin buat kuliah Matematika. Perkuliahan akhinya ngebawa Sonja ke kehidupan baru yang lebih bebas, lebih gemerlap, pokoknya kehidupan kota besar gitu deh.. Setting cerita diambil dalam beberapa waktu, tapi disitu dilukisin kalo Berlin kotanya ramai dan dingin. Gue kebayang gimana rasanya Jerman ketika dingin melanda (bikin pengen kesana lagi, hiks). Balik lagi ke Sonja, di kota barunya Sonja ketemu sama lingkaran pertemanan yang baru, cerita ngebawa Sonja ketemu sama Ladja, cowo yang akhirnya dia sukain. Hmm, kalo diceritain disini bakal ga seru, lebih seru lagi kalo nonton. hehe. penasaran kan? Jadi udah gih nonton aja, pasti bikin gigit-gigit bibir sendiri. *eh

Baiklah, gue minta maaf kalo gajelas ngeresensinya. Bukan karena ga niat. tapi di antara nulis ini gue ga kuat iman ngelawan godaan buat iseng buka file-file lama, seperti kebiasaan gue yang udah-udah. Gue udah gatau lagi sebenernya ini kebiasaan atau jadi hobi, kok gapernah bosen ngeliatin foto-foto lama, dan selalu kegiatan ini bikin gue merindu *halah. Ditambah lagi, gue abis baca blog temen yang isinya bikin kangen jaman dulu gue idup di benua seberang. Ntahlah kenapa selalu pengen balik lagi kesana, mungkin karena gue lagi cape kerja mulu ya, atau mungkin butuh pelukan atau sedikit sandaran hangay.. :| (makin ganyambung)

Oiya, mengenai kehidupan gue sebelum balik ke tanah air, gue pernah cerita (antara satu atau dua tahun yang lalu) kalo gue kehilangan banyak banget file foto bersamaan dengan rusaknya harddisk gue (bahkan harddisknya sampe sekarang masih gue simpen saking sedihnya gue). Banyak banget foto yang ilang, mulai dari gue awal ada di Prancis, main ke Disneyland, ke EuropaPark, jalan-jalan ke beberapa negara sama banyak orang, bahkan file ketika gue sidang kesimpen disana, dan itu keapus.. :( nyezeg bangedd.. :((( Bahkan, kalo disuruh milih mana antara kehilangan mantan sama foto-foto itu, gue lebih rela kehilangan mantan-mantan gue dibanding harus kehilangan file itu. kalo mantan masih bisa dihubungin ulang dengan alasan nanya kabar, kalo file foto yang kehapus gimana coba hubunginnya?? :(((((

Tapi..

Tuesday, January 17, 2017

2017

Halo tahun lalu, maaf membiarkanmu mengusang hampir sepertiga tahun ini, bahkan lebih.
Aku masih dengan aktivitasku mengejar dan membangun mimpi. Mungkin usahaku kurang kuat, aku akan menambahnya lagi.
Mengenai pertemanan, aku sedikit-banyak rindu dengan waktu lalu, momen yang tak mungkin kuulang. Karena, perlahan pasti waktu bergerak menjauh tinggalkan memori, tak mungkin terulangi.
Terhapus dalam beberapa media sosial membuatku paham, manusia berubah. Saling berbagi dan pilih mana yang baik untuk mereka. Mungkin aku tak sebaik aku dulu. Tapi sudahlah, tak masalah, hukum kompetisi hidup dan seleksi alam memang mengharuskan kita memilih ekosistem mana yang paling nyaman, atau setidaknya paling cocok untuk kita tempati. Kata 'dewasa' kini semakin kabur dalam pencariannya. Aku justru lebih bahagia memahami arti 'dewasa' kala aku masih duduk di bangku sekolah.
Aku ternyata sibuk, menopang dan mengejan agar tidak terbawa dalam arus rutinitas. Lingkungan nyatanya memaksaku belajar berenang agar tidak kehabisan napas kala aku tenggelam dan hilang tanpa bekas.
Ah waktu, bagi beberapa kamu penyiksa luar biasa karena terus cambuki kami agar kuat atau sekalian mati. Karena, hidup tak akan mengakui mereka yang lemah dan memilih untuk kalah.

--
Ps. .....

Monday, October 10, 2016

Well, memang beres-beres hal kecil, tapi itu asli berguna banget kalo lo mau mulai sesuatu yang baru. Contohnya aja kalo lo mau move on dari mantan, otomatis lo harus beresin dulu kan hati sama perasaan lo. Atau kalo misalnya kaya yang lagi gue lakuin sekarang, gue pengen banget mulai hidup gue yang baru, mulai lebih rapi, dan nata ke arah yang lebih bener.
Kalo lo nanya, "memang selama ini ga bener, Cip?" ya bakal gue jawab bener-bener aja. Tapi kan sebener-benernya ank kuliahan mau semana sih? Tetep aja kan pengen nyobain nakal-nakal dikit, tetep aja pengen nyobain hal-hal baru, ya bisa dibilang banyak penasarannya kan? (yang masih kuliah mana suaranya???)
Belum lagi proses pendewasaan yang bikin lo keliatan gajelas dan mellow-mellow gitu ketika mau ninggalin  dunia yang gemerlap itu. Bahha. Mungkin kalo bagi orang lain itu hal yang mudah dilakuin, tapi engga buat gue.. Hmm..
Yaudah deh gue mau ngomong banyak soal beresin bengkel, beresin data di laptop, beresin dokumen-dokumen, sampe beresin barang-barang yang dari Semarang sama Prancis. Tapi sekarang gue mesti check up dulu, abis itu baru deh gue beresin laptop lagi. yaudahlah ini akhirnya bakal nambah lagi satu posting gajelas. maafkeun.

Ps. Akhirnya kosan mau dipasang wifi!
Pps. Semoga check upnya hasilnya baik
Ppps. Gue kangen banget sama kuliah!

Saturday, September 24, 2016

Inspiratalk, Universitas Diponegoro 18 September 2016

Beberapa hari yang lalu gue diminta buat jadi pembicara di Undip. Iyaaa, UNDIP! Gue diminta buat ngasih motivasi buat anak-anak barunya. Haha, ternyata masih ada aja anak Undip yang mau gue cuci otaknya (atau gue sesatin lebih tepatny). Gue bersyukur masih dikasih kepercayaan buat ngomong di Almamater gue yang satu ini, mana rasanya udah lama banget gue ga balik Semarang. Jadilah walopun masih sibuk urusan disini, gue sempet-sempetin buat kesana. Taraaaa, ke Semarang aku kan kembaliiii~~ (sambil nyanyi-nyanyi).

foto bareng sebagian kecil peserta dan panitia acara Inspiratalk (source: dokumen pribadi)
Nama acaranya Inspiratalk, yang ngadain temen-temen dari KSA (Kelompok Studi Akuakultur). Isi acaranya ya ngasih motivasi gitu untuk mahasiswa baru biar bisa berprestasi akademik dan non-akademik, bisa sukses dapetin beasiswa, dan juga oke penulisan karya ilmiahnya. Jaman gue mana ada motivasi motivasi beginian. Oiya, Gue bagian motivasi anak-anak barunya buat bisa berprestasi akademik dan non-akademik. Ntah apa prestasi gue sampe mereka minta gue ngomong. Tapi yaudahlah ya yang penting pada seneng gitu. haha. Dan memang rasanya seneng banget bisa sharing ilmu juga pengalaman gue sama mereka. Cuma sayang, gue yang tadinya dapet jatah 2 jam buat cuap-cuap, tapi akhirnya mesti dikurangi karena ternyata pesertanya ada acara. Tapi gimanapun juga, gue coba beri yang maksimal yang bisa gue kasih di waktu yang sempit. Syukurlah pesertanya keliatan seneng sama materi gue, (kalopun ga seneng anggep aja seneng. haha). Tapi berhubung waktunya yang sedikit, ga semua pertanyaan bisa gue jawab, tapi untunglah berkat teknologi masih bisa gue jawab lewat email ataupun pesan pribadi. Oiya siapa tau masih ada yang mau nanya2, silakan komen atau langsung kirim email di cwjati@gmail.com ya. Pasti gue coba jawab dengan sebaik-baiknya. Mungkin beberapa pertanyaan yang masuk juga mau gue masukin di blog ini, gue mau cobain buat nulis artikel! :D

Friday, September 2, 2016

enchant

Aku punya seribu tanya untukmu,
tapi kusimpan
saja hingga nanti kita
bertemu.

Tanpa sehelai
benangpun hati
ini terpaut, saling mengikat tak
mau
lepas..

Bunuh saja
AKU!
bila nyatanya rindu
itu lebih berbisa dari racun
ular.
kamu.

satu per
satu
mengikat rasa dengan
pujaan hati.

kusimpan dulu
di
memori.

--
mendung tak berkesudahan

Saturday, August 27, 2016

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.
udah tujuh tahun lewatnya ternyata lewat dari waktu itu. hampir berkarat lama ga dibuka, mengusang karena lupa, terdistraksi.
Udah lama. Padahal rasanya baru kemarin gue lewatin semua keseruan itu, gimana rasanya dapet almamater baru, ngerasain ngekos itu gimana, perjuangan untuk bisa ngerasain 'pulang' itu apa.

Mulai dari pertama ngerantau, ngerasain namanya upacara penerimaan itu gimana, ospek dan ngospek itu apa bedanya, praktikum dan laporan yang selalu dikeluhin, PKL, KKN, Skripsi, sampe akhirnya lulus dan mulai hilang satu persatu. Mengejar hidup, katanya. 

Mungkin disini cuma gue yang ngerasa gitu. Tapi itulah nyata, pada akhirnya kita dipaksa dewasa. Ntah dewasa karena kesadaran, atau keterpaksaan.
Terpaksa? iya terpaksa. Karena lingkungan mulai terbang satu persatu di kala lo berkhayal dan tenggelam sama keasikan masa lalu.

Ini galaunya lebih parah dari galau putusan sama mantan. lebih parah kalo lagi kangen, terus mulai nulis-nulis, terus mulai keliatan alay, terus diejek, terus mati. bodo.

Buat yang masih kuliah, dinikmatin waktunya, ngeluh sekarang tapi jangan lupa dinikmati masa mudanya, abadiin momen yang banyak, biar nanti bisa rasain rindu masa lalu, sebelum ketemu sama yang namanya kerjaan juga kerasnya hidup. Stay young! (apasih)

--

Adit dan Nana

Kebiasaan gue buat buka-buka file lama kalo cuaca lagi adem pasca ujan romantis begini memang nyusahin. Karena akhirnya bisa gue tebak, gue jadi galau galau gajelas juga kangen...
BAH!
Tapi ya gimana lagi, inilah susahnya jadi cowo melankolis romantis kinyis kinyis kaya gue. Iseng buka foto-foto lama kemudian rindu. Udah ah, keliatan bapernya ntar. Tapi dibalik baper, gue pengen cerita. Sebelumnya gue pengen posting salah satu foto yang ga sengaja gue temuin...

Nana Adit
Okay, mulai..

Inilah foto yang menyebabkan gue pengen nulis-nulis. Ini soal Nana dan Adit, mereka temen gue satu kelas waktu kuliah, dan sahabat gue sampe detik ini.
Yang satu, Ratna Widiastuti, bener bener kaya cabe rawit, karena walaupun keliatannya awet muda, tapi cerewetnya ampun, kalo lagi galak juga ga peduli siapa lawannya bisa ditelen kali sama dia, tapi dibalik itu dia baik banget, baiik bangeettt. Oiya, dia juga personil 9 Naga geng awak waktu kuliah. haha.
Yang satunya lagi, Aditya Setiaji Wibawa, asli Tegal laka laka, punya hobi mainan motor, orangnya tegas, visioner, juga ambisius dalam arti positif. Dia seorang drummer yang syip banget (dulu ngeband bareng sampe bikin lagu juga sama gue, waktu itu gue jadi vokalis ala-ala. he he he), dia pernah jadi ketua organisasi waktu di kuliahan dan juga awardee Beswan Djarum, sodara yang baik banget buat gue karena selalu mau mendengar dan memberi solusi.
Kalo gue ceritain soal dua-duanya disini, gue jamin bisa jadi buku 3 jilid, belum gue merepet baper. Jadi yaudah itu aja intinya.

Na, Dit, apa kalian masih inget, foto ini diambil awal Desember 2009.
Ga berselang lama, kurang dari satu tahun foto diambil, kalian jadian, tepatnya 10 Oktober 2010 (gue juga jadian tapi sama orang lain (cewe juga kok tenang aja), sayang mereka langgeng, gue pacarannya ga genap 3 minggu atau 2 minggu bahkan, damn)..
Dan akhirnya..
Minggu depan kalian akan melangsungkan pernikahan.
Time flies, isn't it? :"

Selamat menikah Adit dan Nana, minggu depan kita ketemu sama yang lainnya di Ragunan (temen sekelas juga tamu undangan maksudnya), semoga akur-akur juga selalu saling mengerti dalam mengarungi hidup. segera ngasih om ponakan ya. hehe. Aamiin.

Selamat berbahagia dan semoga selalu diberkahi dalam kehidupan berumah tangga.

Sincerely,
Cipta

Rindu kembali


Bila suatu
saat aku kembali
merindumu apa
boleh?
ingat ini?

Kilasan masa lalu yang
kukecap dalam momen
yang entah
mengapa
begitu buat ingin aku
kembali

Rintik
Dingin
Rindu

Kamu tahu kan
maksudku?

he he he..

--
Bebas di kosan, bergumul, berdamai dengan waktu.

kita, dulu :)

Friday, August 19, 2016

Ujian skripsi

Pagi ini lucu, ketika kudapati seorang anak didik mengetuk pintu, menyapa dan meminta aku membagi energi pada seperjuangannya. Sepele, tapi berharga. Beruntunglah dia. Karena selain ujian yg akan ditempuh dan gelar yg akan didapat, hari ini ia mendapat bukti bahwa ada yg peduli dan akan berlangsung selamanya. Malu aku bila tak memenuhi pintanya, karena ini hanya susunan kata, sedang dia beri realisasi untuk sahabatnya dan itu butuh usaha.

Jaga dan hargai mereka yg berusaha untukmu. Karena yg mereka beri bukan sekedar materi atau moral. Tapi waktu, yg selalu berlari tak pandang siapapun yg ditinggalkannya. Sahabat itu saudara kandung tak sedarahmu..
-

Kemarin ada mahasiswa minta ucapan untuk temennya yg lagi ujian skripsi..  ucapannya sebagian ga gue tulis disini. Biar aja buat yg ujian. Haha.

Saturday, August 6, 2016

12

Malam ini, sepi.
Di tengah perjalanan ponselku berdering dan kudapati nama yang telah sangat kukenal.
Kamu menyeruak dan berkata telah menemukannya!
Dalam haru bahagia, aku terdiam..
Berputar ulang ingatan selama ini..

Tanpa tatap muka.
Hanya keinginan meledak-ledak.
Disertai janji yang tak tertepati.
Karenanya aku takut berjanji.
Rasa bersalah dan takut mencekamku.

Maaf.
Ntah berapa kali malam ini aku telah memintanya..
Yang mungkin tak pantas kusebut lagi.

Tuhanku.
Terima kasih untuk selalu memberi kebahagiaan tanpa henti.
Jaga dia, senyumnya, juga keluarga kecilnya nanti.
Semoga ridhaMu selalu menyertainya dan mereka yang menyayanginya kelak.

12 tahun..
Jangan berakhir dulu..
Belum cukup rasanya aku mengenalnya.
Belum cukup rasanya aku mendengar dia bercerita.

Ternyata dia selalu ada selama ini.
Jaga dia, Tuhan.

--
12 memang spesial untuk kita..

Tuesday, July 19, 2016

Ah sial, udah Juli aja, udah pertengahan bulan aja, pertengahan tahun bahkan udah lewat.

Friday, July 1, 2016

Bicara

Banyak bicara, bicara banyak.
Tunggu saja suaraku habis, serak.
Kamu akan bertemu aku yang tak sama, dengan pikiran berserak.

Aku bukan malas bercerita, hanya khawatirku bosan melanda.
Kubaca perlahan isimu, sembari menerka, apa tulisannya.
Pembosan.

Sudah lelah hariku, terima kasih untuk sebuah cerita.
Maaf aku lancang.
Selamat malam..

--
Malam ini saja.

Sunday, June 12, 2016

Cerita tentang hanafi

Jadi posisinya gue lagi di barbershop, mau potong rambut ceritanya. Ntah kenapa kebiasaan buruk gue tiap kali mau potong rambut adalah gue parno! Gue parno hasil potong rambutnya ga sesuai sama apa yang gue mau dan gue parno gue makin buruk rupa. syedih. Hal ini karena ada trauma sama cerita masa lalu..

Cerita bermula di kala gue kelas 1 smp.  Itu adalah masa dimana gue masih unyu, menggemaskan, dan aga bandel. Waktu itu gue paling males sama yang namanya potong rambut. Padahal di jaman babang sekolah, anak sekolah negeri gaboleh panjang rambutnya, sedangkan waktu itu gue rambutnya panjang banget sampe kaya pake poni (lebih tepatnya macam guguk pudel gitu sih). Beuh!

Belum lagi waktu itu guru-guru lagi gencar-gencarnya ngadain yang namanya 'RAZIA RAMBUT'!!!! TIDAAKKK! Kebayang kan deg-degannya remaja setengah gaul macam awak yang kucing-kucingan sama guru waktu razia rambut digelar tiba-tiba? Sistem razianya juga ngeri banget. Biasanya diawali dengan pengumuman lewat pengeras suara yang isinya seluruh siswa gaboleh keluar kelas. Ga lama kemudian beberapa guru bakal dateng dengan senyum bahagia sambil bawa gunting! Sontak gue yang adem ayem langsung usaha buat keluar kelas. Kebayang kan lagi enak-enak belajar di kelas tiba-tiba dibawain gunting? Serem! Serem banget! Bahkan menurut gue razia rambut ini lebih serem dibandingin sama razia surat kendaraan bermotor di luar sana.....

Yah kisah pelarian gue yang mirip-mirip sama si Jason di cerita 'Bourne' pun dimulai disana, bedanya adalah gue gondrong sedangkan si Jason rambutnya tipis. Gue masih inget banget dimana gue selalu jadi inceran guru-guru dengan senyum bengus dan gunting di tangan. Jadilah saat razia gue sering ngumpet ntah itu di balik tangga sekolah, pura-pura sakit di uks, belajar di perpustakaan, bahkan pernah ngumpet di kamar mandi sampe digedor-gedor karena disangka boker kelamaan. Dan kaya kata peribahasa 'sepandai-pandainya lo pura-pura boker ya tetep aja ga ada baunya'.

Hingga dalam salah satu percobaan pelarian gue dari razia guru, akhirnya gue ketangkep dengan style menjijikkan itu, gue lalu digiring ke tengah lapangan untuk dipotong bareng preman-preman sekolah yang lain.......
gue yang masih lugu cuma bisa cengengesan aja waktu itu, sambil gelisah.. karena gue akhirnya beneran kebelet boker. Pak Guru pun menggunting beberapa titik rambut di kepala gue dengan senyum kemenangan..

Setelah dicukur di tengah lapangan, guepun pulang ke rumah. Meski miris, gue tetap dengan bangganya lapor sama si mama kalo gue dipotong rambutnya. Si mama cuma iya aja liat anaknya pitak sana sini. Si mama cuma minta gue besoknya buat cukur, 'biar aga rapi' maksudnya. Keesokan harinya diajaklah gue ke salon langganan mama sambil boncengan motor unyu-unyu.

Namun, disitu petaka dimulai..

Sampe sekarang gue masih inget banget muka dan siapa nama lelaki yang motong rambut gue kala itu. Namanya HANAFI! seorang tinggi besar tapi aga lentik (Gue ga bermaksud menyinggung hanafi-hanafi yang lain ya. Ini khusus hanafi yang waktu kelas 1 smp motong rambut gue!).

Dan sekalipun gue bingung, gue coba yakinin diri kalo semua baik baik aja. Si mama bilang buat rapihin rambut gue, guepun mengiyakan dengan senyum takut setengah malu-malu. Belum ilang takut di dada gue? akhirnya dia mulai persiapan nyukur, dia ambil mesin cukur rambut.

ga lama....

sreett!!

WADEFAK!! DOI NYUKUR RAMBUT DI KEPALA GUE GITU AJA!! LANGSUNG ABIS!!! GUE LANGSUNG PUCET!!!

Gue langsung menggigil, serasa kekuatan di sendi-sendi gue luruh. Gue gapunya kekuatan.. gue lemes.... dengan sisa-sisa tenaga gue, gue memberanikan diri ngomong, terjadilah percakapan sebagai berikut..

C : 'MBA! EH MAS! KOK DIABISIINN!!' (Gue sempet gaenak pake kata mba ke hanafi)
H : (dengan lentiknya menjawab) 'eehh, loohh. Bukannya dirapihinn tadi mintanya??'
C : 'DiRAPIHin MBA! BUKAN diABISin! (Kali ini gue udah ga peduli, gue harus tunjukin sisi laki-laki gue!)
H : (dengan polosnya ngejawab) 'ya gimana dong udah terlanjur setengah...'
C : '...........' (hening sesaat terus gue jawab) 'yaudah..'

Ga kerasa gue terus dipotong lalu gue terisak melihat mahkota kepala gue diabisin gitu aja sama si hanafi.. mama sempet nawarin gue buat beli wig kala itu buat nutupin buletnya kepala gue. Tapi gue tolak. Biarlah pengalaman pahit ini jadi pelajaran buat gue.. itulah kenapa gue sampe sekarang pasti cerewet juga pilih-pilih orang kalo lagi potong rambut.. daripada salah potong malah berabe gue.

Yah begitulah cerita gue sama si Hanafi. Ga kerasa gue udah kelar potong rambutnya, dan aga aneh,tapi yaudahlah, belom jadi langganan disini kayanya.. Ah Hanafi, makasih untuk pelajarannya waktu itu.. semoga hidupmu tenang, nak.
Yok ah siap-siap buka puasa..

--
Ps. Hanafi itu sebenernya langganan mama kalo ga salah
Pps. Kali inipun potongnya aga aneh, tapi yaudahlah yg penting ga jelek-jelek banget
Ppps. Gue gasuka pake pomade atau semacamnya, tapi kalo ada yg mau beliin ya gue terima. Mehehe

Tante merah jambu

Ehem, oke beberapa waktu lalu gue ketemu sama seorang tante (gue dulu kenalan sama doi waktu nganterin nyokap ke sebuah kondangan). Pertemuan heboh ini terjadi sekitar siang hari. Waktu itu cuaca di luar lagi panas-panasnya, dan gue memilih untuk ngadem gue di sebuah pusat perbelanjaan sembari liat-liat apa yang gabisa gue beli. Lagi milih-milih baju, datenglah seorang tante. Si tante gayanya (masih) modis abis, dengan gaya khas seorang tante kekinian yang berpendidikan. Percakapan yang terjadi kurang lebih begini:

Tante : "eh nak, lama ya ga ketemu, kurusan ya sekarang?"
Cipta : "ah tante bisa aja (Sambil tersipu-sipu guguk), oiya, sama siapa tant?"
Tante : "hihihi (ketawa khas tante-tante). Beneran kok, makin ganteng sekarang (basa-basi khas tante-tante). tante sama ini nih..."
Si tante kemudian manggil seseorang (masih khas tante-tante) dan JENG JEENGGG!!!

Tiba tiba dateng, 'si merah jambu'!! (Dia pernah gue tulis di blog ini beberapa tahun lalu) Haha. Edan! Makin kece aja tuh anak. Ramahnya ga berubah, sopannya ga berubah. Yang berubah doi sekarang lebih dewasa! Yaiyalah, udah berapa tahun ga ketemu. Yang walaupun beberapa tahun ini komunikasi gue bener-bener ga banyak, tapi hubungan gue masih baik sama mereka, baik anak maupun nyokapnya.

(Sebenernya kalo diceritain bakal panjang, dari dulu juga niat buat nerusin nulis cerita sama anak ini terus publish tapi gapernah jadi, akhirnya cuma jadi draft doang, 'ngebusuk'. Haha. (Lagian nanti kalo gue post ada yang ngambek malah susah. Haha.))

Oiya, ga lama ngobrol, gue lalu diundang nyokapnya ke rumah buat ngobrol-ngobrol. Tapi kali ini soal bisnis. Iyalah, udah gede mah omongannya duit sama akhirat (Bah!). Sayangnya gue ada acara setelahnya, yang bikin gue gabisa. Ya walaupun gue hari itu gabisa, gue bersyukur masih ada yang percaya sama awak buat ngebisnis. Seneng rasanya masih dipercaya. Lagian kalo memang jodoh rezekinya dari sana ya bakal ada jalannya. Hehe.

Kalo ngomongin soal rasa, gue dari awal memang ga ada niat buat jadi semacam siti nurbaya. Dulu waktu dikenalin gue  pengen buat nambah relasi. Nyokapnya baik banget sama gue, si merah jambu juga lucu banget plus sopan (kecenya bonuslah, mayan buat diajak kondangan. hehe). Tapi dibalik itu, ada cerita di belakangnya yang bikin gue trenyuh juga haru melihat perjuangan dan pengorbanan mereka. Berawal dari dikenalin, akhirnya jadi keluarga. Seneng deh.

Ah udah ah kalo dilanjutin ceritanya bisa kemana-mana. Intinya sih sering kita menghakimi seseorang cuma karena denger omongan orang aja, padahal belum tentu itu yang sebenernya. Masing-masing personal punya alasan tertentu melakukan sesuatu, jadi ya coba deh buat lebih bijak dibanding asal omong ternyata salah. Tapi kalo salahnya buat belajar sih gapapa asal jangan keterusan! Haha

Udah dulu ya, mau mandi! Hehe. Terima kasih sudah baca. :3

--
Ps. Beberapa bagian gue sedikit ubah
Pps. Temen gue ada yang masuk tipi!
Ppps. Lebaran bentar lagi! Sisa 3 minggu!

"I didn't know you would love my hug that much. If i know, i would do it earlier, since the first time i saw you."

"Baper?"
"Iya, gue baper bacanya."

--

Saturday, June 11, 2016

Pasca imsak

Hei! Lama ternyata gue ga cuap-cuap. Kebanyakan nulis sok serius yang pada akhirnya bikin gue keliatan galau teyus. Zzz. Padahal aslinya gue selalu bahagia lho! (Amin!).

Oiya, sekarang bulan puasa, sebentar lagi lebaran, iya, lèbaran badannya! Haha. Ah udah ah ga garing. Tapi tetep, selamat berpuasa ya bagi yang menjalankan. Semoga amal ibadahnya diterima. Amin juga! Semoga jodohnya dideketin juga. Amin lagi! Ehehe.

Sebenernya gue pagi ini ngantuk, tapi ntah kenapa pengen aja nulis yang rada segeran gitu biar yg iseng dateng ke blog gue ga bosen. Kalo kemaren gue sempet jaim nulisnya karena status profesi, sekarang bisa lebih santailah, karena lagi digantungin. *lho
Oiya, sebenernya juga gegara semalem ada kenalan yang tiba-tiba menjamah blog ini terus komen ke gue kalo isinya kok sad story sama patah hati. Damn! Segitunya branding gue ya. Padahal aslinya gue ga punya hati loh *eh*. Hatinya udah diambil orang. Mehehe. Segera nikah deh, Cip! Biar pas balik ke rumah ada temen diskusi sama cerita soal apa yang terjadi di kantor. Ga melulu sama Mama, si Mama punya Papa. Haha.

Ah kan jadi nyenggol soal nikah, jadi nyesel gue. Kata tabu satu itu kadang jadi urusan yang lebih sensitip dibanding testpack buat beberapa orang sih. Yaaa, kalo buat babang sih biasa aja, masih woles laahh (mehehehe). Yang penting ya perbaiki diri dulu aja lah, "let us do the best, God will do the rest" kan?

Balik lagi soal temen awak. Setelah dipikir-pikir sih, memang iya kesan tulisannya banyak tentang kesedihan. Ntah karena cerita temen atau liat kondisi sekitar, lalu dateng intuisi, yaudah deh nulis (ceilah, padahal mah memang baper). Etapi serius lho, hidup gue sekarang lagi baik-baik aja (ntah kalo hidup mantan, pastinya lebih bahagia lah yaaaa. HAHAHAHA).

Udah ah, ngantuk. Mau tidur dulu, intinya tulisannya memang kelam-kelam. Nanti deh nulis yang bego-bego lagi, biar ga gampang bosen terus cari alasan buat udahan, kaya mereka yang bilang bakal tahan tapi ujungnya pergi juga. Hahaha. Tar kalo ga ngantuk nulis lagi deh. Semangat hari ini ya! Bhay!

Ps. Jadi manager plus bikin sistem itu ga semudah teorinya.
Pps. Gue pengen deh punya vlog, ada yang mau bantuin? Hehe
Ppps. Euro 2016 Prancis juaranya!!

--
Udah itu aja

Friday, June 10, 2016

Berlayar

Ntah sudah berapa kata kurakit satu persatu untuk kulepas berlayar di laut maya.
Masing-masing anakku terbawa arus dan menemui ribu pasang mata dengan sejuta polah. Ada senyum, cibiran, bahkan paradigma anyar.

Tapi itu bukan peduliku. Toh, menulisku semata pemuasan nafsu. Atas sesak yang banyak kulihat dengar, sebut saja kecewa dan sedih seorang ibu yang tak kunjung mampu beli susu untuk bayinya. Atau raut tak tega seorang ayah yang rasa tak bisa wujudkan keinginan anaknya.

Anggaplah tulisan ini satu sisi lainku, dimana aku bisa bebas bermain kata tanpa perlu menjaga rasa siapa-siapa. Toh ini ruang bebas. Siapapun boleh mengungkapkan, bukan?

Pun demikian, sering aku ingin menulis dengan berpolah. Sayang rasa sering tak sejalan, kata meluncur pada kesempatan aku lelah dan sudah kehabisan amunisi energi. Jadilah aku menulis dengan rasa sisa.

Matilah rasa karena lelah diperas bahagia.
Selamat berlayar, jangan mudah lelah, karena letihmu akan segera terbayar.

--

Monday, June 6, 2016

Teka-teki kita

Teka-tekiku, teka-tekimu.
Bertemu kita tak sengaja dalam sebuah lorong kehidupan, labirin yang tak pernah kita tahu dimana ujung dimana pangkal.
Kamu adalah pemain watak yang luar biasa, bisa membagi waktumu dengan baik untuk dua orang dalam satu rangkai putaran waktu, untunglah satu jauh dan percaya.

Teka-tekimu, teka-tekiku.
Meski hidup ini penuh tanda tanya, aku terlahir dengan logika sementara engkau penuh rasa.
Secara logika, kita akan sulit bersama. Secara rasa, kita tak terpisahkan. Menyebalkan bukan?
Kamu tahu, logikaku mulai bosan berurusan denganmu. Tapi apa peduliku, rasanya masih bahagia saja, meski mungkin terbagi ntah dengan siapa.

Meski demikian, firasat tak pernah dusta. Ia jujur karena tulus. Semakin lama semakin kuat dan terbukti benar adanya.
Rinduku akan hangat persahabatan ternyata lebih jujur dibanding kita. Tersinggungkah kamu?

Wahai seorang gagah berjubah putih berkacamata.
Aku bukanlah seorang prajurit yang siap mati kapanpun kamu butuh, aku adalah seorang raja bagi diriku, yang punya keinginan memakmurkan apa yang aku punya, baik sekarang maupun nantinya.
Aku tak bisa kau minta atau perintah sekehendaknya, apalagi kau bandingkan dengan bidak lainnya yang bisa kau arahkan seenaknya.

Memuja? Mungkin iya.
Tapi tak sepantasnya berbuat semaunya.
Tak ingin mengirim kabar karena mungkin aku bukan dia yang sangat setia. Kami berbeda.
Pikirku lelah, fisik juga. Selamat beristirahat sejenak, malam.

--
Besok aku pikirkan lagi, tapi tidak sekarang.

Friday, June 3, 2016

Romantisme penangkap ikan

Pada akhirnya semua perahu akan melempar sauh untuk berlabuh, seperti halnya manusia dalam perjalanan hidupnya.
Mungkin sesekali jangkar akan diturunkan untuk beristirahat sebentar sebelum memulai perjalanan yang lebih jauh kala layar kembali terkembang. Ah waktu, tiupanmu bak angin menghembus detik tahun begitu cepatnya. Membawaku hampir tersesat dalam samudra kehidupan.
 
Aku serak, karena di sekitarku hanyalah air salin. Tak memuaskan dahaga, justru menyiksa bila ditenggak banyak-banyak.
-

Sunday, May 22, 2016

Rasa ini sesak. Karena aku tahu, kau pantas aku tunggu. Diammu, marahmu, emosi senegatif apapun pasti luruh hanya karena seulas senyum di bibir mungilmu.

Jangan murung. Aku tak ingin merusak harimu. Senyumlah, karena ataupun bukan karenaku. Kamu tahu, senyummu punya energi bahagia untukku.

Rindu, kamu yang paling tahu bagaimana dia menjejal ruang hatiku. Sebagian besar kusimpan sendiri dia dalam tidurku.

Aku tunggu. Karena pulangmu selalu menjadi bagian favoritku.

--
07.13

Habis

Aku berhutang pada tensimeter itu.
Pada kasihmu bagi seorang ibu.
Untuk senyum menyemangatiku.
Yang tak tahu bagaimana aku membalasmu.

Aku malu pada waktu yang tak menentu.
Pada detik yang berlalu.
Emosi yang memuncak selalu.
Dan pada cermin bayang wajahku.

Ratusan kilometer.
Aku kehabisan kata.
--

Diam

Kamu diam?
Tapi aku tahu kamu tidak..
Mungkin kamu hanya ingin mendiamkan.
Diam seraya mencari waktu sendiri dan berbincang dengan diri.

Atau mungkin kamu memang diam?
Mendiamkanku dan cengkrama dengan yang datang.
Kata mereka, intensitas waktu berkurang untuk seseorang akan berbanding terbalik jumlahnya dengan satu sosok yang lebih nyaman.
Mungkin bagimu aku bukan lagi yang paling mahal, jelas aku barang murahan.
Memang.

Diam?
Ini bukan kaliku pertama bertemu dendam.
Paling sebentar lagi diam, kamu lalu mulai cari yang namanya alasan.
Lalu membuka pintu, lantas keluar.
Berdiam, tanpa pamitan.

Aku menunggu dalam diam.
Menerka dan bersabar.
Aku tak terkejut bila kamu hilang, selamanya.
Sudah kodratnya kau yang baik segalanya, tak denganku yang bahkan tak tahu lebihnya apa.
Aku pasti ikhlaskan.

Aku biasa didiamkan.
Ditinggalkan.
Pasti kulepas, tak kutahan.
Dengan diam.
--

Saturday, May 21, 2016

Bayang hitammu mirip dengan kelam laluku, sisi gelapku. Pada akhirnya terang dan gelap berjodoh untuk tak pernah bertemu.

Jangan bodoh dengan yang kau sebut mimpi.

Luruh aku

Aku benci kamu, dengan segala kelebihanmu..
Kamu cerdas, rajin, dan tak kalah penting, kamu mengambil hatiku.
Sayang, aku membencimu kala aku harus lewati detak jam hanya menunggu. Memerhatikan layar kosong, dengan hati penuh. Aku hampir mati.

Aku benci kamu, dengan segala kebaikanmu.
Kikikmu seraya menutup ulas senyum, membuatku kelu. Lama tak kulihat kamu, mungkin kamu sibuk dan berbahagia dalam penat (katamu).
Tapi tak apa, bahagiamu memang terpenting. Terbanglah sesukamu, bila ada sekelebat aku, siapa tahu kamu ingin kembali, aku disini. Selalu di sudut yang sama antara dua garis itu.
Bila ternyata kepakmu terlalu jauh dan buat kamu lupa, jangan hirau aku, karena kebebasan tak bisa dibayar mata uang manapun.

Aku benci kamu, dan jarak.
Antara pulau kita terbagi, Selat Sunda dan baling-baling pesawat. Mungkin ini lancang, tapi aku mau ada bandara dan pelabuhan di sekat jantungmu, jadi aku bisa kesana kapanpun aku mau. Tidur bersama degup yang membuatmu hidup. Aku ingin ada disitu.

Biarkan aku erat memelukmu, rindu.

--

Wednesday, May 18, 2016

Untuk pergi

'Aku terbiasa dengan perpisahan.'
Kata yg terakhir aku terima hari ini, darimu. Ketika kamu kembali bersikukuh untuk pergi, lagi.

Mengapa pergi?


Padahal dirimu persiapanku untuk nanti, sandaran kuat yang kurasa mampu menopang ketika masalah buatku goyah.
Tapi ternyata, bersandarnya akulah yang membuatmu lelah. Keegoisan diriku yang membuatmu berhenti.


Mematung, pertahanan terakhirku luluh, akhirnya terucap persetujuan dirimu pergi.


Sabar, tahan sedikit lagi. Pasti aku akan terbiasa untuk tak lagi menghirup nafasmu, atau sekedar merindukan pelukan selamat pagi.


Kamu sudah terlanjur masuk ke dalam hidupku.
Dan kini kamu meminta kubukakan pintu, untuk pergi..


Terima kasih untuk tidak pergi selama ini..

--
ntah tulisan ini selesai kapan..

Tuesday, May 17, 2016

Commerce, 44000

Hai, sibuk. Terlalu dekatkah aku melihatmu? Karena ternyata lensaku kehilangan fokus dari tak berjarak ini.
Putaran pikiran sekejap menggila karena ide yang berserakan. Penuh, namun acak karenamu.

Mimpiku semalam, kembali padamu. Bertemu dengan sahabat lama dan diberi peluk. Hangat yang terasa nyata dan tak sedingin suhumu.

Izinkan aku suatu saat kembali untuk menghirup udara kebebasan itu. Sekalipun aku harus terkungkung disiplin ilmu, tapi aku bahagia karena aku dipaksa belajar untuk mewarna rasa.

Minus beku menusuk tulang, terik musim panas membakar kulit. Betapa berharga sepotong rendang dan nasi goreng. Berbagi aku di tiap buka mata, sekalipun kesal kala itu tapi saat ini aku sungguh ingin mendekapmu kini. Tak kusadar ternyata kamu menjadi tulisan tak terpupus waktu.

Dua tahun sudah berlalu..
Aku tak sanggup menahan lagi..
Maaf, aku pergi tanpa banyak bercerita soalmu.
Tunggu aku, aku akan kembali dan menyudahi cerita ini..

Thursday, May 12, 2016

Pada akhirnya aku hanya cemas usaha ini runtuh, sisakan kecewa.
Karena langit yang sama tak membiarkan dua doa berbeda.

Saturday, April 2, 2016

Dari seseorang yang patah hati.


Kamu boleh anggap aku sok tahu, atau mungkin tertawa melihatku jatuh kali ini. Tapi percayalah, perasaan ini bukan hal yang kamu mau rasakan kala kamu rasa bahagia.
Biarkan aku meracau sembari kau sangkal sedemikian rupa, toh pada akhirnya aku akan tuli terhadap perkataanmu..

Ntahlah, rasa ini begitu membingungkan, aku tak bisa terima kenyataan yang pelan menancap dalam rasa.
Sesak ya? Mungkin bajumu kesempitan, sudah saatnya ganti baju yang lebih nyaman dan bagus. Sabar, sebentar lagi pasti kau temukan baju baru yang membuat bahagia lagi.

Mungkin kali ini hatimu perlu kau letakkan sebentar, bukan karena kamu takut terbang tinggi. Tapi, tak lelahkan kamu terus-menerus menjahit dan menambal ulang tiap milimeter sobekan di hatimu? Yang setelah baik dan bisa dibumbungkan lagi, maka akan ada yang membidik untuk sekedar mencari puas.
Kasihan..

Puaskan dirimu dahulu, barulah cari cara membahagiakan orang lain.

Mata anak panahnya masih menancap, kubiarkan nanti membusuk, kucabut nanti mati.
Biarlah aku membesarkan paru-paruku sejenak, karena untuk bernapas saja sulit.

--

Friday, February 26, 2016

Pamit

Anggap saja ini rangkai kata dari seorang amatir untukmu terakhir kali, di kisah sebentar kita, dulu.

Kita kuibaratkan apa yang kulihat saat ini. Di meja kerjaku, ada segelas kacang hijau dan segelas kopi ke-empatku. Kacang hijau yang manis dan menyehatkan seperti kau dan hidup yang kau jalani, menyehatkan walau mungkin kadang membuatmu bosan. Sedang kopi hitam tanpa gula yang selalu terasa pahit adalah penggambaranku. Tak perlu kujelaskan mengapa, kau pasti tahu. Kejujuran bagi kopi adalah segala mengenai asam dan pahit, karenanya banyak peminum yang mencampurnya dengan krim atau gula. Pun ada manis dari rasa kopi itu adalah hasil palsu ketertutupannya. Ya, pemanislah yang menutupi rasa asli kopi. Benar-benar aku, bukan?

Saturday, February 20, 2016

'Kita', katamu.

Setetes demi setetes kau isi aku dengan harapan tinggi.
Sebuah asa yang tak pernah aku percayai selama ini.
Dan dengan lugu kuberikan kunci.
Ya, kunci ruang duniaku, taman bermainku pribadi, dimana aku selalu bernyanyi, menangis, memaki sendiri tanpa seorangpun aku bagi.
Namun ternyata bukan mengetuk halus, malah seenaknya saja kau menerobos masuk, meraihku, menarikku ke dalam duniamu, dan menyatukan hati. Apa maumu? Kurang ajar!
Duniaku kini hilang, aku tak lagi sekuat dulu, karena kemanapun aku memandang, berlari, bersandar, selalu ada sosokmu, tawarkan teduh serta langit biru.. aku yang terbiasa sendiri dan memecut sendiri punggungku agar lebih tegak hanya bisa diam dalam belai elus halusmu. Aku luluh lantak!
Beraninya kamu!

Padahal tak pernah aku ingin memberikan barang berhargaku kepada siapapun. Terutama hati.
'Ah, mereka suatu saatpun akan pergi.', pikirku.

Wednesday, February 17, 2016

Bila nanti kamu..

Bila nanti..

Bila nanti kamu sedang mengejar mimpi..
Ketahuilah ada doa dan harapan dari mereka yang menyayangimu. Keinginan yang selalu bertumbuh dalam kemuliaan, untuk menyembuhkan jiwa yang sakit.

Bila nanti kamu sedang mengejar mimpi..
Mungkin tak semudah berlari di jalur halus, karena kamu akan bertemu dengan penat, lelah, dan payah. Jadikan semua sebagai penyemangat, karena banyak letih yang telah terlewati. Kali inipun sama, sulit memang, tapi akan berhasil sempurna pasti.


Bila nanti kamu sedang mengejar mimpi..
Ada kalanya Kamu akan merasa segalanya berat dan akan datang rasa ingin menyerah mati. Bila terjadi, coba sejenak berhenti dan menolehlah ke belakang. Tanyakan pada dirimu, sudah seberapa jauh perjalananmu hingga kini, sudah berapa banyak waktu kamu habiskan untuk sampai di sini? Oleh sebab itu, percayalah, garis itupun sama, tak akan menghalangi.

Sunday, February 14, 2016

Rencana bimbang

Aku ingin jatuh cinta lagi.
Ketika kita bertemu untuk dipertemukan, tersenyum untuk saling memberi ketenangan.

Kalau kau sibuk mencari, kapan kau akan berhenti dan menikmati? Tak penatkah kau berlari?
Beristirahat sejenak, 'kan kurengkuh dengan bahu yang juga letih ini, siapa tahu bisa saling menguatkan.

Jangan berencana untuk pergi, apalagi bercanda dengan kepergian itu, karena itu satu hal yang akan kau sesali nanti..


Tapi bila bertahan, sudahkah kau hitung dengan eksak hingga deret angka terakhir, berapa probabilitas kita bisa bersama? 'Jangan membuang energi.', katanya.

Wangi tubuh serta noda pemoles bibirmu di bajuku sampai sekarang masih aku simpan, mungkin tak akan kucuci hingga nanti ada waktu untuk bertemu. Sama seperti noda yang kau beri pada hati, biar saja hingga kotor, apa peduliku? Toh kunikmati.

Pada saat nanti aku mampu memusatmu, mungkin disitu aku bisa mengejar semua mimpi. Tak menimbang dengan bimbang. Kasihan.

--
Boleh aku kembali menuju 6 tahun lalu?

Friday, February 12, 2016

Berpantang

'Aku ingin pergi sejenak, bolehkah?'

Mengenai kepergian..
Kau pikir itu kata2 yang bisa dijadikan permainan? Atau sekedar lelucon untuk ditertawakan demi menahan nafsu? Ntahlah, karena tiba-tiba aku terhenyak akan kata-kata itu..
Aku sudah cukup bermain-main..

Pergi, pergilah, jangankan sejenak, selamanyapun tak mengapa. Mungkin kesendirian memang kata yang paling dekat dengan hidup, aku lahir sendiri, matipun akan sendiri. Jadi kenapa takut sepi? Bukankah sepi adalah kawan paling setia kala semua pergi?

Itulah sebab aku takut percaya lalu berani bermimpi denganmu. Sekuat itukah kamu menahanku? Sepercaya apa kamu bisa menopang? Bahkan dua kaki ini seringkali goyah menahan pundak juga isi pikiran untuk dibagi.

Pergilah, aku akan terus disini, ketika semua berlalu-lalang dalam lalu lintas perjalanan hidupku.

Lagipula, memalsu senyum adalah keahlianku. Aku akan kembali memejam dan bermimpi. Karena mimpi adalah sebaik-baik tempat untuk sementara bersembunyi.

Tunggu saja, nanti aku akan kembali untuk bangkit, dengan atau tanpamu..

--
'Aku tak bahagia hari ini..'

Wednesday, February 3, 2016

Dia, Si gila!

Aku punya kawan satu yang selalu berhasil membuatku tergelitik menulis dan mengadaptasi, gaya bicara yang selalu enak didengar, juga sikap yang menarik menurutku. Sebut saja dia gila, karena memang apapun yg dikeluarkan dari otaknya kurasa selalu brilian, dengan perspektif yang berbeda, juga caranya menyampaikan yang persuasif.

Jarang aku bisa kagum dengan seseorang. Tapi ntah, sahabatku satu ini memang luar biasa, aku yang katanya bisa hipnotis orang dengan kata-kata saja, selalu berdecak kala dia bicara. Yang pada akhirnya  kujadikan dia saingan berat untuk aku kejar dan kalahkan. Dia tertawa ketika kusampaikan suatu saat akan kulewati dirinya, dan kurang ajarnya hari ini diapun melakukan yang sama! Terbahak waktu aku bilang aku berhutang melewatinya suatu saat, sial! Hey, tunggu saja kau kusalip!


Dia bersahaja, tawa juga cara pandang yang baik selalu dia bagi pada kami. Walau seringkali luput dari perhatian, namun buat kami makin awas pada banyak hal. Berjuta hal dia tularkan padaku, kuanggap itu virus baik untukku. Bagaimana tidak, memperhatikannya saja sudah buatku menggelegak dan ingin lari lagi, apalagi sampai diskusi mengenai perencanaan masa depan.

Rapuh.

Kubersimpuh sekali lagi, karena pagi ini terlalu penuh untuk kulalui. Kutahan bening penyebab kabur pandangan, hati ini sedang lunak-lunaknya mungkin. Aku kehabisan kata, rumit.


Bertengadah aku bercerita.

Tuhan, bila memang subtitusi bahagia Kau perbolehkan, maka gantilah setiap titik sedihnya dengan kebahagiaan yang aku miliki. Tukarkan saja tiap detik lelah juga sakitnya dengan kesehatan dan kekuatan yang aku punya. Biar aku yang menanggung perih dan deritanya, aku siap!

Tuhan, bila memang hari ini Engkau memberikan padaku satu jatah doa untuk Kau kabulkan, maka mohon Kau berikan padanya kemurahan senantiasa, kebahagiaan tak berbatas. Isi harinya dengan spektrum warna tak terhingga, jaga ulas senyumnya selamanya. Beri dan penuhi segala harapan terbaik untuknya, jangan pernah buat ia merasa kecewa.

Tuesday, February 2, 2016

Ini rahasia..

Baru saja kubaca tulisan teman yang isinya, 'persahabatan yang terbatas rasa..'
Pada hakikatnya, rasa berlebih pada manusia adalah anugrah sekaligus bahaya.
Dan sebelum kau banyak bicara, coba sebentar mendekat. Kudekap. Lalu bandingkan hangat mana, aku atau dia? Tentu aku, bukan?

Mari, ikut aku isi waktu. Mungkin kita bisa berjalan di taman atau menikmati beberapa wahana. Jangan tanya aku dengan siapa, karena akupun tak akan peduli kau dengan siapa saat ini. Yang penting, kita.

Sebut saja ini mimpi di siang hari, ketika letih bekerja kita butuh istirahat sejenak dan pejam mata, mencari bunga tidur. Asal tak terjebak dan tak bisa keluar saja. Menghindari nyata.
Ketika cahaya padam, hari berganti, malam panjang, orang asing yang menghampiri. Kita nyenyak bersama.
Aliran deras, canda, dan rasa. Kamu pergi, tak berkabar. Pun nanti kembali ketika saat tiba. Kita saling berhadapan, menunggu kantuk tiba, hingga hilang untuk kedua kalinya, berdua.
Dan malaikat akan pergi, menyatu dalam putih.


Oiya, aku tak tanggung bila rasa makin dalam, ya. Itu urusanmu, juga urusanku, tapi bukan kita. Hati-hati main api bila tak yakin mampu atur distribusi gas kendali nyalanya. Masing-masing, tapi saling jaga. Lucu.

Sstt, ini rahasia kita. bukan dia atau dia.

--
Untuk hati yang lain, aku tak bisa.

Sunday, January 31, 2016

Raindrops

Mungkin, ini akan terasa berat, hingga kamu tak mampu menahannya.
Ya, kamu tahu pasti akan itu.
Setengah berbisik, berujar pelan padaku, 'Rasa seringkali menyakiti..'

Dingin disertai mendung di balik pembatasku dengan rintik air.
Basanya seperti biasa, menyeruak mengacaukan pertahanan logika, membumbunglah rasa.
Aku tertegun.
Kemudian, aku bertanya pada Tuhanku mengenai keyakinan. Bila aku harus yakin pada Tuhanku, bagaimana caraku meyakini rencanaNya kali ini? Saat Dia pertemukanku pada sesuatu yang beda?


Friday, January 29, 2016

Bertembok

Masih saja protes dengan label rasa kita yang bertembok? Berhentilah berpura-pura dan mengatakan semuanya baik-baik saja, dimana ada kata baik kala ada batas antara kita? bagaimana pula cara memadukan dua hal yang tak mungkin tercampur, bagai minyak dan air?


Sudahlah, hentikan kata-kata, 'hai, aku baik, kamu gimana?' milikmu itu. karena mana ada yang baik dari pemaksaan sesuatu?
pikiran ini melayang, memperkirakan apa yang akan terjadi nanti, bagaimana bila ini, apa jadinya bila itu dan lain sebagainya. Berkecamuk. Ha

-

Dan, aku trenyuh saat kamu katakan, 'demi kebaikan, aku akan lakukan.'. Luluh lantak aku merasa bersalah dengan pikiranku, betapa aku memandang segalanya berdasarkan perspektifku. terlalu sering aku menguji, sedangkan pertanyaannya adalah, 'sejauh mana kau suka diuji?'
Aku merasa egoisku keterlaluan, bagaimana mungkin aku bisa keras pada sesuatu yang sangat lembut sepertimu? 

Kamu godaan yang luar biasa! Ntah berapa lama lagi aku mampu bertahan. Pergilah saja, karena aku terlalu takut untuk jatuh lagi, tak berani percaya lagi pada mimpi, karena nyatanya tanah yang keras itu tak pernah membuai.

Aku takut kamu kecewa, lalu pergi. Jangan, ya..

--

Thursday, January 28, 2016

Kepadamu penyejuk hati di pagi hari, aku ingin bangun berkali-kali dan menyadari ada kamu di pagiku. Kumandang adzan yang kudengar setiap hari, kusematkan harap pada tiap lantunan doa yang kita haturkan bersama.

Biarlah rindu ini kutahan dulu, mungkin kita akan bertemu beberapa waktu lagi, mungkin. akan kuperbaiki nantinya.
--

Tuesday, January 26, 2016

Bulan bintang, Palang.

Dan aku selalu iri melihat mereka yang bertemu di saat yang tepat, saling mengisi dan memberi. Saling membanggakan.
Pernah sekali aku lewati itu.. rasa membuncah seperti gelas yang tak pernah penuh sekalipun terus-menerus diisi. Puji dan pembelaan satu sama lain, serta keberhargaan kepemilikan di masing-masing pribadi. Hingga saat dia begitu berani. Keberanian kejujuran diri, meminta untuk berganti, padahal sudah jelas itu adalah harga mati.

...

Lama aku lupa rasa itu, coba tunduk pada garis penuntun, bahwa beda akan menjadi penghalang utama dari sebuah kebiasaan, dari sebuah toleran.
Hingga sekali lagi, aku dipertemukan dengan makhlukMu.


Pun aku tak menerka, genggaman itu mampu berdampak seburuk ini.. Aku retak, perlahan kau kikisi pertahananku hingga batas akhir dalam tempurung rasa yang harusnya hanya satu. Kau buat gamang. padahal aku ingin 'tuk tak lagi jatuh dan/atau tenggelam dalam spektrum rasa pada warna yang berbeda. Dosakah?

Monday, January 25, 2016

Puzzle

Aku menyebutnya puzzle. Membuatmu harus berpikir untuk menyelesaikannya. Memaksamu lebih keras berusaha untuk melengkapinya.

Pun yang aku lakukan saat ini serupa. Mengendap-endap, cemas, berkeringat dingin. Aku seperti maling!

-Rindu dengan segelas 'kopi ngeri' buatan sahabat, dimana ketika selesai membuatnya dia akan berkata, 'Nih Cip, cobain, enak ga?', lalu tersenyum lebar seraya curiga kala 'ku perlahan menyeruputnya.
Rindu momentum, bukan masa lalu. Mungkin suatu saat kita akan bertemu. Ketika tiba waktu itu, aku tagih kembali keahlianmu membuat kopi!-



Teka-teki. Labirin ini menuntunku entah kemana, kususuri perlahan. Aku tahu, pada akhirnya aku pasti akan keluar juga. Entah keluar untuk menang, atau kalah.
Terima kasih untuk senyum yang kau beri pagi ini, tepat ketika aku membuka mata.

--

Sunday, January 24, 2016

Bahak

Dan hujanpun turun.
Menyapa khalayak ramai beradu rindu, mempertajam insting serta kecamuk rasa.

Rintikmu yang disertai bahak langit, seolah meleceh manusia yang masih saja terkungkung dalam gejolak asa.

Kasihan, padahal dia hanya tidak tahu kemana harus berjalan atau kepada siapa harus bersandar.
Mencurah..

Batas titik kering pada basah yang kamu titipkan pada sekecap rindu masa lapang, bahagia yang terlewat.

'Kamu kenapa?', sekalipun ingin pertanyaan itu, dia tak tahu harus menjawab apa. Dia terkurung, antara malu dan tak tahu..

Seraya mengintip kasa. Kulihatnya, lalu lirih aku bersuara, 'logam amalgam, jawab aku..'
Semua diam, bisu, memalingkan muka. Sementara muka ini masih terlihat kebingungan.

Impulsif, atau pikiran berloncatan. Tak beraturan. Schizophrenia, mungkin.

--
'Jangan-jangan kamu kaya pasienku..'

Saturday, January 23, 2016

Jika aku tak merindumu.

Bila aku tak lagi merindumu, maukah kau maafkanku?

Tak apa bukan, bila saat ini tak ada lagi rindu? Tak ada rasa ingin bertemu.
Sedikit aku berbagi, yang tak langsung kepadamu. Mungkin kita
bicarakan nanti ketika kau tanya
aku, "Apakah
Kamu merindukanku?".

Baik, kumulai dengan jujurku, kuharap tak menyinggung atau menyakiti siapapun. Bahwa ada yang sedikit menggangguku.

Bukan aku ingin bersikap tak semestinya bahkan antagonis. Namun ini aku,
Tercermin dari perasaan berdosa yang
Aku coba jujuri..

Aku tak ingin berpanjang lagi.
Tapi benar
memang. Saat ini aku merindumu.
Mungkin karena ada sesuatu, mungkin
karenamu..

--
nya, mungkin.

Thursday, January 21, 2016

Tukang Parkir

Ini post yang harusnya gue publish kemarin, bukan hari ini. Tapi yaudahlah gapapa, walaupun mungkin rasanya kurang greget, minimal bisa tumpah biar plong..

Hmm.. jadi beberapa waktu belakangan ini, gue sering dikunjungin temen-temen, atau sebaliknya, gue yang mengunjungi mereka. Dan biasanya terjadi sedikit kebaperan yang seharusnya ga terjadi. Well, bukan gue namanya kalo ga baperan dan/atau kebanyakan mikir. Eh, gue nulis post kali ini ditemenin lagunya adera yang melewatkanmu, suaranya sebelas dua belas sama gue, mirip mirip gitu. Lagunya sengaja gue puter biar bisa lebih menghayati proses penulisan post. Yah yaudahlah ini gue udah makin baper, ntar ga selesai ceritanya..

Oke, tadi sampe mana? *scroll*
oh iya kunjungan.. ntah kenapa gue selalu rasa sedih dipenghujung kunjung-kungjungan ini, yang kadang sampe lebe. Contohnya aja kmrn, jadi ada beberapa temen yg mampir kesini buat liburan. Gue sebagai temen yg baik pastilah nyempetin buat ketemu mereka dong.. maka, terjadilah pertemuan yang singkat namun memberikan ilmu baru mengenai laut dan pantai dan isinya dan semuanya deh. Singkat cerita, ketemunya mmg cuma sehari dan ga lama. Tapi apa yg gue dapet bikin gue seneng. In the end of story, merekapun pulang ke asal, di hari kepulangan, gue jg sempetin nganter ke stasiun, kebetulan stasiunnya deket bgt drai rumah gue, gasampe 7menit.

Di stasiun, Mereka kembali dengan riang ketawa cerita soal pengalaman dan ga ketinggalan foto-foto, sementara gue mengantar dengan senyum hambar.. ntah kenapa kalo abis disambangin terus yg nyambangin pulang, rasanya ada yang hilang aja.. mereka pulang dengan bahagia, guenya sedih sendiri. Aneh..

Hal ini bikin gue mikir, apa yang terjadi dengan seorang gue, kenapa gue lemah? kenapa gue sedih? Kenapa gue selalu laper dan pengen banyak makan?? Eh sorry, itu beda cerita..

Lalu, gue inget sama tukang parkir dan tiba-tiba ngerasa gue harusnya sama kaya para tukang parkir itu. Yang selalu disinggahi sebentar mobil atau kendaraan lainnya yang bagus bagus, tapi selalu ikhlas waktu mobil mobil itu pergi. Kendaraan banyak tapi ga pernah masalah ditinggal pergi.. gue harusnya kaya gitu.. harusnya biasa aja ketika ada yang datang dan pergi, ikhlasin aja..

Well, Itu aja sih yang mau gue share kali ini. Sering kita ngerasa sedih ketika ada yang pergi, mungkin karena kita gatau bisa atau engga ngerasain kebahagiaan gtu lagi, kesempatan selanjutnya untuk bertemu, dan lain sebagainya. padahal kenapa mesti sedih? Toh semuanya udah ada yang ngatur kan?

Lagian, kalo memang ga memiliki, kenapa harus sedih ketika sesuatu itu pergi? Kaya tukang parkir..

Udah ah, gue mau lanjut ngegame sama chatting dulu. Makasih udah baca. Xoxo *biar anget*
--
Gapunya, jadi gaboleh sedih